Mengenal si Racun Dunia

Negara beriklim tropis seperti Indonesia merupakan tempat ideal bagi jamur untuk tumbuh. Yang mengkhawatirkan, jamur-jamur ini dapat mengandung racun yang berbahaya. Penanganan yang buruk selama masa panen maupun setelah panen sangat mungkin menyuburkan tumbuh kembangnya aflatoksin, yang sering ditemukan menginfeksi tanaman jenis kacang-kacangan, biji-bijian, dan jagung.

Dari sekian banyak jenis mikotoksin (racun dari jamur) yang telah ditemukan, aflatoksin merupakan mikotoksin yang paling banyak dijumpai di dunia dan mempunyai efek toksik yang lebih tinggi dari mikotoksin lainnya. Kontaminasi mikotoksin tidak hanya berakibat menurunnya kualitas bahan pangan sehingga mempengaruhi nilai ekonomis, tetapi juga membahayakan kesehatan manusia dan hewan. Cemaran aflatoksin dan metabolitnya dapat muncul pada produk ternak seperti susu, telur dan daging ayam. Pada beberapa pasien kanker hati, aflatoksin terdeteksi pada contoh hati dari pasien tersebut dalam konsentrasi yang membahayakan akibat mengkonsumsi oncom, kacang goreng, bumbu kacang, kecap dan ikan asin yang terkontaminasi.

Kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembaban, sangat berperan dalam munculnya kontaminasi aflatoksin. Aflatoksin dapat dihasilkan dari jagung, gandum, dan kacang kedelai yang disimpan di tempat dengan kelembaban yang relatif tinggi dengan suhu sedang. Aflatoksin dapat tumbuh pada bahan makanan ternak atau zat-zat makanan apabila suhu antara 10o C dan 38oC, dengan suhu optimal untuk pertumbuhannya sekitar 21oC. Selain itu, aflatoksin dapat tumbuh pada kandungan air mencapai sekitar 13 sampai 14 persen dengan kelembaban relatif di atas 50 persen.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan aflatoksin sebagai karsinogenik gol 1A. Selain bersifat hepatotoksik dan mutagenik, aflatoksin juga bersifat immunosupresif yang dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh. Efeknya bersifat kumulatif sehingga tidak dapat dirasakan dalam waktu singkat. Selain itu, kontaminasi pada makanan tidak mudah terdeteksi kecuali dengan melakukan analisa laboratorium.

Aspergillus flavus sebagai penghasil utama aflatoksin umumnya hanya memproduksi aflatoksin B1 dan B2 (AFB1 dan AFB2) Sedangkan A. parasiticus memproduksi AFB1, AFB2, AFG1, dan AFG2. Di antara keempat jenis aflatoksin tersebut AFB1 memiliki efek toksik yang paling tinggi. Aflatoksin berasal dari kata Aspergillus flavus dan toksin. Toksin ini pertama kali diketahui berasal dari kapang Aspergillus flavus yang berhasil diisolasi pada tahun 1960.

Sebuah hasil penelitian tim peneliti dari UGM yang disampaikan dalam sebuah seminar internasional yang dilangsungkan di Yogyakarta pada Mei 2007 lalu memberikan hasil pemeriksaan aflatoksin pada pakan ternak dan susu. Hasil penelitian menunjukkan adanya cemaran aflatoksin pada pakan ternak yang melebihi kadar batas toleransi yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan. Selain itu ditemukan kontaminasi aflatoksin pada susu melebihi batas cemaran menurut Codex Alimentarius yakni sebesar 50 ng/mL.

Banyaknya peredaran pangan yang tidak memenuhi syarat menyebabkan masyarakat perlu mengetahui bahaya-bahaya akibat pangan yang terkontaminasi bakteri, kapang, jamur dan lain-lain. Untuk mencapai tujuan keamanan pangan, pengawasan makanan harus dilakukan oleh pemerintah, produsen dan masyarakat sendiri sebagai pengguna akhir.

Referensi :

  • Website Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (http://mekanisasi.litbang.deptan.go.id)
  • Orasi Ilmiah Prof.Dr.Ir.Hj Saharibanong, Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin
  • Prosiding International Conferences of Chemical Sciences 2007

Fajar Ramadhitya Putera – netsains.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: