Salesma Pun Bisa Mengarah pada Asma

Sejauh ini belum ada tanda-tanda penemuan untuk penyembuhan alergi.

Salesma mungkin istilah yang biasa kita dengar sehari-hari. Itulah yang tampaknya dialami Aji (9 tahun). Hampir setiap pagi, ia menderita bersin, hidung berlendir, dan gatal-gatal.

Herannya, menjelang siang, gelaja itu lenyap begitu saja. Menurut dokter, ia menderita rhinitis alergika alias salesma karena alergi akibat udara dingin. Alergi memang penyakit akibat reaksi tubuh terhadap pencetusnya (disebut alergen).

Mengarah pada asma

”Sejauh ini alergi belum ada tanda-tanda akan obat penyembuhnya,” Profesor Karnen Bratawijaya SpPD KAI, FAAAAI, yang disampaikan dalam pembahasan mengenai rhinitis alergika (RA) di Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP), di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Padahal, kata ahli alergi dan imunologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, jumlah kasus penderita alergi semakin meningkat dalam kurun 30 tahun terakhir. Sedangkan jumlah penderita dalam populasi pun terhitung tinggi. Jika alergi terjadi pada saluran pernapasan, dua penyakit yang paling sering tampak adalah rhinitis dan asma. Tak jarang, penderita rhinitis juga menderita asma. Bahkan kata Karnen, ”Hampir semua kasus asma diawali dengan RA”.

Faktor-faktor yang mendorong terjadinya reaksi alergi, antara lain riwayat keluarga (bersifat genetis), lingkungan yang semakin banyak polusi, pola makan, dan seluruh reaksi alergen semasa dalam kandungan, hingga lahir, dan semasa bayi.

Salah satu faktor lainnya adalah soal kebersihan. Salah satu pencetus alergi misalnya debu. Karnen menyarankan agar menjaga kebersihan ruang tidur dari debu.

Namun Karnen menyebutkan, ”Terlalu higienis pun tidak baik.” Mengapa? Karena daya tahan tubuh tidak pernah dirangsang untuk kebal terhadap pencetus alergi. ”Jadi kalau ada infeksi, biarin aja, kecuali karena virus.” Meski demikian, bukan berarti RA dibiarkan tanpa penanganan medis. Jika dibiarkan, RA bisa mengarah pada asma. Walau pun asma bukan penyakit berat, kata Karnen, namun penyakit ini mempengaruhi kualitas hidup penderitanya.

”Jadi pencegahan asma harus dilakukan sedini mungkin.” Obat antihistamin (berfungsi menghilangkan gatal-gatal), dinilai Karnen bukan satu-satunya pengobatan untuk RA. Profesor yang telah berusia 76 tahun ini kembali menekankan pentingnya mengontrol lingkungan agar tidak memicu alergi, misalnya menghindari debu.

Empat gejala RA

Alergi di bidang THT (telinga, hidung, dan tenggorokan) ternyata tiak saja meliputi lapisan lendir pada hidung atau pada sinus. Alergi ini bisa terdapat pada rongga mulut, tenggorokan, lidah, saluran pada telinga bahkan bisa mencapai pembuluh darah arteri besar di kepala dan otak.

Menurut Dr dr Tedjo Oedono Sp THT pada kesempatan sama di RSPP, adalah empat gejala utama yang menentukan pasien menderita RA. Gejala tersebut adalah pilek, bersin, buntu hidung, dan gatal hidung (sebelumnya, gejala gatal hidung tidak masuk dalam ciri RA). Jika dicurigai menderita RA, dokter akan melakukan pemeriksaan lainnya.

Meski terlihat ringan, kata Tedjo, namun RA sebenarnya cukup mengganggu penderitanya. Bagi penderita ringan, misalnya, RA bisa menanggung pola tidur, dan mengganggu aktivitas lainnya seperti sekolah, kerja, bahkan aktivitas sosial.

Sedangkan penderita RA derajat sedang hingga berat, dapat diikuti dengn komplikasi penyakit lain. Gangguan lainnya adalah polip hidung dan gangguan fungsi pada telinga.

Tedjo banyak menemui kasus alergi coklat dan telur di Yogyakarta. ”Jadi setelah mengonsumsi coklat atau telur, larynx (tenggorokan, red) langsung tertutup. Jika obat tidak mempan, terpaksa langsung tracheostomy.” Tracheostomy adalah melubangi tenggorokan agar udara bisa masuk ke saluran pernapasan.

Tedjo pun menguraikan startegi penanganan RA pada pasien. Hal yang terutama adalah pencegahan sejak masa kehamilan, saat bayi baru lahir, hingga periode usia 2 sampai 4 tahun. Pada masa kehamilan, misalnya, janin pun sudah bisa bereaksi terhadap si pencetus alergi alias alergen. Jika ia kuat, alergen akan tertolak. Namun jika ia lemah, maka janin akan gugur.

Langkah berikut adalah pasien yang terlanjur alergi harus menghindari alergen. Jika ia alergi terhadap debu, maka ia harus menghindarinya.

Hal ini menunjukkan pentingnya edukasi atau pemberian informasi kepada pasien mengenai RA. Menurut dr Umar Said Dharmabakti Sp THT, ”Langkah edukasi pada pasien amat penting, karena ia harus mengetahui sebab dan akibatnya”.

Langkah lainnya adalah farmakoterapi atau pemberian obat-obatan. Jenis obat yang diberikan biasanya antihistamin, kortikosteroid, pelega saluran napas, dan lain-lain.

Langkah berikutnya adalah imunoterapi yaitu pemberian vaksin. Imunoterapi dilakukan misalnya jika cara farmakologis tidak menunjukkan kemajuan yang diharapkan. Jangan lupa, untuk langkah ini, pasien harus dipantau sekurangnya selama 20 menit setelah disuntik.

Langkah terakhir jika terpaksa adalah tindakan operasi. Langkah ini dilakukan untuk menyingkirkan penghambat saluran pernapasan. Namun menurut Umar, operasi ini tidak menyelesaikan masalah begitu saja. ”Pasien biasanya berharap, setelah dioperasi masalahnya langsung beres. Padahal setelah operasi, alerginya tetap harus ditangani.” Bagaimana pun, jangan abaikan salesma Anda.

keluargasehat.com

Advertisements
%d bloggers like this: