Mukaddimah Riyadhus Shalihin

Penulis: Al Imam An Nawawi Rahimahullah ( Diterjemahkan oleh Al Ustadz Muh. Ar Rifa’i)

Mukoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah Yang Maha Esa Lagi Perkasa, Yang Maha Mulia Lagi Pengampun Dosa, Yang Menyelimutkan malam pada siang, sebagai peringatan bagi orang-orang yang memiliki hati dan nalar, dan sebagai wawasan bagi yang memiliki akal dan pikiran. Dia Yang Menyadarkan orang-orang yang telah dipilih-Nya, sehingga mereka bersikap zuhud dalam kehidupan ini, menybukkan diri dengan muraqabah terhadap Allah dan melestarikan perenungan, dzikir dan pengambilan pelajaran. Dia yang telah menuntun mereka untuk selalu taat, bersiap-siap menyongsong kehidupan abadi, waspada terhadap segala yang mendatangkan murka-Nya dan yang menyeret ke dalam neraka serta tetap beristiqomah sekalipun kondisi berubah dan situasi berganti arah.

Saya memujinya dengan pujian yang paling tinggi lagi suci, dan yang paling luas lagi berkembang. Saya bersaksi bahka tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Yang Maha Baik dan Mulia, Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan saya bersaksi bahwa Sayyid kita Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, kesayangan dan kekasih-Nya, penunjuk jalan yang lurus dan penyeru kepada agama yang hanif. Semoga sholawat dan salam-Nya tetap tercurah kepadanya dan kepada seluruh para Nabi, kepada keluarganya masing-masing dan semua orang-orang shalih.

Amma ba’du,

Allah berfirman yang artinya:

“Dan aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah Aku. Aku tidak menginginkan rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.” (Adz Dzari’at:56-57).

Ini adalah peringatan bahwa mereka diciptakan hanya untuk mengabdi kepada-Nya. Maka sudah semestinya mereka memperhatikan tujuan mereka diciptakan karenanya dan berpaling dari isi dunia dengan sikap zuhudnya. Dunia adlah kampong halaman yang hancur bukan tempat yang abadi, dia adalah jembatan untuk melintas bukan tempat persinggahan yang sejati. Dia adalah jalan penghubung bukan tempat tinggal yang hakiki. Oleh karena itu orang-orang yang paling berakal didalamnya adalah para zahid (yang mengutamakan akhirat atas dunia), Allah berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanaman-tanaman bumi, diantaranya ada yang dimakan manusia dan bintanag ternak. Hingga apabila bumi ini telah sempurna keindahannya, dan memakai pula (perhiasannya), dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami diwaktu malam dan siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanaman-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir.”(Yunus :24)

Dan ayat-ayat yang semakna dengan ini banyak. Sungguh telah berbuat baik orang yang mengatakan:

إِنَّ ِللهِ عَـباَداً فُـطَـناً طَلَّـقُوا الدُّنْـيَا وَخَافُوا اْلفِتَنَا
نَظَرُوا فِيهَا فَلَمَّا عَلِمُوا أَنَّـهَا لَيسَـتْ لِحَيِّ وَطَـنَا
جَعَـلُوْ هَا لُجَّةً وَاتَّخَذُوا صَالِحَ اْلأعْمَـالِ فِيْهَا سُفُنَا

Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdik,
Mereka mencari dunia dan takut kepada fitnah
Mereka memperhatikan isi dunia, maka tatkala mereka mengetahui
Bahwa dunia bukanlah tanah air bagi yang hidup
Mereka menjadikannya sebagai samudera dan
Menjadikan amal sholeh sebagai bahtera.

Jika keberadaan dunia adalah seperti apa yang telah saya kemukakan tadi, dan status kita serta tujuan kita diciptakan adalah seperti apa yang saya jelaskan diatas, maka sudah semestinya bagi setiap mukallaf untuk membawa dirinya kejalan orang-orang pilihan dan menapaki jalan orang-orang yang memiliki akal, nalar, dan pikiran, bersiap-siap menghadapi apa yang telah saya sebutkan dan memperhatikan apa yang telah saya peringatkan. Cara yang paling benar dan jalan yang paling lurus itu adalah menghias diri dengan hadits-hadits yang shahih dari Nabi kita penghulu orang-orang terdahulu dan orang-orang yang dating kemudian. Semoga shalawat dan salam-Nya tercurah kepadanya dan kepada seluruh Nabi. Allah berfirman, artinya: “Dan tolong menolonglah kamu untuk kebaikan dan taqwa.” (Al Maaidah : 2).

Dan telah shahih dari Nabi bahwa beliau bersabda:

وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ

“Dan Allah pasti menolong seorang hamba, selagi hamba itu mau menolong saudaranya”. (Saya katakana: ini adalah potongan hadits yang akan hadir dalam kitab ini dengan No. 250)

Dan beliau bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَا عِلِهِ

“Barangsiapa menunjukkan kepada satu kebaikan maka baginya adalah seperti pahala pelakunya” (H.R Muslim, Abu Daud dan lain-lain, akan hadir dengan No. 178. hadits ini ditakhrij dalam Ash Shahihah (863) dan Zhilal Al-Jannah fi Takhrij As-Sunnah(113).

Dan beliau bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِ هِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang mengajak kepada sebuah petunjuk maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya yang demikian itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (H.R Muslim dan lain-lain, hadir dengan nomor 179)

Beliau bersabda kepada Ali :

فَوَ اللهِ ِلأَنْ يِهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النِّعَمِ

“Demi Allah, seandainya Allah memberi hidayah kepada satu orang karena (dakwah)mu tentu (hal itu) lebih baik bagimu daripada onta merah*.” (*Onta merah adalah harta terbaik bagi orang Arab. Hadits ini akan hadir dengan no. 180)

Maka oleh karena itu saya ingin menghimpun sebuah ringkasan dari hadits-hadits shahih, yang mencakup semua yang seharusnya menjadi jalan titian menuju akhirat bagi pemiliknya, memenuhi adab-adabnya yang batin maupun yang zhahir, merangkum targhib dan berbagai macam adab orangyang menempuh jalan Islam, seperti hadits-hadits zuhud, latihan-latihan jiwa, pembersihan akhlak, kesucian-kesucian hati dan obat-obatnya, pemeliharaan anggota badan dan menghilangkan penyimpangannya dan lain sebagainya dari bebragai macam maksud orang-orang arif.

Saya memiliki komitmen didalam kitab ini untuk tidak menyebut malinkan hadits-hadits shahih dan hal-hal yang jelas, dengan menasabkan kepada kitab-kitab shahih yang masyhur. Saya memulai setiap bab dengan ayat-ayat yang mulia dari Al Qur’an Al-aziz. Dan saya melengkapi hal-hal yang memerlukan penentuan bunyi kata atau penjelasan makna yang samara dengan peringatan-peringatan yang sangat berharga. Dan jika saya berkata: “muttafaq alaih” pada akhir hadits maka maknanya hadits itu diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Saya berharap jika kitab ini telah rampung agar menjadi penuntun setiap yang memperhatikannya kepada semua kebaikan dan perintang gdari senua keburukan dan dosa-dosa yang membinasakan. Dan saya memohon kepada saudara yang mengambil manfaat daripadanya agar mendo’akan saya, dan orangtua saya, guru-guru saya dan orang-orang yang kami cintai serta seluruh kaum muslimin. Hanya kepada Allah saya bergantung dan hanya kepada-Nya saya berserah diri dan bersandar. Dan cukuplah Allah bagiku, dia sebaik-baik penolong. Tidak ada upaya dan kekuatan melainkan dengan (taufiq) Allah Yang Maha Mulia dan Bijaksana.

والحمد لله رب العالمين

darussalaf.org

%d bloggers like this: