Spooring Robotic

Pernah melakukan spooring dan balancing roda? Selama ini, Anda akan melihat mekanik spooring memasang alat pada roda baik yang hanya dilengkapi benang, sampai menggunakan sensor infra merah dengan sistem 3D. Nah, mulai sekarang siap-siap melakukan spooring tanpa proses itu lagi. Spooring robotic anyar di bengkel Nawilis Radio Dalam, bisa dilakukan tanpa memasang alat apapun di roda. Istilah kerennya, touchless atau tanpa sentuh!

Colour Coded Triangulation

robotic1

Tidak percaya? Coba saja mampir ke Nawilis yang terletak di Jl.Radio Dalam, Jaksel. Pada salah satu stall, terpasang sistem wheel alignment (baca: spooring) anyar Nussbaum WAB 02 CCT berwarna biru. Bentuknya langsung bisa dibedakan dengan peranti spooring pada umumnya.

Enggak ada peranti sensor yang siap dipasang di roda, ataupun kabel-kabel berseliweran di sekitarnya. Hanya ada lift hidraulis biru yang dilengkapi dua buah kotak di kiri dan kanan. Lalu seperti biasa, diatur oleh komputer di bagian depan. Mobil yang akan dispooring langsung dinaikkan ke ramp di atas lift. Lalu lift dinaikkan. Setelah itu, operator tinggal mengaktifkan sistem yang akan berjalan secara otomatis. “Pertama, lift kiri dan kanan akan menyesuaikan ketinggian,” ujar Bambang Setyono, kepala bengkel Nawilis. Lalu kotak di samping mobil bergerak menuju roda depan, mengukur referensi roda.

Terus ke belakang, roda belakang bergerak karena plat di bawahnya bergeser maju dan mundur. Hal ini bertujuan mengukur kompensasi roda depan dan belakang. Pengukuran berlanjut ke roda depan. Didapat kontur ban, menentukan camber dan toe, sedangkan pengukuran caster hanya dengan membelokkan setir sekitar 5º kiri-kanan. Hasil pengukurannya terbilang jauh lebih akurat karena tidak terdapat faktor kesalahan mekanik dalam memasang alat.

robotic2

Bingung kenapa bisa diukur tanpa memasang alat? Kotak di kiri dan kanan roda itu intinya, dilengkapi dengan teknologi canggih berjulukan colour coded triangulation (CCT). Di dalamnya ada proyektor dan kamera yang mampu mengenali bentuk permukaan. Salah satu fungsi teknologi ini dipakai untuk mengenali bentuk wajah manusia secara 3 dimensi.

Proyektor akan menembakkan berbagai garis warna. Setiap garis akan berubah sesuai kontur permukaan, perubahan ini ditangkap kamera. Komputer pun menghitung settingan roda dari reka bentuk roda yang didapat dari proses ini. Makanya enggak perlu alat yang menempel di roda.

Banyak keuntungan yang diraih selain tingkat akurasi lebih tinggi. Paling kentara, pelek dan ban bakal luka tidak kena sentuh sama sekali. “Jadi tidak merusak pelek,” papar Ruby Nawilis, managing director Nawilis. Hal ini sangat berguna kalau mobil Anda pakai pelek eksotis. Sayang kan kalau sampai lecet atau baret. Selain itu, lajang 24 tahun ini menambahkan kalau proses diagnosa bisa 4 kali lebih cepat dari spooring biasa. Enggak heran kalau biayanya relatif lebih mahal dibanding spooring biasa. Rentang biayanya berkisar Rp 300-800 ribu untuk mobil lokal. Sedangkan buat CBU bisa mencapai Rp 1,2 juta. Mau coba?

Penulis : Manut / Foto : Uky
otomotifnet.com

%d bloggers like this: