Mencegah ”Laptop” Terbakar dengan Baterai Tahan Panas

Kabar baik bagi pengguna komputer jinjing alias laptop, Matsushita meluncurkan baterai laptop yang tidak berisiko terbakar akibat terlalu lama digunakan. Ini sebuah terobosan setelah kasus kebakaran baterai pada sejumlah komputer jinjing belum lama ini.

Masih ingat betapa Sony merugi saat harus menarik produk baterai laptop-nya beberapa bulan lalu? Bukan hanya Sony, Sanyo dan Matsushita harus melakukan langkah serupa akibat kasus kebakaran yang diderita banyak pengguna. Baterai-baterai itu mengalami overheating alias panas yang teramat sangat sehingga memicu kebakaran fatal.

Akibat pengalaman buruk itu, Matsushita mengembangkan baterai ion lithium yang diharap dapat mencegah kecelakaan serupa. Perusahaan Jepang itu menambahkan lapisan penahan panas pada produk teranyarnya yang diharap dapat segera dipasarkan.

Perusahaan yang terkenal dengan merek dagang Panasonic itu akan meluncurkan lima juta unit baterai setiap bulan, diawali dengan produksi massal pada April tahun depan.

Tahun ini, kasus terbakarnya baterai laptop cukup menghebohkan. Adalah laptop Dell yang menderita keluhan dari sejumlah penggunanya akibat baterai laptop-nya rentan terbakar. Sel-sel baterai Dell diproduksi oleh Sony. Akibatnya, mereka harus menarik sekitar 4,1 juta unit baterainya dari pasaran.

Menurut juru bicara Matsushita Battery Industrial seperti yang dikutip BBC News, lapisan penahan panas pada baterai ion lithiumnya terbuat dari oksida metal yang diletakkan pada permukaan elektroda-elektroda.

Saat ini, dengan peningkatan performa prosesor, komputer jinjing kian membutuhkan sumber energi yang memadai. Diperlukan baterai-baterap dengan kapasitas energi yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Selain memproduksi baterai laptop, Matsushita juga mengebangkan baterai untuk telepon selular (ponsel). Setidaknya mereka sudah menghasilkan 15 juta baterai laptop dan 10 juta untuk ponsel. Perusahaan ini menguasai 13 persen dari pangsa pasar baterai ion lithium dunia, berkompetisi dengan Sanyo, Sony dan Samsung.

Saat ini, semua manufaktur baterai tengah berusaha keras untuk mengebangkan teknologi yang membuat baterai lebih aman. Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE), badan yang menetapkan aturan teknologi bagi baterai akan segera membuat standar baru bagi baterai laptop akhir tahun ini juga. Berdasar catatan Consumer Product Safety Commission (CPSC), ada 339 kasus overheating pada baterai laptop dan ponsel.

Sepanjang tahun ini, Sony mengesampingkan profitnya sebesar 51 miliar yen Jepang atau 429 juta dolar AS demi menarik semua baterai laptopnya dari pasaran. Produsen komputer seperti Dell, Apple, Toshiba, Fujitsu, Hitachi dan Lenovo mau tak mau juga harus menarik sekitar delapan juta unit baterai laptopnya yang kebetulan diproduksi Sony. (mer)

sinarharapan.co.id

%d bloggers like this: