Merawat Alokasia: Kuncinya Pada Media Tanam

Daerah berbeda, media lain pula. Tergantung suhu dan kelembapan. Membuat alokasia bikin penasaran. Akhir-akhir ini, famili araceae sedang naik daun. Mulai dari aglaonema, anthurium, keladi hias hingga philodendron. Berganti-ganti mereka mendominasi percaturan tanaman hias Indonesia. Mengapa famili Araceae menjadi tren? Jika ditelisik lebih jauh, Indonesia memang gudangnya Araceae. Ba-nyak spesies unik bahkan beberapa ada yang endemik. Salah satu famili Araceae adalah alokasia. Walaupun belum menjadi tren, namun beberapa kolektor telah mengoleksinya.

Adalah Waiter Agustin, salah seorang kolektor aneka jenis alokasia di Junrejo, Batu, Malang, Jawa Timur. Saya tertarik dengan bentuk dan warna daunnya yang macam-macam. Juga kalau diperhatikan, corak tangkai daun bermacam-macam, terangnya. Bentuk dasar daun mirip famili Araceae lain, yaitu berbentuk hati. Modifikasi selanjutnya, ada yang membulat seperti telinga, dan meruncing menyerupai anak panah.

alokasia

Perihal warna, ragamnya juga banyak. Antara lain, ada yang berwarna perak dinamai alokasia silver. Yang hitam bergaris disebut alokasia black velved.

Hal itu juga yang membuat Frankie Handoyo – kolektor anggrek, melirik alokasia. Terkadang daunnya bagus, tetapi begitu dipelihara sungguhan malah busuk lalu tak berdaun, akunya.

Nah, bagaimana sebenarnya cara merawat alokasia?

Suka Humus Bambu

Bila dilihat dari kerabatnya, alokasia menyukai tempat teduh. Jika diukur kebutuhan cahaya, hanya membutuhkan 400 foot candles. Atau kira-kira cahaya di bawah naungan net 60%. Di habitat aslinya, alokasia tumbuh di bawah naungan pohon besar dan lembap. Sedangkan suhu idealnya sekitar 20-25 °C. Jadi cukup sejuk. Sebagai gambaran, suhu siang hari di Jakarta normal-nya sekitar 30 – 32 °C.

Tetapi ‘teori’ itu tidak selamanya bisa diterapkan di setiap tempat. Makanya, beberapa hobiis merasa kesulitan menumbuhkan alokasia. Saya pernah mendapat alokasia dari Kalimantan, dibalut tanah padat tumbuh bagus. Begitu dipindahkan ke media yang bagus, malah mati, aku Frankie.

Padahal seharusnya, alokasia tumbuh bagus di media berhumus. Di habitat aslinya, alokasia tumbuh di seresah daun. Akarnya yang lunak mudah menembus pada media semacam itu.

Frankie menyimpulkan, media paling bagus menggunakan kompos daun bambu. Kemudian dicampur dengan tanah lempung. Lebih bagus lagi, jika tanah itu berasal dari lokasi asal alokasia. Disarankan untuk tidak diberi pasir malang. Kendati dapat membuat porus, namun agaknya tidak disukai alokasia.

Sementara Walter menggunakan media lebih sederhana. Hanya campuran kompos, tanah, dan sekam men-ah. Dengan media ini, alokasianya tumbuh bagus. Barangkali ini disebabkan karena lokasi. Di Batu yang berhawa sejuk dan lembap cukup dengan media semacam itu.

Selanjutnya untuk penyiraman, jangan terlalu sering. Yang jelas alokasia tidak suka basah tetapi suka lembap. Jika udara terasa kering, siram di sekitar pot agar lembap.

Awas Cendawan

Pupuk buatan tidak mutlak diperlu-kan. Paling-paling hanya pupuk daun diberikan dua minggu sekali. Selama humus atau kompos masih tersedia di dalam media, pemupukan tidak perlu dilakukan.

Yang perlu diwaspadai adalah hama dan penyakit. Di Jakarta, hama kutu putih (millibug) kerap menyerang. Menempel di balik dedaunan yang menyebabkan daun menguning lalu mati. Jika ditemukan hama ini, lekas ambil dengan tangan. Jika banyak, perlakuan insektisida diperlukan.

Selain hama, penyakit cendawan merupakan musuh utama. Tiba-tiba daun membusuk dan cepat sekali menjalar. Yang paling gawat jika menyerang umbi. Gejalanya tidak dikenali. Jika daun sudah kuning, ternyata umbinya sudah rusak berat. Untuk menghindarinya, jangan sampai me-nyiram berlebihan. Satu lagi, jika memisahkan anakan yang menimbulkan luka, olesi luka itu dengan fungisida. Dengan demikian cendawan ogah menyerang.

Tips: Mencegah Dorman

Beberapa spesies alokasia kerap mengalami dorman. Tiba-tiba tanaman mengering, lalu lenyap dari permukaan tanah. Kalau digali umbinya masih segar, berarti tanaman itu belum mati, hanya dormansi. Tentu saja ini mengecewakan para hobiis. Cara mencegahnya?

Kalau media masih banyak mengandung humus, dormansi tidak terjadi, kata Frankie. Karena dormansi merupakan mekanisme tanaman untuk bertahan hidup dari kondisi minimal hara. Makanya, setiap 6 bulan sekali media harus diganti. Tidak perlu repotting, asal humusnya tetap tersedia.

Teks/Foto: Titik
Flona / kebonkembang.com

%d bloggers like this: