Dampak Copot Katalisator

Awas, jangan asal copot catalityc converter. Perhitungkan dampaknya.

Catalytic converter atau disebut juga katalisator, sebagai penyaring gas beracun dari sisa pembakaran mesin sering disingkirkan untuk mencari performa. Sehingga fungsi katalisator dalam rangkaian knalpot, sebagai penyaring racun, jadi sirna. Jadi, apakah untuk menambah tenaga harus melepasnya? Atau malah sebaliknya justru buat mesin jadi loyo tidak bertenaga seperti aslinya.

BIKIN BOROS

Bermula dari hasrat untuk meningkatkan performa, beberapa pemilik mobil bergegas untuk melepas peranti ini. Maklum efeknya instan tanpa perlu diikutinya ubahan di sektor lain. “Seperti di Honda Jazz kita coba bisa menaikkan tenaga hingga 2 dk,” ujar Ovi Sardjan, tuner KSN di Pramuka, Jaktim. Setelah terbebasnya aliran udara dari hambatan sekat dalam katalisator. Memang dapat menambahkan tenaga di putaran tinggi.

Penambahan tenaga cenderung tidak sebanding dengan efisiensi BBM

Namun begitu, dampak negatif yang terjadi bisa bermacam-macam. Polusi udara berlebih tentu menjadi efek utamanya. “Mesin juga cenderung boros setelah proses scavenging mesin berkurang,” bilang Teddy, tuner dari Rev Engineering, Kedoya, Jakbar ini. Proses scavenging tersebut bukan berarti merusak komponen mesin. Terlebih menyebabkan tekanan gas buang yang mentah menjadi sulit kembali terhisap dan kurang dapat menyempurnakan pembakaran. Efek lain boros, mesin juga kurang bertenaga di putaran rendah (di sekitar 2.000 rpm).

Mari melihat kontruksi katalis yang digunakan pada mobil keluaran baru. “Sebenarnya sudah mempunyai desain yang minim hambatan, tidak seperti mesin-mesin terdahulu,” jelas Teddy. Jadi jika harus mencopot untuk menambahkan tenaga, siap-siap menerima kompensasi dari permintaan tambahan aliran bensin yang lebih dari aslinya. Wah bensin mengucur racun pun menyembur.

LIMP HOME

Pengaturan mesin yang diatur lewat peranti electronic control unit (ECU), tentu sudah dirancang sesensitif mungkin terhadap hasil pembakaran. Sehingga hadirnya dua sensor oksigen yang tertancap di pipa knalpot, akan mendeteksi kadar oksigen sebelum dan setelah penyaringan katalisator. Seperti pada mobil Eropa kebanyakan.

Bukan cuma racun yang disemburkan ke belakang, namun bensin berlebih ikut mengalir

“Pelepasan katalisator menyebabkan mesin menjadi limp home atau mengalami kondisi emergency,” jelas Heri Wasesa, service manager PT Astra International Tbk-Peugeot. Sebabnya gas buang sebelum-setelah disaring katalis yang plong hasilnya sama. Padahal emisi berlebih cenderung dihindari oleh mobil lansiran Eropa yang sudah menganut Euro 4.

Jadi setelah melepas katalis, sebenarnya bukan berarti komponen mesin rusak seketika sebagai dampaknya. Namun, petunjuk masalah di mesin bisa saja muncul secara mendadak. Baik ditunjukkan dengan lampu check engine, ataupun kedipan lampu berwarna kuning lainnya yang menunjukkan performa mesin drop.

Penulis : Ade
Otomotifnet.com

Advertisements
%d bloggers like this: