Strategi: UnderEstimate & OverEstimate

Kondisi lalu lintas khususnya di kota-kota besar sudah mulai padat dan bahkan sangat padat. Kemacetan tidak bisa dihindari pada jam-jam tertentu, pembangunan infrastruktur pendukung sarana transportasi maupun galian kabel turut memperparah kemacetan.

Kebetulan cukup lama saya mengikuti beberapa milis otomotif baik milis beberapa klub mobil maupun beberapa klub motor Indonesia. Pada umumnya klub mobil mengeluhkan tidak disiplinnya mayoritas pengendara roda dua sekalipun dalam kondisi seperti itu.

Selap-selip, tidak mau mengalah, melanggar rambu-rambu dan lain-lain. Sebaliknya pada umumnya klub motorpun juga mengeluhkan pengendara mobil yang seenaknya saja berbelok tanpa lampu sign, menutup jalur ruang gerak motor saat lalu lintas padat atau di jalan sempit, sehingga membuat antrian motor tidak beraturan dan terlihat berjejal-jejal.

Emosi pengendara mobil maupun motor seringkali terpancing hingga memperkeruh keadaan, saling menyalahkan, tidak mau mengalah, merasa benar, dan sebagainya. Menurut saya, kita tidak bisa merubah sikap sekian banyak orang yang ada di jalan. Berbagai latar belakang budaya, pendidikan, pola pikir, mentalitas dan sebagainya membuat kita untuk perlu berpikir alternatif; Yaitu bersabar, mengalah, dan selalu berpikiran jernih, yang tentunya dimulai dari diri kita sendiri.

Saya coba sharing strategi sederhana, yang dapat membantu kita untuk mengerti dan mensiasati keadaan agar selamat dan terhindar dari kecelakaan di jalan. Yaitu strategi: UnderEstimate dan OverEstimate.

Strategi: UNDER-estimate

Strategi ini lebih kepada safety:

1. Saat kita akan menyalip kendaraan lain di depan kita:

  • Anggap bahwa pengemudi di depan kita tidak mengetahui kita akan menyalip, sehingga kita perlu memberi tanda berupa lampu beam atau klakson pendek dan menyalakan lampu sign sebelum menyalip, hingga dia tau kalau kita akan menyalipnya.

2. Saat akan pindah jalur:

  • Anggap bahwa sekitar kita tidak mengetahui kita akan berpindah jalur, sehingga kita perlu melihat situasi di belakang kita melalui kaca spion sebelum berniat pindah jalur dan menyalakan lampu sign
  • Jika terdengar ada suara motor / mobil dengan kecepatan tinggi di belakang kita, anggap bahwa dia tidak tau kalau kita akan pindah jalur, sehingga dengan sign menyala kita perlu memberi kesempatan terlebih dahulu pada mobil/motor kencang tersebut, hingga kita aman untuk pindah jalur.

3. Saat akan melakukan pengereman mendadak:

  • Anggap bahwa sistem rem mobil / motor di belakang kita tidak bagus, sehingga kita perlu membantu memberi jarak pengereman kepada pengendara di belakang sehingga aman untuk mobil/motor kita. Penting untuk selalu memperhatikan spion sebelum melakukan pengereman mendadak (perlu dilatih hingga bisa refleks).
  • Jika benar-benar pengereman sangat mendadak, anggap bahwa mobil/motor di belakang tidak mengetahui bahwa kita melakukan pengereman mendadak tersebut, sehingga kita perlu untuk melakukan pengereman mendadak disertai membunyikan klakson agar pengendara di belakang mengetahui kondisi darurat tersebut.

Note: terkadang kita menemukan pengemudi yang kesal, kemudian melakukan rem mendadak untuk mengejutkan pengemudi di belakangnya, ini contoh yang berbahaya baik untuk dirinya dan orang lain.

4. Saat melewati pertigaan/perempatan sepi:

  • Anggap banyak pengemudi yang tidak hati-hati, sehingga kita perlu memberi tanda sebelum lewat berupa lampu beam atau bunyi klakson pendek.

5. Saat akan melewati pintu perlintasan kereta api:

  • Anggap ada masalah dengan sistem alarm/peringatan pintu kereta, sehingga biasakan untuk mengecilkan/mematikan soundsystem dan membuka sedikit kaca pintu agar kita bisa mendengar suara dari luar.

6. Saat akan memasuki tikungan sempit:

  • Apabila kita sedang mengendarai motor, saat memasuki tikungan yang sempit, hindari menyalip dari sisi dalam tikungan. Anggap mobil atau motor yang kita akan dahului tidak mengetahui keberadaan kita atau mobil atau motor tersebut berbelok tajam (seperti formula-1 mengikuti ‘racing line’).

Strategi: OVER-estimate

Strategi ini lebih kepada usaha untuk mengalah:

  1. Saat diintimidasi, dipancing untuk diajak kebut-kebutan, anggaplah mobil/motor dia lebih hebat, bermesin turbo, berteknologi canggih, dsb, sehingga kita tidak terbawa ajakan tersebut. (saat ini banyak mobil berpenampilan standard, tetapi sangat powerful dan kencang)
  2. Saat kita sedang berakselerasi, dan ada kendaraan lain yang bersebelahan, juga berakselerasi, anggap mobil/motor dia lebih hebat, bermesin turbo, berteknologi canggih, dsb, sehingga kita memberi kesempatan baginya untuk jalan lebih dulu.
  3. Saat ada motor/mobil yang ugal-ugalan di belakang dan terlihat/terdengar akan menyusul kita, anggaplah dia pengemudi hebat yang butuh konsentrasi penuh, sehingga sebaiknya kita tidak membuat gerakan yang tiba-tiba yang bisa membahayakan kita sendiri sembari memberinya jalan.
  4. Saat dalam kecepatan tinggi, umumnya di jalan tol. Anggaplah sistem rem mobil/motor di depan kita sangat baik dan sangat pakem, sementara punya kita butuh jarak rem yang panjang. Maka kita perlu untuk menjaga jarak aman agar dapat melakukan pengereman yang baik apabila mobil/motor depan rem mendadak.
  5. Saat akan menyalip mobil/motor, kemudian dari arah berlawanan ada mobil/motor. Anggaplah mobil/motor yang berlawanan tersebut berkecepatan tinggi dan tidak akan mengalah/memberi jalan, sehingga sebaiknya kita tunda dulu menyalip mobil/motor didepan kita.
  6. Mobil / Motor yang tergesa-gesa. Anggaplah dia sedang ada kepentingan yang mendesak, beri jalan.

Note: sebaiknya jika kita dalam kondisi mendesak/darurat, nyalakan lampu beam, hazard, dan lampu kabin (interior). saat akan berbelok matikan sejenak hazard dan nyalakan sign agar pengemudi lain mengetahui arah gerakan kita.

Demikian sharing dari saya, mohon ditambahkan apabila ada yang belum tertulis di atas pada form komentar, yang nantinya akan terus saya tambahkan jika sesuai dan perlu.

Kembali saya ulangi bahwa tidak bisa merubah sikap sekian banyak orang yang ada di jalan. Berbagai latar belakang budaya, pendidikan, pola pikir, mentalitas dan sebagainya membuat kita untuk perlu berpikir alternatif; Yaitu bersabar, mengalah, dan selalu berpikiran jernih, yang tentunya dimulai dari diri kita sendiri.

Semoga bermanfaat.

saft7.com

%d bloggers like this: