Kanker Payudara : Bagaimana Hindari Berbagai Ancaman

Meninggalnya istri Perdana Menteri Malaysia makin menunjukkan bahwa kanker payudara masih menjadi ancaman bagi perempuan.

Meski mendapat dukungan layanan terbaik, perjuangan melawan kanker payudara tidak selalu berhasil. Maka masyarakat perlu memahami cara menghindarkan diri dari kanker payudara serta cara deteksi dininya.

Kanker payudara merupakan kanker tersering dijumpai di Rumah Sakit (RS) Kanker Dharmais. Harianto dan Hukom melaporkan, 40 persen pasien yang berobat ke Dharmais pernah berobat ke rumah sakit lain. Mereka umumnya datang karena ada kekambuhan. Adapun kasus kanker payudara baru yang terdiagnosis di RS Kanker Dharmais umumnya pada stadium lanjut, hanya 13,4 persen yang terdiagnosis pada stadium I atau II.

Mereka dalam rentang usia 27-81 tahun, dengan usia tersering 48 tahun. Terdapat kecenderungan kasus yang terdiagnosis pada usia semakin muda. Perubahan gaya hidup ”di antaranya konsumsi makanan berkadar lemak tinggi”diduga menjadi pemicu.

Di Asia sebenarnya insiden kanker payudara masih rendah: 20 kasus baru di antara 100.000 penduduk. Adapun di Amerika Serikat dan kebanyakan negara maju jauh lebih tinggi: 100 kasus baru per 100.000 penduduk dan sekitar 40.000 akan meninggal akibat penyakit ini. Namun, kemajuan ilmu kedokteran kini memberikan harapan dalam upaya pencegahan maupun hasil terapi.

Faktor risiko

Faktor risiko dapat internal (dari dalam tubuh) berupa genetik dan hormonal, serta eksternal (dari luar tubuh) berupa diet, konsumsi alkohol, radiasi, pengobatan hormonal, pestisida dan pencemaran lingkungan, paparan di tempat kerja, serta paparan gelombang elektromagnetik.

Faktor eksternal dapat dihindari dengan mengurangi konsumsi lemak dan alkohol serta mengenali situasi lingkungan yang memicu zat karsinogenik seperti pestisida dan cairan pembersih. Paparan di tempat kerja, misalnya, instalasi nuklir dan pekerja radiasi.

Pemberian obat hormonal juga harus diwaspadai dan tetap dalam pengawasan tenaga medis. Penggunaan KB hormonal seperti pil atau suntik KB tidak dianjurkan lebih dari lima tahun dan perempuan yang telah berusia di atas 35 tahun harus lebih berhati-hati menggunakannya.

Sementara itu, mengenali faktor risiko internal merupakan salah satu upaya mengenali perubahan dalam tubuh, dimulai dari masa haid pertama hingga menopause.

Payudara perempuan mempunyai evolusi hormonal yang kompleks sedangkan pria tidak sehingga kanker payudara pada pria sangat jarang. Dimulai dari pubertas hingga menopause “diselingi periode hamil dan menyusui” perempuan mengalami perubahan hormonal terus-menerus. Saat itulah ada kemungkinan perubahan sel dalam payudara sehingga terjadi mutasi sel. Apabila kerusakan sel berlanjut, perubahan hormonal terus berlangsung dan ditambah berbagai risiko faktor eksternal, maka mutasi sel dapat berkembang menjadi sel kanker.

Oleh karena itu haid pertama di bawah 12 tahun, menopause di atas 55 tahun, serta tidak pernah hamil merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan paparan hormon estrogen terus menerus yang dapat jadi pemicu.

Genetik merupakan faktor penting pula karena kejadian kanker payudara akibat kelainan genetik sebesar 5-10 persen. Mengenalinya cukup mudah, yaitu dengan mengumpulkan riwayat keluarga yang terkena kanker dan memetakannya dalam bentuk silsilah (pedigree).

Riwayat kanker yang perlu dicatat di antaranya adalah kanker payudara atau indung telur pada tante atau keponakan lebih dari 2, ibu atau saudara perempuan kandung terkena kanker payudara atau indung telur pada usia di bawah 50 tahun. Dengan membuat pedigree, dapat dihitung faktor risiko genetiknya.

Pemeriksaan lanjutan pada pedigree yang berisiko tinggi adalah pemeriksaan genetik yang disebut gen BRCA1 dan BRCA2. Karena melibatkan pasien dan keluarga, pemeriksaan genetik ini harus melalui beberapa tahapan termasuk konseling.

Saat ini telah terdapat laboratorium yang dapat memeriksa kelainan gen ini yaitu laboratorium RS Sardjito/FK UGM dan bekerja sama dengan institusi di Belanda untuk kesahihan hasil pemeriksaan.

Upaya medis yang dapat dilakukan adalah pencegahan dengan kemoterapi (chemoprevention), pengangkatan payudara dan indung telur, serta pemeriksaan secara terus-menerus serta teratur (surveillance).

Kemajuan diagnostik

Pemeriksaan diagnostik merupakan salah satu upaya menemukan kanker dalam stadium dini. Mengenali benjolan pada payudara dapat dilakukan dengan pemeriksaan payudara sendiri (sadari) secara teratur.

Benjolan yang ditemukan dengan sadari teratur berukuran 1,5-2 cm, sedangkan benjolan yang tidak sengaja teraba biasanya telah berukuran di atas dua cm (terbanyak tiga cm). Bila benjolan tersebut adalah kanker, dua cm dan tiga cm adalah bermakna, yaitu stadium I dan II.

Tenaga medis juga melatih diri untuk mengenali kelainan pada payudara sehingga selain dapat menerangkan berbagai kelainan pada payudara juga dibekali keterampilan perabaan payudara atau yang disebut clinical breast examination (CBE). Sadari dan CBE adalah cara mudah dan murah untuk menemukan benjolan.

Pemeriksaan lanjutan setelah menemukan benjolan adalah USG payudara. Alat ini juga tersedia di berbagai klinik dan rumah sakit dan dapat dengan mudah membedakan benjolan berisi cairan (kista) dengan benjolan padat (solid). Pemeriksaan ini sering dilakukan pada perempuan usia di bawah 35 tahun yang jaringan payudaranya masih cukup padat.

Pada perempuan usia di atas 35 tahun pemeriksaan pertama yang dianjurkan adalah mamografi. Dengan mamografi, kelainan yang teraba atau tidak teraba dapat terlihat dan mempunyai gambaran yang khusus sehingga dapat dibedakan tumor jinak atau ganas.

Pada perempuan usia muda dan telah terbukti terdapat mutasi genetik maka pemeriksaan yang dianjurkan adalah magnetic resonance imaging (MRI) payudara.

Terapi stadium dini

Stadium dini berhubungan dengan ukuran tumor yang ditemukan. Apabila ukuran tumor semakin kecil, semakin besar jaringan payudara yang dapat diselamatkan. Saat ini teknik operasi telah memungkinkan hal tersebut, yaitu yang disebut breast conserving treatment/surgery (BCT/BCS).

Dengan sedikitnya jaringan payudara yang diangkat, secara kosmetik payudara dapat dipertahankan. Menilai adanya penjalaran kanker payudara pada kelenjar getah bening ketiak juga merupakan bagian dari teknik operasi ini, yang pemeriksaannya disebut prosedur sentinel.

Kekambuhan dengan metode ini 5-10 persen dalam dua tahun pertama sehingga diperlukan kontrol teratur. Apabila terdapat kekambuhan, dilakukan pengangkatan payudara seluruhnya dalam rangka penyelamatan (salvage). Penyinaran atau radiasi merupakan lanjutan pengobatan dari metode ini untuk mencegah kekambuhan.

Saat ini peralatan radioterapi telah sangat maju dan dosis radiasi dapat ditentukan dengan tepat sehingga komplikasi akibat radiasi dapat diperkecil.

Penggunaan kemoterapi pada kanker payudara akan dipertimbangkan bergantung pada hasil pemeriksaan jaringan (histopatologi). Ada kecenderungan para pakar menggunakan kemoterapi pada pasien kanker payudara usia muda mengingat sifat sel yang lebih agresif.

Terapi stadium lanjut

Jika tumor sudah berukuran di atas lima cm, pilihan operasi menjadi lebih sempit, yaitu pengangkatan seluruh payudara dan kelenjar getah bening ketiak. Penyinaran atau radiasi menjadi pilihan apabila telah terdapat luka yang tidak bisa kering.

Pada stadium lanjut terdapat kemungkinan sel kanker telah menyebar ke organ lain, misalnya, tulang, paru-paru, hati, serta otak. Kemungkinan ini sebenarnya dapat diketahui dengan temuan yang disebut faktor prognostik, seperti status kelenjar getah bening regional, jenis histopatologi, reseptor hormon, growth factors, kecepatan proliferasi, cathepsin D, dan adanya HER2/neu.

Imunoterapi merupakan kemajuan mutakhir dalam pengobatan kanker, termasuk payudara, karena ditujukan pada sel kanker saja tanpa merusak sel normal. Sekitar 30 persen wanita dengan kanker payudara mempunyai terlalu banyak yang disebut Her2-neu oncogen, sehingga sel-sel normal mendapat perintah untuk bertumbuh dan membelah diri secara terus-menerus dalam jangka waktu lama, yang mengakibatkan terjadinya sel kanker.

Pengobatan dengan menggunakan Herceptin atau antibodi terhadap onkogen tersebut mengakibatkan jalur perintah tersebut terputus sehingga sel kanker akan mati.

Kepedulian

Seperti negara berkembang lainnya, infeksi masih merupakan masalah utama. Namun, kanker merupakan penyakit tidak menular yang cenderung meningkat.

Dari data Departemen Kesehatan, berdasarkan SKRT 1995 dan 2001, neoplasma yang tadinya berada di urutan kesembilan naik ke urutan lima.

Diperlukan kerja sama, baik dari Departemen Kesehatan dan yayasan yang bergerak di bidang kesehatan, untuk menanggulangi masalah ini, antara lain Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (YKPJ) dengan RS Kanker Dharmais.

Pelatihan bagi tenaga medis sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kepedulian mereka. Tenaga medis yang diutamakan adalah yang berhubungan langsung dengan masyarakat, seperti perawat dan bidan serta dokter puskesmas.

Pelatihan sederhana seperti pemeriksaan payudara klinis (CBE) diharapkan dapat memilah kelainan payudara yang bukan kanker (khususnya kista payudara) serta dapat merujuk kelainan yang mencurigakan ke arah kanker.

keluargasehat.com

Advertisements
%d bloggers like this: