Hadits-Hadits Lemah Dalam Kitab Bulughul Maram

Penulis: Buletin Al Atsary

Dari Abu Umamah Al Bahili (Artinya): “Sesungguhnya air tidak bisa ternajisi sesuatupun, kecuali jika berubah baunya atau rasanya atau warnanya”(HR Ibnu Majah)

Dalam riwayat Baihaqi: “Air itu suci kecuali jika berubah baunya, rasanya atau warnanya karena (disebabkan) najis yang jatuh ke dalamnya”

Hadits ini dhaifkan (dinyatakan lemah) oleh para ulama, berkata Imam Shan’ani dalam Subulus Salam: “Sebab hadits ini didhaifkan karena seorang bernama Risydin bin Sa’ad. Berkata Yunus: Dia seorang yang shalih tapi kemudian dia tertimpa kelalaian (dalam menjaga hadits) sehingga tercampurlah hadits-haditsnya yang menyebabkan dia ditinggalkan (dalam periwayatan haditsnya).

Hadits ini dilemahkan pula oleh Syaikh Albani, beliau berkata: Kesimpulannya, hadits ini dhaif (lemah) karena tidak ada riwayat lain yang mendukungnya (Silsilah hadits Dhaifah:2614)

Faedah:

  1. Awal hadits, yaitu: “Sesungguhnya air tidak bisa ternajisi sesuatupun”. Lafazh ini Telah shahih maknanya dalam hadits Abu Said Alkhudri, sebagaimana disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari.
  2. Akhir hadits, yaitu: “Kecuali jika berubah bau, rasa atau warnanya”. Walaupun (hadits ini) lemah dan tidak ada hadits lain yang mendukungnya, akan tetapi telah ada ijma’(kesepakatan) yang semakna dengannya.

Berkata Ibnul Mundzir sebagaimana dinukil oleh Imam Shan’ani dalam kitab Subulus Salam: “Telah ijma para ulama bahwasanya jika ada air yang terkena najis dan (menyebabkan) berubah salah satu sifatnya maka air tersebut menjadi najis”.

Dari Abdullah bin Zaid: “Rasulullah mengambil air untuk dua telinganya berbeda dengan air yang ia gunakan untuk mengusap kepalanya” HR. Baihaqi

Derajat hadits:

Hadits ini Syadz. Al hafidz Ibnu Hajar telah menyatakan ini, karena beliau berkata setelah membawakan hadits berikutnya: Dalam riwayat Muslim masih dalam permasalahan ini, akan tetapi dengan lafadz: “Beliau mengusap kepala bukan dengan air sisa mencuci tangan” Beliau berkata: Inilah yang mahfudz (yang terjaga)

Berkata syaikh Albani:

“Telah dinyatakan oleh Al Hafidzh Ibnu Hajar tentang syadznya hadits ini sebagaimana didalam Bulughul Maram, dan tidak ada keraguan disisiku” (tentang syadznya hadits ini-Pent) (Lihat silsilah hadits dhoifah:1/205-206)

Faidah:

Hukum Mengusap Dua Telinga

Jumhur ulama menyatakan sunnahnya mengusap dua telinga ketika wudhu berdasarkan perbuatan Rasulullah, diantaranya dalam hadits Abdullah bin Amr bin Ash tentang sifat wudhu nabi: “Beliau mengusap kepalanya kemudian memasukkan dua telunjuknya kedua telinganya dan mengusap bagian luar telinganya dengan dua ibu jarinya”. (Hadits Hasan Diriwatkan Abu Daud dan Nasai)

Apakah Mengambil Air Baru Untuk Mengusap Dua Telinga ?

Yang kuat dalam masalah ini tidak mengambil air baru, bahkan mengusap dua telinga dengan sisa air mengusap kepalanya, karena demikianlah perbuatan Rasulullah sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Amr diatas dan hadits-hadits lainnya.

Berkata Ibnul Qayyim:

Tidak riwayat yang shahih yang menunjukkan beliau mengambil air baru untuk dua telinganya

Ini adalah pendapat yang di kuatkan oleh Syaikh Albani, Syaikh Muhammad bin Utsaimin dan Syaikh Muqbil Al Wadi’i.Walhamdulillah

Kitab Thaharah bab Wudhu

Dari Thalhah bin Musharif dari bapaknya dari kakeknya: “Aku melihat Rasulullah memisahkan antara berkumur dan memasukkan air ke hidung” (HR Abu Daud).

Sebab Dhaifnya Hadits:

  • Berkata Imam Shan’ani: Karena riwayat Laits bin Abi Sulaim, dan dia adalah seorang yang lemah. Imam Nawawi berkata: Telah sepakat ulama atas kelemahannya dan juga karena Musharif, bapaknya Thalhah keadaannya Majhul Hal (tidak dikenal, red).(Subulus Salam:Hal:81)
  • Hadits ini juga didhaifkan Syaikh Albani dalam “Dhaif Sunan Abi Daud”.
  • Hadits ini juga bertentangan dengan hadits Abdullah bin Zaid –tentang sifat wudhu nabi shalallahu ‘alaihi wasallam- “Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam memasukkan tangannya kemudian berkumur dan memasukkan air kehidung dengan satu telapak tangan, beliau melakukannya tiga kali”

Faidah:

Berkata Ibnul Qayyim: “Tidak ada satupun hadits shahih tentang memisah antara berkumur dan memasukkan air ke hidung” (Zaadul Ma’ad)

Berkata Imam Nawawi: Yang Shahih, bahkan inilah yang benar yakni diutamakannya menggabungkan antara berkumur dan memasukan air ke hidung (sekaligus, red) karena hadits-hadits yang kuat dan tidak ada yang menentangnya”

Hukum Berkumur Dan Memasukkan Air Kehidung

Berkata Ibnu Hazm: Berkata Ahmad bin Hanbal dan Daud: “Memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya adalah Wajib dalam wudhu dan tidak wajib dalam mandi junub, adapun berkumur bukanlah wajib dalam wudhu ataupun dalam mandi junub, inilah (pendapat) yang benar”

(Inilah yang dikuatkan pula oleh Syaikh Abdurahman Al Mar’i dalam sebagian durusnya (pelajaran yang beliau sampaikan)).”

Dari Jabir bin Abdillah: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam jika berwudhu menuangkan air di dua sikunya” (HR Daraqutni)

Sebab Lemahnya Hadits:

· Berkata Imam Shan’ani: “(Hadits ini) diriwayatkan pula oleh Baihaqi dengan sanad (untaian perawi hadits, red) Daraqutni dan di kedua sanad tersebut ada seorang rawi yang bernama Qasim bin Muhammad bin Aqil (dia) seorang yang matruk (ditinggalkan haditsnya, red)” (Subulus Salam)
· Telah menegaskan lemahnya hadits ini juga Al Mundziri, Ibnu Shalah dan Imam Nawawi (Taudihul Ahkam:1/238)

Faidah:

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Telah mencukupi (kandungan, red) hadits ini hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah: “Beliau berwudhu, kemudian mencuci tangannya hingga mencapai lengan atas, setelah itu beliau berkata: Demikianlah aku melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berwudhu.”

Apakah Siku Termasuk Yang Harus Dicuci Dalam Wudhu ?

Hadits Abu Hurairah diatas dan yang lainnya menunjukkan bahwa yang rajih (kuat) dalam permasalahan ini adalah pendapat jumhur ulama -wallahu ‘alam bishawab-, bahwasanya dua siku termasuk yang wajib dicuci ketika seorang mencuci tangannya dalam wudhu.

Dalam riwayat Imam yang empat kecuali Nasai: Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mengusap bagian bawah khuf dan bagian bawahnya” Dalam sanadnya Dhaif

Sebab Lemahnya Hadits:

  • Abu Daud berkata: telah sampai kepadaku bahwa Tsaur tidak mendengar hadits ini dari Roja’
  • Syaikh Albani menjelaskan perkataan beliau ini: “Yakni hadits ini munqathi’ (terputus sanadnya, red), inilah ‘illat (penyakit/cacat) hadits ini. Oleh karena itu Imam Bukhari dan Abu Zur’ah menyatakan: (hadits ini, red) Tidak shahih. Juga telah di dhaifkan oleh Imam Syafi’i, Abu Hatim, Imam Tirmidzi dan Ibnu Hazm” (Tahqiq Sunan Abi Daud:9/54)
  • Hadits ini juga bertentangan dengan hadits Ali bin Abi Thalib radiyallohuanhu: “Kalau seandainya agama itu dengan akal niscaya bagian bawah khuf lebih utama untuk dibasuh daripada bagian atasnya (karena yang kotor bagian bawahnya, bukan bagian atasnya, red), sungguh aku telah melihat Rasulullah mengusap bagian atas khufnya.” (HR Abu Daud, dishahihkan syaikh Albani dalam Shahih Abi Daud)

Faedah:

Mengusap Khuf disyariatkan berdasarkan banyak hadits, diantaranya hadits Mughirah bin Syu’bah: Aku pernah bersama Rasulullah, beliaupun wudhu dan aku membungkuk hendak melepas dua khufnya.beliau berkata:Biarkanlah keduanya, karena aku memasukkannya dalam keadaan keduanya suci” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berkata Ibnul Mundzir: Tidak ada perselisihan diantara shahabat tentang bolehnya mengusap dua khuf

Cara Mengusap Khuf:

Yang rajih (kuat) adalah pendapat Imam Ahmad, Ishaq dan Ibnul Mundzir bahwa yang disyariatkan mengusap bagian atas khuf saja berdasarkan hadits Ali bin Thalib diatas. Wallohu A’lam Bishawab

Buletin Al Atsary Diterbitkan Oleh: Yayasan Riyadhul Jannah Cileungsi Pembina: Al Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak Pemimpin Redaksi: Abu Umair Qomar Sirkulasi Umum: AbuSufyan Hamzah Alamat Redaksi: Yayasan Riyadhul Jannah Jln.Raya Narogong Kp.Cikalagan RT 02/01 (Depan Pasar Baru Cileungsi) Berlangganan dan Info Kajian Umum Ahlussunnah Wal Jama’ah Hubungi 08 567 133 567
darussalaf.org

%d bloggers like this: