Sehat Tanpa Tulang Keropos

Hidup sehat dan tetap aktif di usia senja adalah dambaan banyak orang. Namun, seiring bertambahnya umur, fungsi organ tubuh terus menurun dan berakibat pada rentannya tubuh terhadap berbagai masalah, termasuk osteoporosis atau pengeroposan tulang.

Ketika pengeroposan terjadi, maka rasa nyeri hebat pun menyerang, sebagaimana dialami Ny Lilik Srijumiati (58), warga Klender, Jakarta Timur. Rasa sakit itu terasa terutama pada bagian lutut, jika ia berjalan kaki, bangkit dari duduk, dan sebaliknya.

Waktu dirontgen di rumah sakit, saya didiagnosis kena pengapuran tulang. Kalau tidak segera diatasi, ya bisa keropos, katanya.

Beruntung rasa nyeri pada persendian itu perlahan berkurang setelah ia rajin senam bagi usia lanjut. Perempuan dengan tiga anak itu juga teratur mengikuti terapi khusus bagi penderita gejala osteoporosis, antara lain terapi kejut pada bagian persendian yang sakit. Sekarang rasa nyeri dan linu itu sudah jauh berkurang. Padahal dulu jalan saja susah, ujarnya.

Kisah serupa dialami Ny Syamsilah (61), warga Kelurahan Bidaracina, Jakarta Timur. Kini sehari-hari ia harus mengenakan korset khusus untuk menyangga tulang punggung agar bisa bergerak dan berjalan kaki. Kesibukannya sebagai ibu rumah tangga dan aktif di berbagai kegiatan pengajian membuat proses pengapuran tulang yang terjadi bertahun-tahun itu baru ia rasakan dampaknya lima tahun terakhir.

Saat itu, ia kerap merasakan rasa nyeri hebat di bagian kaki. Gangguan itu tidak dihiraukannya dan ia tetap sibuk dengan berbagai kegiatannya. Apalagi ia tinggal sendiri di rumah semenjak suaminya meninggal. Namun gangguan fisik itu kian hebat. Saya tidak bisa lagi ke mana-mana. Naik bus saja susah, tuturnya.

Ketika rasa sakit tak tertahankan, ia diantar anaknya ke dokter. Ternyata ia terkena pengapuran tulang. Saya kaget begitu tahu kalau kena pengapuran tulang. Soalnya, saya kan tidak bisa diam, banyak aktivitas dan suka berolahraga. Kok masih kena, papar Syamsilah.

Atas anjuran dokter, ia kemudian rutin ikut senam bagi usia lanjut di Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, sekali dalam sepekan. Itu dijalaninya hingga kini. Selain tetap bugar, saya bisa bergaul dengan peserta senam lainnya. Kalau di rumah terus kan bosan. Kadang kami juga rekreasi bersama, ujarnya.

Ia juga mengonsumsi obat-obatan dan vitamin untuk mengatasi gangguan nyeri pada persendian, menjaga pola makan, dan menjalani terapi osteoporosis berkala. Aktivitas fisik yang berat dan menundukkan kepala dilarang. Hasilnya, ia kembali bisa berjalan kaki, naik angkutan umum, dan beraktivitas di luar rumah.

Ketika setahun terakhir ia menghentikan pengobatan dan hanya ikut senam lansia, pengeroposan tulangnya kembali meningkat, terutama pada persendian tulang belakang. Sebenarnya dokter menganjurkan saya minum obat terbaru untuk penderita osteoporosis parah. Tapi obatnya mahal, jutaan rupiah, dan tidak ditanggung Askes. Dari mana dapat uang sebanyak itu? keluhnya.

Uang bulanan dari pensiun mendiang suaminya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Maka ia berusaha berhemat dengan hanya berlatih senam saja dan menjaga diri agar tak cedera. Saya tiap hari menggosok kamar mandi agar tidak licin dan berhati-hati kalau jalan. Anak-anak sebenarnya ingin saya istirahat saja, tapi saya tidak betah, kata Syamsilah.

Tetap bugar

* Pengeroposan tulang memang rawan mendera orang-orang berusia di atas 40 tahun, terutama pada kaum perempuan. Karena itu, berbagai upaya pencegahan harus dilakukan, seperti yang dilakukan artis kawakan Rae Sita Supit.

Nenek sembilan cucu ini mengaku menjalankan diet dengan menghindari mengonsumsi buah mangga serta makanan yang mengandung santan dan cuka seperti opor ayam dan salad.

Menurut artis yang tetap enerjik di usia lewat paruh baya itu, menerapkan pola hidup sehat jauh lebih murah biayanya dibandingkan jika terkena gangguan kesehatan seperti osteoporosis.

Berolahraga dan tidur teratur juga dilakukannya untuk menghambat pengeroposan tulang. Karena itu, perempuan yang aktif dalam Lembaga Sensor Film ini rajin berolahraga setiap hari dengan berjalan kaki agar sirkulasi darah jadi lancar. Saya juga suka berenang di pantai, di perairan Pulau Seribu. Airnya masih bersih, ujar bintang iklan salah satu produk suplemen ini.

Untuk mempertahankan kepadatan tulang, Rae rajin mengonsumsi suplemen dan minum susu yang mengandung kalsium tinggi. Diet rendah kalori juga dilakukannya untuk menjaga kesehatan tubuh. Apalagi, ia aktif sebagai konsultan dan pembicara di berbagai seminar.

Seiring meningkatnya usia harapan hidup, masalah usia lanjut dan osteoporosis memang jadi perhatian dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), osteoporosis adalah penurunan densitas tulang, kerusakan arsitektur tulang, dan meluasnya kerapuhan tulang sehingga menurunkan kekuatan tulang.

Padahal, tulang adalah jaringan keras yang melindungi bagian vital tubuh dan membuat manusia dapat tegak, berjalan, dan mengangkat beban berat. Jika tulang sudah keropos, bagaimana manusia bisa beraktivitas, kata Ketua Persatuan Osteoporosis Indonesia Prof Dr dr Ichramsjah A Rachman SpOG(K).

Ancaman tak tampak

* Ancaman patah tulang merupakan hal paling ditakuti lantaran tulang keropos tidak menimbulkan keluhan klinis, kecuali apabila telah terjadi fraktur.

Di Indonesia sejauh ini belum ada data pasti. Namun dari 1.690 kasus osteoporosis yang dikumpulkan Unit Pelaksana Teknis Makmal Terpadu Imunoendokrinologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), ternyata yang pernah patah tulang femur dan radius 249 kasus (14,7 persen).

Pada perempuan, osteoporosis dipercepat dan diperparah dengan menurunnya hormon estrogen ketika berusia lanjut. Ini terjadi pada usia di atas 40 tahun yang ditandai dengan gejala gejolak panas, keringat banyak, keputihan, dan susah tidur. “Memasuki pascamenopouse, gejala paling menonjol antara lain pelupa, nyeri tulang belakang, dan osteoporosis, tutur Ichramsjah.

Penilaian langsung tulang untuk mengetahui ada atau tidaknya osteoporosis dapat dilakukan secara radiologik, radioisotop, MRI (magnetic resonance imaging), maupun densitometer. Diagnosa awal seseorang terkena osteoporosis dapat diketahui lewat tanda-tanda fisik, seperti pemendekan tinggi badan, bagaimana aktivitas haid dan apakah terpajan matahari pagi serta sore, tambahnya.

Pencegahan osteoporosis sebenarnya harus dilakukan sejak masih dalam kandungan, dengan makanan yang mengandung kalsium tinggi. Karena itu, sejumlah rumah sakit kini telah memiliki klinik menopouse dan osteoporosis, di antaranya RS Ibu dan Anak Budhi Jaya, Jakarta. Penelitian untuk meningkatkan densitas tulang yang diarahkan pada golongan estrogen tumbuh-tumbuhan (fitoestrogen) juga dikembangkan.

Bertepatan dengan Hari Osteoporosis Dunia yang jatuh pada 20 Oktober, Ichramsjah berharap ada komitmen kuat dari pemerintah untuk turut serta menanggulangi masalah keropos tulang ini. Menghadapi ancaman epidemi osteoporosis, pemerintah harus membuat peraturan yang jelas mengenai pencegahan dan pengobatannya. Terutama pencapaian puncak kepadatan tulang dengan perbaikan gizi penduduk dan asuransi, tuturnya.

Para ahli teknologi Indonesia bisa diminta membuat alat densitometer agar dapat menurunkan harga alat dan biaya diagnostik. Selain itu, harus dibuka peluang untuk para petani menanam dan membiakkan tanam-tanaman fitoestrogen bermutu baik agar obat menjadi murah.

keluargasehat.com

Advertisements
%d bloggers like this: