Jaga Pola Makan Demi Kesehatan Mata

“Mata bukan segala-galanya, tetapi tanpa mata, segala-galanya tidak ada artinya…”

MATA adalah indra yang sangat penting bagi manusia. Dengan mata, banyak hal secara normal dan wajar dapat dilakukan. Karena itu, menjaga kesehatan mata wajib dilakukan agar aktivitas hidup tidak terganggu.

Namun kenyataannya, di Indonesia tidak sedikit yang terganggu matanya atau bahkan menderita kebutaan. Dari 200 juta lebih penduduk Indonesia, 1,5 persen atau 3 juta penduduk Indonesia buta. Sebab kebutaan ada karena katarak (70 persen), glaukoma (hampir 20 persen), dan penyakit retina (12-13 persen).

Penyakit atau gangguan pada mata ini selain karena degenerasi, yakni makin tinggi usia seseorang akan meningkatkan gangguan pada mata, juga oleh hal-hal lain, seperti pola makan yang kurang benar, lingkungan hidup, kebiasaan mereka, ras atau keturunan dan juga genetik.

Selain itu, juga ada penyakit lain yang harus diwaspadai, seperti diabetes yang bisa mengakibatkan retino diabetika. “Mereka yang mengalami gangguan retina terbanyak, 80 persen di antaranya karena diabetes,” kata Direktur Jakarta Eye Center (JEC) dr Darwan M Purba SpM saat peresmian JEC Retina Center di Jakarta, Sabtu (28/8).

Untuk mencegahnya, tak ada jalan lain kecuali menjaga pola makan-terutama menghindari makanan manis. Ini agar tidak terkena diabetes.RETINO diabetika adalah komplikasi dari kencing manis yang mengganggu mata. Keadaan ini disebabkan oleh rusaknya pembuluh darah yang memberi makan retina di mata bagian belakang.

Pembuluh darah yang melemah ini dapat bocor dan keluar cairan atau darah, membuat cabang-cabang abnormal yang rapuh dan di tempat- tempat tertentu dapat membesar. Retina adalah bagian mata tempat difokuskannya cahaya yang masuk melewati lensa mata.

Cahaya yang telah terfokus membentuk bayangan dan gambar inilah yang dibawa ke otak oleh saraf optik. Bila pembuluh darah mata bocor atau jaringan parut terbentuk di retina, bayangan yang dikirim ke otak menjadi kabur.

Yang harus diwaspadai juga adalah ablasio retina (lepasnya retina). Kejadian ini merupakan masalah mata yang serius dan dapat terjadi pada usia berapa pun, walaupun biasanya terjadi pada orang usia setengah baya atau lebih tua.

Kejadian lebih besar kemungkinannya terjadi pada orang yang menderita rabun jauh (miopia) atau berkacamata minus dan pada orang- orang yang pernah mengalami lepasnya retina.

Lepasnya retina dapat pula terjadi akibat pukulan keras. Selain itu, walaupun agak jarang, kondisi ini dapat merupakan penyakit keturunan yang bahkan dapat terjadi pada bayi dan anak-anak.

Bila tidak segera ditangani, lepasnya retina akan mengakibatkan cacat penglihatan atau kebutaan.

Retina adalah lapisan dalam di bagian belakang mata yang sangat vital bagi kemampuan penglihatan manusia. Dengan teknik kedokteran mata konvensional yang selama ini diterapkan, tidak semua gangguan pada retina dapat terdeteksi. Akibatnya, tidak sedikit penderita gangguan retina yang daya penglihatannya hilang secara tiba-tiba atau perlahan-lahan, atau mereka menunjukkan gejala-gejala penyakit lain yang diakibatkan oleh gangguan pada retina.

Kemajuan dalam teknik visualisasi retina telah membantu para praktisi kedokteran mata untuk tidak saja mengetahui jenis gangguan retina yang diderita pasien, melainkan juga stadiumnya secara teliti sehingga pasien bisa segera mendapat perawatan.

PENYAKIT retina, ditegaskan kembali oleh Kepala JEC Retina Center dr Soedarman Sjamsoe SpM, disebabkan oleh degenerasi. Namun, tidak semua karena ada juga yang bawaan dari lahir. Dampaknya adalah penglihatan terganggu dan bisa menjadi buta.Sama dengan katarak, penyebabnya adalah degenerasi juga. Namun, katarak tidak bisa dicegah karena umur manusia semakin tua. Akan tetapi, penglihatan bisa kembali normal jika dioperasi. Soedarman kemudian menjelaskan perbedaan penyakit retina dan katarak.

“Katarak itu yang keruh adalah lensanya. Seperti sebuah kamera yang keruh lensanya, penglihatan penderitanya jadi buram. Kalau penyakit retina adalah kamera yang rusak filmnya. Hasil film rusak yang tetap digunakan memotret adalah tidak bisa dicetak karena cahaya tidak sampai. Sedangkan penyakit glaukoma disebabkan oleh tekanan tinggi yang merusak saraf mata sehingga tidak berfungsi,” kata Soedarman.

JEC Retina Center membantu pasien-pasien dengan gangguan retina. “Dulu banyak penyakit mata tidak bisa diobati. Kini dengan berkembangnya pengetahuan, beberapa penyakit mata sudah bisa diobati dengan hasil baik, termasuk masalah retina ini,” ujar Soedarman. (LOK)
Sumber : INSPIRASI

kompas.com

Advertisements
%d bloggers like this: