Mengenal Lupus Si Penyakit Misterius

Gejala awal lupus yang sering menyerupai penyakit lain sehingga kerap di sebut ”penyakit seribu wajah”.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menandakan ketidaktahuan masyarakat terhadap penyakit lupus. Padahal, penyakit yang sudah dikenal oleh ahli kedokteran sejak abad ke-19 itu bisa menyebabkan kematian. Dunia internasional sudah menganggap penyakit lupus ini sebagai penyakit yang harus diwaspadai.

Kepedulian itu, diperlihatkan dengan mulai mencanangkan hari Lupus Sedunia pada 10 Mei 2004. Yayasan Syamsi Dhuha berkampanye membagikan stiker Care for Lupus di tiga titik jalan yang ada di Kota Bandung untuk menyambut hari tersebut.

Menurut hematolog dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dan pemerhati lupus, dr Rachmat Gunadi Wacjudi Sp PD KR, lupus adalah penyakit autoimun yang terjadi karena sistem kekebalan tubuh beraksi berlebihan dan justru mengganggu kesehatan tubuh. Seharusnya, kata dia, sistem imun itu bertugas melindungi tubuh manusia dari serangan antigen (musuh berupa bakteri, virus, mikroba dan lain-lain).

”Belum ada yang mengetahui penyebabnya, pada lupus zat anti dan sel darah putih justru menjadi liar dan menyerang tubuh yang seharusnya dilindungi. Akibatnya, organ tubuh menjadi rusak dan gejala lupus muncul,” katanya.

Si peniru ulung

Gejala penyakit lupus, kata Rachmat, sering menyerupai penyakit lain. Sehingga, penyakit ini sering dijuluki ”si peniru ulung” atau ”penyakit seribu wajah”. Untuk mendiagnosis penyakit lupus dengan pasti, diperlukan pemeriksaan darah atau biopsi kulit.

Namun, lanjut Rachmat, gejala awal lupus yang sering timbul adalah ruam merah simetris pada wajah berbentuk seperti kupu-kupu, penebalan berbentuk koin pada kulit yang sering terkena matahari dan hipersensitif terhadap sinar matahari, sariawan yang hilang timbul, nyeri sandi, nyeri dada saat menarik nafas, kejang-kejang, terdapat kelainan darah, kelainan sistem kekebalan tubuh, dan tes ANA menunjukkan abnormalitas.

”Sampai sekarang, penyakit lupus belum bisa disembuhkan atau dicegah. Yang bisa dilakukan baru sebatas menghilangkan gejalanya. Yaitu, dengan mengkonsumsi obat-obatan seumur hidup, menjalani pola hidup tertentu dan menghindari stres,” ujarnya.

Jumlah penderita lupus, kata Rachmat, berdasarkan data terakhir di seluruh dunia sebanyak 5 juta. Sedangkan di Indonesia, jumlah penderitanya diperkirakan sekitar 200 ribu-500 ribu. Angka itu, diperoleh dari perbandingan 1:1.000, yang artinya dari 1.000 orang penduduk Indonesia di duga satu orang terkena lupus. Perkiraan jumlah penderita itu muncul karena, bangsa Indonesia adalah bangsa dengan kulit berwarna.

”Di Jabar sendiri jumlah penderita lupus saat ini yang terdata mencapai 700 orang. Setiap bulan misalnya di RSHS selalu ada 10 pasien lupus baru, pasien lupus di RSHS sampai sekarang sudah mencapai 380 orang,” kata Rachmat. Harapan hidup penderita lupus, kata dia, tergantung dari kondisi pasien. Di Amerika Serikat dan Eropa pada 1955 harapan hidup penderita lupus dalam kurun waktu lima tahun, kurang dari 50 persen. Sementara, pada 1991 telah mencapai 89-97 persen. Hal itu, terjadi karena adanya diagnosis lebih dini dan metode pengobatan yang lebih baik.

”Penyakit lupus kalau menyerang ke otak, ginjal dan organ tubuh penting lainnya akan membutuhkan biaya yang mahal. Obatnya, sehari membutuhkan dana Rp 300-500 ribu,” ujar Rachmat.

Kelompok yang peduli terhadap penyakit lupus, kata dia, masih masing-masing belum terorganisir dengan baik. Padahal, penderita lupus membutuhkan penanganan yang menyeluruh tidak hanya menangani sakitnya saja. Berdasarkan hasil penelitian terbaru, dari 180 penderita lupus di RSHS yang diteliti sekitar 40 persennya mengalami depresi. Depresi itu terjadi karena cemas, ketakutan, bingung dan lain-lain.

”Di RSHS, kami mulai membentuk tim yang terdiri dari multidispliner. Anggota tim itu terdiri dari dokter, psikolog, dan semua stake holders yang peduli lupus,” katanya.

Selain mengalami depresi, kata dia, hasil penelitian terbaru pun menunjukkan 50 persen penderita lupus mengalami osteoporosis. Padahal, penderita lupus rata-rata masih berusia muda. Yaitu, paling banyak berusia 17-35 tahun. Meskipun, memang rentang penderita lupus itu pada usia 6-73 tahun. Namun, usia yang tergolong anak-anak dan manula kasusnya sedikit.

Meneliti mahkota dewa

Sementara itu, menurut Sekretaris Program Farmasi ITB Dr I Ketut Adnyana, penelitian obat-obatan untuk penderita lupus masih jarang dilakukan. Karena, penyakit lupus masih asing untuk masyarakat termasuk peneliti. Namun, setelah mengetahui tentang penyakit itu ITB mulai mengembangkan penelitian untuk mencari obat yang bisa membantu meringankan penderita lupus. ”Salah satu tumbuhan yang sedang kami selidiki untuk obat radang penderita lupus adalah mahkota dewa,” ujar Ketut.

Mahkota dewa, sambung Ketut, memiliki senyawa yang sama dengan obat antiradang kimia. Kalau menggunakan obat antiradang kimia secara terus-menerus, kata dia, bisa menimbulkan efek samping. Sementara, kalau mengunakan mahkota dewa tidak akan ada efek samping sama sekali. Memang, Mahkota dewa tidak bisa mengobati penyakit lupus secara keseluruhan. Namun, bisa digunakan untuk terapi menyembuhkan radang. ”Penelitian kami sudah hampir selesai, yaitu tinggal melakukan uji klinis agar bisa diketahui seberapa besar keefektifan mahkota dewa itu. Namun, kami terhambat mengenai dana,” katanya.

Untuk melakukan uji klinis itu, kata dia, diperlukan dana sekitar Rp 150-200 juta. Kemungkinan besar, ITB akan bekerjasama untuk mendanai uji klinis itu. Setelah diuji klinis, kata dia, dalam waktu dua bulan obat sudah bisa dikonsumsi dan diproduksi secara masal.

”Indonesia itu kaya akan tumbuhan yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Kami yakin pasti ada tumbuhan yang bisa menyembuhkan penyakit lupus atau mengendalikan sistem imun tubuh tapi tentunya harus dilakukan penelitian,” ujarnya.

keluargasehat.com

Advertisements
%d bloggers like this: