Penyelenggaraan Pertemuan Di Hotel

Oleh: Asy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuri

Soal :
As-Salafiyyun mengadakan pertemuan-pertemuan, dan sebagian pertemuan mereka diselenggarakan di hotel/di tempat-tempat yang jauh dari pandangan manusia dengan tujuan menjaga keselamatan mereka/lainnya. Bagaimana pendapat Asy Syaikh dalam masalah ini? Jazaakumullah khairan.

Jawab :
Dalam keadaan seperti ini tuduhan-tuduhan akan mengikuti kalian, karena pemerintah jika melihat orang yang sembunyi-sembunyi mereka merasa curiga dengan hal tersebut. Mereka akan berkata, “Ada apa di belakang pertemuan tersebut? Kenapa sembunyi-sembunyi? Seandainya di atas kebenaran, pasti dia akan menyampaikannya dengan terang-terangan.”

Allah berfirman:

“Maka sampaikanlah dengan terang-terangan apa-apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Sungguh Kami memeliharamu dari orang-orang yang mengolok-mengolokmu.” (Al Hijr 94-95)

Telah sampai kabar kepada kami, bahwa sebagian orang (ketika terjadi fitnah Usamah bin Ladin) pergi dan mencukur jenggot mereka, dikarenakan takut tertuduh “teroris.” Karena perbuatan tersebut, pihak pemerintah mengikuti gerak-gerik mereka yang terkadang menimbulkan berbagai macam kesulitan bagi mereka sendiri.

Begitu pula apa yang terjadi pada mahasiswa Universitas Al Iman, pada hari-hari terjadi ancaman dari Amerika bahwasanya mereka akan menyerang dan menduduki Yaman, terutama tempat-tempat pendidikan, tiba-tiba mereka memakai celana pantaloon dan mencukur jenggot mereka serta memendekkannya. Mereka turun ke jalan seakan-akan keluar dari Universitas Sirbon (di Perancis).

Dan mereka berkata, ”Ini adalah siyasah syar’iah, agar tidak dimata-matai.” Berpalinglah dari siasat-siasat seperti ini!

“Kebenaran lebih berhak untuk diikuti”

Ahlu Sunnah tidak mempunyai sesuatu yang disembunyikan dalam dakwah. Dan tidak ada sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk menangkap mereka dan pemerintah tidak perlu merasa takut dari metode dakwah mereka.

Memang benar, seseorang merahasiakan sesuatu dengan dan berbicara rahasia kepada temannya atau pada saudaranya (seperti ketika ada tamu, kemudian minta agar dibelikan sesuatu untuk tamu dengan tanpa sepengetahuan tamunya).

Dan masalah rahasia, telah tetap dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam telah berbicara rahasia kepada Fatimah (HR Al Bukhari 6285 dan Muslim 2450 dari Aisyah radhiallahu ‘anha). Begitu juga kepada Anas radhiallahu ‘anhu (HR Muslim 2482 dan Bukhari secara ringkas 6283)

Akan tetapi tidak dengan model yang tercela dan hina ini, sembunyi-sembunyi dan lain-lainnya dari metode dakwah ikhwanul muslimin. Satu orang datang dari pintu ini dan yang lain dari pintu yang lain dan berkata, “Kamu parkir mobil sebelah sana dan kamu sebelah sana.

“Apa yang ada pada mereka? Apakah mereka punya bom? Atau apa?”
“Mereka hanyalah para pekerja, atau mereka hanya belajar beberapa buah kitab pergerakan kepada seseorang.”

Akan tetapi semuanya tersebut adalah omong kosongnya Ikhwan Muslimin. Dan pemerintah juga tanggap dengan hal tersebut. Mereka berkata, “Pasti ada sesuatu pada mereka.” Dan terkadang istrinya sendiri yang sedang memasak di rumah, menjadi mata-mata untuknya (memata-matainya dan memberi kabar tentangnya satu persatu, secara berurutan), dan terkadang anaknya dan tetangganya atau teman rahasianya.

Ya Akhi, jadikanlah pada dirimu bahwasanya kamu tidak peduli dengan mata-mata. Lupakan mereka! Apa yang bisa mereka perbuat dengan Al Kitab dan As Sunnah? Mereka datang untuk belajar.

Apa yang ada pada Ahlu Sunnah? Tidak ada pada mereka kecuali Al Kitab dan As Sunnah, Al Hadits. Mereka menyampaikannya di atas mimbar dan menyebutkannya di setiap tempat. Siapkan diri kalian untuk mengatakan kebenaran! Kalian sampaikan di depan hakim, di depan pemerintah dan di depan masyarakat. Dan kalian seru semua manusia kepadanya.
Allah berfirman:

“Masuklah kalian ke dalam Islam secara utuh” (Al Baqarah:208)

Maksudnya, ambillah Islam dari semua segi.

(Al As’ilah Al Indonisiah, 26 Jumadi Tsani 1424 H)
Sumber: Fatwa-fatwa Syaikh Yahya Al Hajuri atas pertanyaan manca negara
thullabul-ilmiy.or.id

%d bloggers like this: