Jangan Abaikan Gangguan pada Mata

Keluhan atau gangguang pada mata kita sebaiknya jangan dipandang remeh. Apalagi jika kita menderita diabetes mellitus (DM). Demikian menurut Kepala Sub Seksi Pelayanan RS Mata dr Yap di Yogyakarta, dr Nurfifi Arliani, SpM.

Nurfifi mengatakan, para penderita DM biasanya memeriksakan diri ke dokter mata setelah ada keluhan di mata. Sayangnya, mereka biasanya sudah stadium lanjut yaitu gangguan penglihatannya sudah benar-benar terganggu. Angka kebutaan akibat retinopati diabetika mencapai 30 persen dari seluruh penderita.

”Kalau gangguan mata akibat komplikasi DM sudah stadium lanjut, akan menyebabkan kebutaan. Kalau gangguan mata masih ringan, cuma gangguan penglihatannya kabur atau menurun menurun,” kata Nurfifi.

Pasien DM kebanyakan tidak memahami bahwa penyakitnya bisa berdampak pada gangguan penglihatan. Pada dasarnya, pada penyakit DM terjadi kerusakan pada pembuluh darah kecil (micro angiopati).

Padahal di mata –termasuk di retina– terdapat banyak pembuluh darah kecil. Maka kerusakan pada pembuluh darah akibat DM, dapat pula terjadi pada retina. Inilah yang disebut retinopati diabetika.

Perdarahan di retina

Apakah gejala retinopati diabetika? Di antara gejala muncul, antara lain kebocoran atau penyumbatan pembuluh darah pada retina. Pada tahap selanjutnya, timbul pembuluh darah abnormal yang sangat rapuh dan mudah menimbulkan perdarahan.

Retinopati diabetika merupakan salah satu komplikasi DM pada mata yang paling banyak menyebabkan kebutaan menetap. Gangguan ini terjadi seiiring dengan seberapa lama pasien menderita DM. Pada orang yang menderita DM lebih dari 15 tahun, resiko menderita retinopati diabetika mencapai 60 persen. Jadi orang yang menderita DM sejak muda, perlu waspada.

Namun kebutaan pada pasien retinopati diabetika dapat dikurangi. Caranya adalah dengan deteksi dan penanganan memadai, termasuk kontrol teratur. Nurfifi menyarankan kepada para penderita DM, agar memeriksakan matanya secara rutin, minimal setahun sekali. Tetapi kalau pasien sudah diketahui menderita retinopati diabetika, sebaiknya ia memeriksakan mata enam bulan sekali.

Pengobatan dengan sinar laser dapat dilakukan. Yaitu pada pasien yang mengalami kerusakan pembuluh darah ringan, misalnya adanya kebocoran atau terbentuknya pembuluh-pembuluh darah baru yang kecil-kecil. Biasanya pasien akan diperiksa dahulu dengan FFA (Foto Fluorescein Angiografi). Biasanya pengelihatan pasien akan membaik setelah dilaser.

Pada pasien retinopati diabetika yang telah lanjut, kaca pada retina akan keruh. Ini akibat perdarahan retina yang masuk ke badan kaca. Akibatnya, ada jaringan ikat pada badan kaca dan retina dapat saja tertarik. Pada kondisi lebih berat, retina dapat terlepas (ablasio retina). Bila retina lepas, pasien harus menjalani operasi vitrektomi. Operasi ini untuk menjernihkan badan kaca dan juga mengupas jaringan ikatnya.

Diakui Nurfifi, untuk pemeriksaan mata bagi penderita DM memang relatif mahal. Untuk foto fundus, misalnya, biayanya di atas Rp 200 ribu, FFA sekitar Rp 600-700 ribu. Bahkan untuk operasi vitrektomi, biayanya di atas Rp 10 juta. Namun Nurfifi menambahkan, kalau pemeriksaan dilakukan sedini mungkin, biasanya biayanya yang dikeluarkan relatif standar. Karena pemeriksaanya cukup lewat pemeriksaan mata biasa. Nurfifi menyarankan, paling bagus bila dokter spesialis mata bekerja sama dengan dokter spesialis penyakit dalam.

”Bila ada pasien DM yang sudah dirawat selama lima tahun, sebaiknya dikonsultasikan kepada spesialis penyakit mata. Sehingga bila pasien ini diketahui ada komplikasi pada mata, bisa diketahui dan ditangani sedini mungkin,” tutur dia.

keluargasehat.com

Advertisements
%d bloggers like this: