Penggunaan Obat Batuk pada Anak

Batuk merupakan gejala yang paling mengganggu pada anak dengan infeksi akut saluran nafas atas.

Dalam praktek sehari-hari peresepan obat batuk seringkali tidak didasarkan pada pemahaman dan pertimbangan yang baik mengenai manfaat dan risikonya sehingga terjadi penggunaan obat batuk yang kurang rasional. Contoh yang sering terlihat sehari-hari ialah peresepan terlalu banyak jenis obat batuk dalam satu resep (polifarmasi) dan/atau penggunaan dosis yang terlalu tinggi, dikatakan dr. Rianto Setiabudy, saat seminar Strategi Pendekatan Klinis Secara Profesional Batuk pada Anak, beberapa waktu lalu, di Jakarta.

Ada berbagai obat pereda batuk yang digunakan di Indonesia, misalnya kodein, dekstrometorfan, prometazin, berbagai antihistamin lainnya, mukolitik, dll. Walaupun digunakan secara luas ternyata sebagian obat ini mempunyai efikasi yang tidak melebihi plasebo, sebagian lagi efikasinya tidak berdasarkan evidence-based medicine. Sementara itu diketahui pula bahwa pada umumnya obat-obat ini mempunyai efek samping.

Berdasarkan saat terjadinya, para ahli umumnya membagi batuk dalam 2 kelompok yaitu batuk akut dan batuk kronik. Batuk akut akan mereda dalam 1-3 minggu walau tidak diberi obat apapun karena self-limiting.

Tata laksana batuk kronik harus didasarkan pada upaya mencari dan mengatasi penyebabnya, bukan dengan menambah jenis atau dosis obat batuk. Etiologi batuk kronik pada anak juga ternyata seringkali berbeda dengan etiologi pada orang dewasa.

Pada tatalaksana batuk kronik dianjurkan untuk melakukan “watch, wait dan review.”

Dalam menggunakan obat batuk juga perlu dipahami bahwa batuk adalah salah satu bentuk mekanisme pertahanan tubuh yang penting. Oleh karena itu refleks batuk ini tidak boleh ditekan terlalu hebat dengan obat-obatan, sekalipun manifestasinya ialah batuk kering.

keluargasehat.com

Advertisements
%d bloggers like this: