Zat-Zat Antibakteri

Apakah antibakteri itu dan bagaimana cara membedakannya?

Dalam definisi yang luas, antibakteri adalah suatu zat yang mencegah terjadinya pertumbuhan dan reproduksi bakteri. Meskipun baik antibiotik maupun antibakteri sama-sama menyerang bakteri, kedua istilah ini telah mengalami pergeseran makna selama bertahun-tahun sehingga memiliki arti yang berbeda. Saat ini antibakteri biasanya dijabarkan sebagai suatu zat yang digunakan untuk membersikan permukaan dan menghilangkan bakteri yang berpotensi membahayakan. Tidak seperti antibiotik, antibakteri tidak digunakan sebagai obat baik untuk manusia maupun untuk hewan, namun dapat ditemukan dalam berbagai produk seperti sabun, deterjen, produk-produk untuk kulit dan kesehatan serta pembersih peralatan rumah tangga.

Apa saja antibakteri yang umum digunakan?

Antibakteri dapat dibagi dalam dua kelompok berdasarkan kemampuan zat tersebut untuk membersihkan bakteri dan residu yang dihasilkan: Kelompok pertama adalah zat yang dapat bekerja secara cepat untuk membasmi bakteri, namun dapat hilang dengan cepat (dengan cara penguapan atau dengan cara penguraian) dan tidak meninggalkan residu aktif (dikenal sebagai zat yang tidak-menghasilkan-residu). Contoh zat-zat seperti ini adalah alkohol, klorin, peroksida, dan aldehid. Kelompok kedua adalah zat yang memiliki unsur-unsur jenis baru yang meninggalkan residu dalam jangka panjang di permukaan sehingga dapat membasmi kuman dalam jangka panjang dan tindakan pembasmian kuman dapat dilakukan dalam jangka panjang (dikenal sebagai zat yang menimbulkan-residu). Contoh-contoh umum dari kelompok ini adalah triclosan, triclocarban, dan benzalkonium chloride. Lihat di Tabel antibakteri.

Seberapa umum penggunaan antibakteri dalam produk-produk yang dikonsumsi oleh manusia?

Semua produk yang mengklaim dapat membunuh bakteri dan/atau virus adalah sejenis zat antibakteri. Alkohol, klorin, dan peroksida telah digunakan selama beberapa dekade dalam berbagai produk kesehatan dan kebersihan. Dalam dua dekade terakhir antibakteri yang menghasilkan residu (Tabel antibakteri), yang awalnya digunakan secara eksklusif di dalam institusi-institusi kesehatan, kini semakin banyak digunakan dalam produk-produk untuk rumah tangga, terutama pada sabun dan zat-zat pembersih lainnya. Sebuah survey yang dilakukan baru-baru ini melaporkan bahwa 76% sabun cair yang digunakan di 10 negara bagian di AS mengandung triclosan dan sekitar 30% sabun batangan mengandung triclocarban. Banyak bahan-bahan pembersih yang 25 persennya mengandung senyawa ammonium. Karena senyawa-senyawa ini memiliki nama kimia yang sangat panjang, nama-nama ini tidak dapat dikenali dengan mudah dalam label kemasan. Belum lama ini, triclosan juga diikat di permukaan berbagai produk yang sering digunakan oleh manusia, seperti peralatan dapur dari plastik, papan untuk memotong, kursi makan untuk anak-anak, mainan, selimut, serta bahan-bahan lain dari kain.

Apakah penggunaan zat-zat antibakteri diatur oleh undang-undang di AS?

Diatur atau tidaknya zat-zat antibakteri tersebut dalam undang-undang tergantung pada maksud penggunaan dan efektivitasnya. FDA mengatur penggunaan sabun-sabun antibakteri dan senyawa-senyawa antibakteri yang digunakan di tubuh atau di dalam makanan olahan, termasuk juga pembungkus makanan dan zat-zat tambahan yang ditambahkan ke dalam air yang digunakan untuk mengolah makanan.

Bila unsur-unsur ini tidak dimaksudkan untuk digunakan pada tubuh atau di dalam tubuh, maka unsur tersebut didaftar oleh EPA (Environmental Protection Agency—Badan Perlindungan Lingkungan AS) dibawah Akta Federal yang mengatur penggunaan Insektisida, Fungisida, dan Racun untuk membunuh hewan pengerat.

Unsur-unsur ini akan terdaftar sebagai zat-zat yang dimasukkan ke dalam zat-zat anti mikroba untuk kesehatan publik atau kesehatan non-publik .

Apa perbedaan antara bakteriostats, sanitizer, disinfektan dan sterilizer?

EPA menggolongkan antimikroba untuk kesehatan publik sebagai bacteriostat, sanitizer, disinfektan, dan sterilizer berdasarkan efektivitas zat-zat ini dalam membasmi mikroorganisme. Bacteriostats mencegah pertumbuhan bakteri dalam lingkungan yang tidak hidup. Sanitizer adalah senyawa-senyawa yang dapat membunuh sekian persen mikroorganisme yang telah diujicoba sebelumnya dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Disinfektan membasmi atau menonaktifkan semua mikroorganisme yang telah diujicoba sebelumnya, namun tidak dapat menghambat pertumbuhan sporanya. Sterilizer membasmi semua bentu bakteri, fungi, dan mikroorganisema lain beserta sporanya.

Lebih jauh lagi, disinfektan dapat dikategorikan sebagai zat yang memiliki spektrum luas atau terbatas. Disinfektan yang memiliki spektrum luas dapat membunuh baik bakteri gram negatif maupun bakteri gram positif. Disinfektan dengan spektrum terbatas harus dengan jelas menyebutkan mikroorganisme apa yang dapat dibasminya.

Apakah kegunaan antibakteri?

Jelas sekali bahwa antibakteri sangat efektif dalam membasmi segala macam bakteri, namun, ada kontroversi yang cukup banyak dalam hal manfaat penggunaan zat-zat ini bagi kesehatan. Zat-zat yang tidak meninggalkan residu (Tabel Antibakteri) telah digunakan selama bertahun-tahun dan terus menjadi zat yang efektif dalam mengendalikan organisme penyakit yang memiliki beragam perawatan kesehatan dan lingkungan rumah. Bila digunakan dengan panduan yang ketat, zat-zat yang meninggalkan residu telah terbukti efektif dalam mengendalikan infeksi bakteri dan jamur dalam lingkungan klinis seperti rumah sakit, panti-panti perawatan, klinik melahirkan dan fasilitas perawatan kesehatan lain dimana mungkin terdapat risiko infeksi yang tinggi.

Beberapa produk rumah tangga tertentu telah menunjukkan efektivitas untuk kondisi-kondisi khusus: pasta gigi antibakteri membantu mengendalikan penyakit priodontal (gusi); deodoran antibakteri menekan bakteri yang menyebabkan timbulnya bau badan, dan sampo antiketombe membantu mengendalikan ketombe. Namun demikian, hingga hari ini, tidak ada bukti yang mendukung klaim bahwa antibakteri menambah keuntungan kesehatan bila digunakan oleh konsumen umum.

Apakah zat antibakteri aman untuk digunakan?

Bila digunakan sesuai dengan petunjuk pada permukaan luar, zat-zat antibakteri dianggap relatif tidak beracun. Namun, zat ini dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mata, dan memiliki potensi untuk menimbulkan bahaya bila tidak disimpan atau digunakan dengan benar. Lebih jauh lagi, evaluasi risiko dilakukan terhadap akibat yang ditimbulkan oleh satu zat tertentu, dan tidak memertimbangkan efek-efek penggunaan secara bersamaan atau efek-efek yang timbul akibat persenyawaan beberapa zat yang digunakan secara bersamaan. Belum lama ini, triclosan dilaporkan ada pada permukaan air, limbah hasil pengolahan pabrik, empedu ikan, dan ASI, namun arti penting hasil penemuan ini belum diketahui hingga saat ini.

Apakah penggunaan antibakteri dapat menyebabkan timbulnya bakteri resisten?

Karena antibakteri memiliki efek membasmi yang sangat cepat, zat-zat antibakteri yang tidak meninggalkan residu tidak dipercaya dapat menciptakan bakteri yang resisten. Resistensi adalah hasil dari penggunaan jangka panjang dalam jumlah yang sedikit, sebuah kondisi yang terjadi saat pengguna menggunakan zat yang menghasilkan residu seperti triclosan dan triclocarban. Hingga beberapa waktu yang lalu, orang-oarng masih menganggap bahwa zat-zat seperti ini tidak memengaruhi suatu proses spesifik dari bakteri, dan karena itulah, hampir tidak mungkin dapat menimbulkan adanya bakteri resisten. Namun, bukti dari laboratorium belum lama ini menunjukkan bahwa triclosan menghalangi suatu langkah spesifik yang dalam formasi lipid bakteri yang terdapat dalam struktur dinding selnya. Eksperimen tambahan menemukan bahwa beberapa bakteri dapat mengatasi serangan triclosan dan biosida lain yang memiliki sistem ekspor yang juga menyebarkan antibiotik. Dalam eksperimen tersebut didemonstrasikan bahwa bakteri mutan yang resisten terhadap triclosan ini juga resisten terhadap beberapa antibiotik, terutama chloramphenicol, ampicilin, tetracycline, dan ciprofloxacin.

Apakah penggunaan zat antibakteri secara luas dapat menyebabkan timbulnya lebih banyak bakteri yang resisten?

Banyak ilmuwan yang merasa bahwa tindakan ini berpotensi menimbulkan bahaya, namun ilmuwan yang lain beranggapan bahwa kondisi di dalam laboratorium yang digunakan dalam studi penelitian tidak mewakili keadaan di “dunia nyata.” Sejauh ini, studi yang dilakukan pada bakteri yang digunakan pada produk rumah tangga seperti sabun, dedoran dan pasta gigi tidak menunjukkan adanya perkembangan resistensi yang nyata pada bakteri-bakteri tersebut. Namun demikian, produk-produk seperti ini baru digunakan dalam jangka waktu yang relatif singkat dan studi penelitian terhadap efek penggunaan produ-produk seperti ini masih sangat terbatas.

Apakah ada kekhawatiran lain mengenai penggunaan zat-zat antibakteri?

Ya, para ahli berpendapat bahwa penggunaan zat-zat seperti ini menciptakan rasa aman yang tidak nyata yang dapat menyebabkan para individu mengendurkan kebiasaan-kebiasaan mereka yang berhubungan dengan kesehatan. Penggunaan antibakteri seharusnya tidak boleh dianggap sebagai suatu alternatif dari higienisme yang normal, kecuali bila praktek kesehatan yang biasa dilakukan tidak mungkin untuk dijalankan.

Yang harus diingat adalah sebagian besar bakteri tidak berbahaya dan dalam banyak kasus, bahkan bakteri menguntungkan bagi kita. Hanya ada beberapa bakteri yang sesungguhnya menyebabkan penyakit. Antibakteri tidak dapat memilah-milah dan serangan secara menyeluruh terhadap bakteri tidak pada tempatnya. Penggunaan zat-zat pembersih secara terus menerus cenderung mengganggu bakteri normal yang bertindak sebagai penghalang terhadap serangan bakteri patogen. Penggunaan secara terus menerus seperti ini dapat mengubah populasi bakteri dan menciptakan “ruang” bagi bakteri penyebab penyakit untuk masuk dan mengakibatkan adanya infeksi.

Sebagai tambahan, beberapa ilmuwan telah mengumpulkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa rumah tangga yang terlalu higienis sejak usia dini mungkin dapat dihubungkan dengan timbulnya alergi di usia dewasa. Dalam “hipotesis kesehatan” ini, alergi terbentuk karena sistem imunitas di masa kecil gagal untuk mematangkan dirinya dengan tepat kaerna tidak adanya kontak dengan bakteri yang menyetimulasi imunitas. Hipotesis ini tetap menjadi suatu kontroversi dan membutuhkan penelitian lebih jauh untuk mendapatkan validasi.

Adakah metode pembersihan lain yang lebih efektif untuk mecegah terjadinya penularan suatu penyakit?

Secara umum, mandi dengan sabun biasa dan membilasnya dengan air yang mengalir, diikuti dengan pengeringan yang benar masih dianggap sebagai cara paling penting untuk mencegah penularan penyakit (lihat Hand washing). Proses ini terutama sangat penting setelah menggunakan toilet, mengganti popok, membersihkan ember popok, membersihkan toilet, atau setelah menyiangi daging mentah atau daging unggas. Beberapa zat-zat tradisional yang umum digunakan cukup efektif untuk membasmi organisme-organisme yang menyebabkan penyakit yang jumlahnya cukup banyak. Zat-zat ini adalah larutan ethyl atau isopropyl alkohol dengan kadar 80 persen, pemutih rumah tangga dan hydrogen peroksida. Tidak seperti triclosan dan zat-zat lain yang tahan lama, produk-produk ini menghancurkan komponen sel dalam jumlah yang sangat banyak secara bersamaan bukan menyerang proses bakteri secara spesifik.

Kapankah zat antibakteri sebaiknya digunakan?

Meskipun tidak terdapat bukti yang menunjukkan bahwa penggunaan antibakteri secara rutin dapat memberikan manfaat kesehatan, antibakteri sangat berguna di tempat-tempat dimana tingkat sanitasinya memrihatinkan dan dibutuhkan kewaspadaan ekstra untuk mencegah penyebaran penyakit. Dengan demikian, zat-zat ini sangat penting untuk digunakan di rumah sakit, tempat penitipan anak dan fasilitas kesehatan serta lingkungan lain dimana terdapat infeksi bakteri dalam konsentrasi yagn tinggi. Dalam lingkungan perumahan, zat ini mungkin dibutuhkan untuk perawatan orang-orang sakit dengan infeksi tertentu, atau untuk mereka yang sistem imunitasnya lemah karena menderita penyakit kronis, kemoterapi atau transplantasi. Dalam kondisi seperti ini, antibakteri harus digunakan sesuai dengan petunjuk yang ada, lebih baik lagi bila digunakan dibawah pengawasan seorang perawat kesehatan profesional.

tufts.edu
APUA: Alliance for the Prudent Use of Antibiotics, apua.org
sehatgroup.web.id

Advertisements
%d bloggers like this: