Pelatuk Klep Modern Vs Konvensional

Sudah banyak teknologi dibikin pabrikan motor untuk efisiensi gesekan. Salah satunya, rocker-arm atawa lebih familiar disebut pelatuk klep. Tiga model penggerak untuk menaik-turunkan batang klep ditawarkan. Model konvensional, roll rocker-arm dan sim.

vs1-1

Endro Sutarno. Setiap model punya kelebihan

“Banyak kelebihan diaplikasi pada setiap modelnya,” bilang Endro Sutarno, Training Instruktur, PT Astra Honda Motor (AHM). Nah, untuk yang disebut pertama, part ini umum diaplikasi di motor massal.

Lalu, pengembangan mulai berlanjut ke arah pelatuk model roll rocker-arm atau disebut sistem roller. Contoh diaplikasi di Honda Karisma. Lalu, adalagi tipe sim klep. Model ini diaplikasi di Honda CBR150 atau Suzuki Satria F-150 atau Kawasaki Ninja 250.

Seperti disebut di atas, pastinya ada kelebihan yang dibawa setiap teknologi terbaru atau setiap inovasi. Penasaran dengan keunggulannya? Mari!

Untung-Rugi Model

Pastinya model terbaru punya kelebihan ketimbang konvensional. Model roller punya kelebihan meminimkan gesekan yang terjadi. Beda dengan pelatuk konvensional yang punya daya friksi sangat tinggi. Itu karena model roller punya part penekan kem berdimensi bola bearing.

Begitunya ketika noken-as berputar menekan pelatuk, maka friksi yang dialami noken-as dan pelatuk jadi minim. “Dan juga, pelatuk lebih ringan dan mudah digerakan,” ungkap Endro yang murah senyum.

Hal ini sangat berbeda dengan tipe konvensional yang berbentuk layaknya sepatu. Ketika kem menekan pelatuk, daya gesek yang dialami lebih hebat. Apalagi, ketika kem sudah mengalami modifikasi di bubungan. Hasilnya kem tidak rata, dengan model roller bisa diatasi.

“Kalau bicara model pelatuk, tentu akan lebih efisien model roller,” tambah Akiang, salah satu mekanik tim Honda Banten Federal Oil yang memakai Honda Supra X 125 buat balap. Itu juga berlaku di balap. Bukan motor harian.

vs1-2

Model roller, efisien BBM dan panas mesin

Itu karena model pelatuk roller lebih bersifat mampu mengurangi panas di kepala silinder. Dengan kemampuan itu, tentu mesin nggak gampang overheat. “Apalagi, nggak perlu khawatir kalau oli mesin di kepala silinder berkurang. Kan, panas dan friksi nggak seperti pelatuk biasa,” sebut mekanik yang juga jago bikin klep lebar ini.

Minimnya friksi juga dimiliki pelatuk model sim. “Selain nggak pakai baut dan mur buat penyetel batang klep, kinerjanya juga lebih stabil. Itu karena sim ada di tengah per,” tambah Rainer M. Sitorus, Manajer Teknik PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI).

Makanya teknologi model seperti ini, menurut Rainer banyak diaplikasi di motor kapasitas besar. Macam Kawasaki Ninja 250. Keuntungan lainnya model roller dan sim, nggak cuma nawarin minim panas dan friksi.

Selain usia komponen lebih awet, juga ada pengaruh lain. Pengaruh pada konsumsi bensin. “Tentunya konsumsinya lebih sedikit,” kata Endro lagi. TF: 1. Model roller, efisien BBM dan panas mesin

Setelan Kerenggangan

Bicara kerenggangan klep, umumnya pelatuk klep model roller dan sim bisa lebih rapat ketimbang konvensional. “Tapi, seberapa besar kerenggangannya tergantung dari spek mesin,” bilang Rainer.

vs2-1

Sim punya model lebih kecil

vs2-2

Setelan klep jangan rapat

Oh ya! Sekadar masukan! Ketika melakukan penyetelan klep, baiknya jangan terlalu rapat. Itu karena ketika mesin panas, baut dan mur penyetel bakal memuai. Karena pemuaian, jika terlalu rapat, maka baut itu bakal menekan lebih ke batang klep.

“Jika dibiarkan, akan berakibat kebocoran kompresi,” bilang Endro. Akhirnya selain kompresi, usia pakai komponen juga bakal berkurang dan boros BBM.

Sistem Kerja Pelatuk

Namanya pelatuk klep, pastinya bekerja setelah digerakan oleh bumbungan noken-as. Ketika kem berputar, rocker-arm bakal mengikuti kinerjanya. Yaitu, naik-turun menekan batang klep.

“Hal, ini terjadi di semua model pelatuk klep. Baik itu konvensional atau di sistem model roller dan sim klep,” kata Endro yang berkantor di Astra Honda Training Center (AHTC) Sunter, Jakarta Utara. I

tu artinya, klep bergerak tergantung dari putaran kem. Tapi, untuk model konvensional atau roller biasanya diaplikasi di motor bertipe mesin SOHC (Single Overhead Chamshaft). Sedang model sim klep, banyak diaplikasi di motor tipe mesin DOHC (Double Overhead Chamshaft).

Khusus model sim yang bukan Surat Izin Mengemudi, bentuk part tidak lagi seperti pelatuk. Melainkan, seperti pil obat (bulat) yang dilindungi topi sim. Sim ini ada di ujung batang klep di tengah per klep. Nantinya, bakal menekan batang klep begitu topi klep ditekan noken-as.

Untuk mengatur celah klep, biasanya dengan mengganti sim ini pakai ukuran beda. Kalau mau lebih rapat pakai sim yang tebal.

Penulis/Foto: Eka/GT
otomotifnet.com

About these ads
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: