Tuberkulosis pada Anak

Kasus: “Saya amat terkejut setelah mendengar penjelasan dari dokter bahwa anak saya yang berumur tujuh tahun terkena tuberkulosis paru.

Memang sudah agak lama nafsu makan anak saya menurun dan berat badannya juga agak turun.

Semula saya mengira keadaan ini disebabkan pelajaran di sekolah yang amat padat. Sering saya raba tubuhnya sedikit hangat, tetapi tak ada demam tinggi.

Ketika saya bawa ke dokter keluarga dikatakan infeksi tenggorokan. Memang tonsil anak saya agak membesar dan merah. Ternyata, terapi infeksi tonsil tidak memberi hasil baik. Dia tetap lemah dan kurang bersemangat padahal anak saya termasuk aktif.

Saya kemudian meminta dokter keluarga mengonsulkan kepada dokter spesialis anak. Dokter spesialis anak melakukan berbagai macam pemeriksaan, termasuk laboratorium, foto dada, dan tes tusukan di tangan. Setelah itu disimpulkan penyakit kronik anak saya disebabkan tuberkulosis.

Saya sama sekali tak menyangka anak saya akan terkena tuberkulosis karena sewaktu kecil dia mendapat imunisasi lengkap, termasuk terhadap tuberkulosis. Saya juga berusaha keras memberi gizi yang baik dan berbagai vitamin. Kami sekeluarga rasanya sehat-sehat saja. Suami saya bahkan olahragawan. Kebiasaan hidup sehat telah kami lakukan, tetapi saya harus menghadapi kenyataan anak saya tertular penyakit tuberkulosis.

Saya senang mendengar penjelasan dokter bahwa penyakit ini dapat disembuhkan, tetapi agak khawatir dengan terapi yang harus digunakan cukup lama. Apakah anak saya nanti akan mengalami efek samping obat? Apakah obat tersebut mengganggu kecerdasannya?

Anak saya sekarang duduk di kelas II. Meski kesehatan kurang baik, tetapi prestasi belajarnya amat membanggakan saya sebagai ibunya. Apa yang perlu saya lakukan agar pengobatan anak saya dapat mencapai hasil yang baik? Apakah dia dapat menularkan penyakitnya ke adiknya yang baru berumur empat tahun? Terima kasih atas penjelasan Dokter. “
(M di B)

Jawaban:
Penyakit tuberkulosis sering dijumpai di Indonesia, termasuk pada anak. Memang benar penyakit ini lebih sering dijumpai pada masyarakat yang lingkungan hidupnya kurang sehat dan penghasilannya rendah. Namun, itu tak berarti mereka yang telah hidup sehat dan cukup gizi tidak mungkin tertular.

Kita dapat tertular kuman tuberkulosis (TBC) jika kontak dengan penderita tuberkulosis. Anak Anda dapat kontak dengan penderita di luar rumah karena dia sudah bersekolah. Di rumah pun dia tidak hanya kontak dengan orangtua dan adiknya, tetapi juga mungkin dengan pembantu, sopir, atau orang lain yang tinggal di rumah Anda.

Imunisasi terhadap TBC tidak dapat menjamin sepenuhnya anak Anda tak akan terkena TBC. Diagnosis TBC pada anak kadang kala tidaklah mudah.

Anda beruntung karena diagnosis berhasil ditegakkan. Tinggal dilakukan terapi yang baik. Obat terapi TBC tersedia di Indonesia secara lengkap sehingga keberhasilan terapi lebih banyak ditentukan oleh ketaatan pasien minum obat.

Terapi TBC paru dilakukan dengan pengobatan gabungan obat antituberkulosis (OAT) paling sedikit selama enam bulan. Terapi biasanya diawali dengan fase intensif sekitar dua bulan. Pada fase ini OAT yang diberikan biasanya empat macam dan kemudian dilanjutkan dengan fase lanjutan yang jumlah obatnya lebih sedikit (biasanya dua macam).

Perlu diingat, pilihan obat, lama fase intensif, dan lama terapi secara keseluruhan tergantung pada keadaan penyakit penderita. Anda dapat menanyakan kepada dokter anak Anda tentang rancangan terapinya.

Saya gembira Anda juga peduli pada efek samping obat karena kepedulian Anda dapat membantu mengenal kemungkinan timbulnya efek samping tersebut. Namun, saya juga berharap agar Anda tak terlalu takut pada efek samping OAT karena umumnya efek samping tidaklah berat dan jika terjadi dapat diatasi. Perlu juga Anda ketahui hanya sebagian kecil orang yang minum OAT mengalami efek samping obat, sehingga masalah efek samping obat mudah-mudahan tak menyurutkan niat pemberian terapi OAT kepada anak Anda.

Dari berbagai jenis OAT saya hanya akan membahas efek samping INH, rifampisin, etambutol, dan pirazinamid. Efek samping INH adalah hepatitis (radang hati), kekerapannya rendah pada anak-anak. Pada orang dewasa hepatitis karena INH dapat berkisar 0,3 sampai 3 persen. Efek samping lain adalah neuropati (rasa kesemutan di kaki dan tangan), tetapi biasanya dapat diatasi dengan pemberian obat vitamin B6. Sedangkan efek samping yang biasa dijumpai pada rifampisin adalah kelainan kulit (gatal) dan hepatitis. Etambutol dapat menimbulkan efek samping pada mata, tetapi kekerapannya kurang daripada 1 persen. Namun begitu, dalam pemberian etambutol sebaiknya dilakukan pemantauan mata. Pirazinamid juga dapat menimbulkan efek samping pada hati.

Umumnya, jika terjadi efek samping, OAT dihentikan sementara atau digunakan kembali dengan dosis bertahap atau diganti. Efek samping OAT umumnya dapat diatasi dan terapi OAT dapat dilanjutkan sampai penderita sembuh.

Dengan perhatian dan dukungan Anda sebagai ibu, saya percaya anak Anda akan dapat menyelesaikan terapinya dan mencapai kesembuhan.

keluargasehat.com

Advertisements
%d bloggers like this: