Jeddah Bukan Miqat

Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA, Lc

Apakah Jeddah bisa menjadi miqat sebagai pengganti Yalamlam, karena sebagian ulama membolehkannya?

Jawab:
Dalil dalam menentukan miqat adalah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

إِنَّ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَّتَ لأَهْلِ الْمَدِيْنَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ، وَلأَهْلِ الشَّامِ الْجُحْفَةَ، وَلأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ الْمَنَازِلِ، وَلأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ، هُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِنَّ مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ، وَمَنْ كَانَ دُوْنَ ذلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan Dzul Hulaifah sebagai miqat bagi penduduk Madinah, Al-Juhfah bagi penduduk Syam, Qarnul Manazil bagi penduduk Najd, dan Yalamlam bagi penduduk Yaman. Miqat-miqat itu bagi penduduk negeri itu, dan selain mereka yang melewatinya untuk pergi haji atau umrah. Dan orang yang kurang dari jarak itu maka dia berihram dari tempat dia memulai, sampai penduduk Makkah berihram dari Makkah.”

Juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَّتَ لأَهْلِ الْعِرَاقِ ذَاتَ عِرْقٍ

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan Dzatu ‘Irqin sebagai miqat bagi penduduk Irak.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa`i)

Abu Dawud dan Al-Mundziri mendiamkan riwayat ini, sedangkan Ibnu Hajar dalam At-Talkhis mengatakan: “Hadits itu merupakan riwayat Ibnul Qasim, dari ‘Aisyah. Al-Mu’afa bin ‘Imran menyendiri dalam meriwayatkannya dari Aflah, dari Ibnul Qasim, dan Al-Mu’afa dapat dipercaya.”

Miqat-miqat ini berlaku bagi penduduk daerah tersebut, atau penduduk daerah lain yang melaluinya untuk pergi haji atau umrah. Adapun orang yang tinggal di dalam batas itu maka berihram dari tempat dia memulai ihramnya, sampaipun penduduk Makkah berihram dari Makkah. Namun orang yang hendak melakukan umrah sementara dia berada dalam wilayah tanah Al-Haram, maka dia keluar ke daerah yang halal (di luar batas Al-Haram, pent) lalu melakukan ihram dari situ. Sebagaimana hal ini terjadi pada ‘Aisyah dengan perintah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Abdurrahman bin Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma, saudara laki-laki ‘Aisyah, agar keluar bersama ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ke Tan’im untuk melakukan umrah. Hal ini terjadi setelah haji wada’.

Dan di antara miqat-miqat yang telah disebutkan adalah Yalamlam. Sehingga barang-siapa yang melewatinya untuk pergi haji atau umrah, baik penduduk Yalamlam atau bukan, maka ia berihram darinya. Bagi orang yang berada di pesawat udara, dia wajib untuk berihram ketika sejajar dengan miqat. Sebagaimana wajib pula bagi yang naik kapal laut untuk berihram apabila sejajar dengan miqatnya.

Jeddah merupakan miqat bagi penduduk Jeddah dan orang yang tinggal di sana apabila ingin haji atau umrah. Adapun menjadikan Jeddah sebagai miqat pengganti Yalamlam maka tidak ada dalilnya. Sehingga barangsiapa yang melewati Yalamlam dalam keadaan dia tidak berihram maka wajib membayar dam. Demikian juga orang-orang yang melewati miqat yang lain untuk pergi haji atau umrah. Karena miqatnya adalah Yalamlam, sementara jarak antara Makkah dan Yalamlam lebih jauh daripada jarak antara Makkah dan Jeddah.

Allah-lah yang memberi taufiq. Semoga shalawat dan salam-Nya tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para shahabatnya.

Al-Lajnah Ad-Da‘imah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta‘ (Panitia Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa (Saudi Arabia))
Ketua: Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil: Abdurrazzaq ‘Afifi

Dinukil dari Fatawa Al-Lajnah Ad-Da‘imah (11/125-127, no. 2279). Lihat pula pembahasan yang semakna dalam Taisirul ‘Allam (2/13-14) dan Fatawa Arkanul Islam karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (hal. 512 dan 518).

Demikianlah, hendaknya hal ini menjadi perhatian bagi setiap jamaah haji yang menginginkan kebaikan untuk dirinya. Solusinya mudah, yaitu dengan kita memulai memakai ihram sebelum naik pesawat atau ketika berada di atas pesawat. Kemudian bila sudah sejajar dengan miqat, kita berniat ihram dan bertalbiyah.

Selama anda berpegang dengan kebenaran, janganlah malu. Tidak usah peduli dengan cemoohan orang dan omongan mereka, karena ini adalah masalah serius: masalah ibadah.

HUKUM MENGULANG UMRAH DARI TAN’IM

Penjelasan: Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَرْدِفْ أُخْتَكَ عَائِشَةَ فَأَعْمِرْهَا مِنَ التَّنْعِيْمِ فَإِذَا هَبَطْتَ اْلأَكَمَةَ فَمُرْهَا فَلْتُحْرِمْ فَإِنَّهَا عُمْرَةٌُ مُتَقَبَّلَةٌ

“Boncengkan saudara perempuanmu ‘Aisyah, umrahkan dia dari Tan’im. Apabila engkau sampai di bukit maka perintahkanlah dia untuk melakukan ihram. Sesungguhnya itu adalah umrah yang diterima.” (Shahih, HR. Al-Hakim. Adz-Dzahabi mengatakan bahwa sanadnya kuat. Diriwayatkan pula oleh Ahmad, Abu Dawud dan lainnya, sebagaimana diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari dan Muslim dari jalan Abdurrahman bin Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma secara ringkas)

Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim disebutkan:

هَذِهِ مَكَانُ عُمْرَتِكِ

“Ini sebagai pengganti umrahmu.”

Dalam riwayat ini ada isyarat tentang alasan perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah untuk melakukan umrah setelah haji. Berikut ini penjelasannya:

‘Aisyah telah berihram dengan niat umrah ketika hajinya bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam… Tatkala sampai di Sarif –sebuah tempat di dekat Makkah– ia mengalami haid, sehingga tidak dapat menyempurnakan umrah dan tahallul dari umrah dengan melakukan thawaf di Ka’bah. Dan ‘Aisyah telah mengatakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya aku telah berniat umrah, maka bagaimana yang harus aku lakukan dengan hajiku?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Lepaskanlah ikatan kepalamu, sisirlah dan berhentilah dari umrah. Lalu niatkan haji dan lakukan seperti apa yang dilakukan oleh jamaah haji, tetapi engkau jangan thawaf dan jangan shalat sampai engkau suci.” ‘Aisyah pun melakukannya…

(Setelah selesai, ‘Aisyah mengatakan, -pent): “Orang-orang kembali dengan haji dan umrah. Sementara aku kembali dengan haji saja?” Sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang memudahkan urusan, bila Aisyah menghendaki sesuatu maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menurutinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengutusnya bersama saudara laki-lakinya, Abdurrahman, sehingga berihram untuk umrah dari Tan’im.

Dari riwayat-riwayat yang kami sebutkan ini –dan semuanya shahih– jelaslah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah memerintahkan ‘Aisyah untuk melakukan umrah setelah haji sebagai ganti dari umrah tamattu’ yang luput darinya karena haid. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lalu: “Ini sebagai ganti umrahmu”, maksudnya umrah yang terpisah dari haji, yang mana orang selain Aisyah telah bertahallul darinya ketika di Makkah, kemudian mereka memulai haji tersendiri.

Bila engkau mengetahui hal ini, nampak dengan jelas bagimu bahwa umrah ini khusus bagi orang yang haid yang tidak dapat menyempurnakan umrah hajinya. Sehingga hal ini tidak disyariatkan untuk wanita yang suci (tidak haid), terlebih lagi kaum lelaki. Dari sinilah nampak rahasia mengapa ulama salaf menghindari umrah tersebut. Nampak pula sebab penegasan sebagian ulama salaf tentang dibencinya hal itu. Bahkan tidak ada riwayat yang shahih dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sendiri bahwa beliau radhiyallahu ‘anha pernah mengamalkannya (lagi). Sungguh, bila beliau radhiyallahu ‘anha melakukan haji, lalu tinggal (di sana) sampai datang bulan Muharram, maka beliau pergi ke (miqat) Juhfah dan berihram darinya untuk umrah, sebagaimana disebutkan dalam Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah (26/92).

Dan yang semakna dengan ini telah diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitabnya As-Sunanul Kubra (4/344) dari (seorang tabi’in) Sa’id bin Al-Musayyib, bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha melakukan umrah di akhir bulan Dzulhijjah dari (miqat) Juhfah. Sanad riwayat ini shahih.

Oleh karena itu, Ibnu Taimiyyah berkata dalam Al-Ikhtiyarat Al-’Ilmiyyah (hal. 119): “Dibenci keluar dari Makkah untuk melakukan umrah sunnah. Itu adalah bid’ah. Tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya di masa beliau, baik di bulan Ramadhan atau selainnya. Juga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan ‘Aisyah untuk melakukannya, namun sekedar mengijinkannya setelah berulang-ulang meminta, untuk menenangkan kalbunya. Sementara thawafnya di Ka’bah (sebagai ganti umrahnya tersebut, pent) lebih utama dari keluarnya (untuk umrah) menurut kesepakatan (ulama). Namun hal itu boleh menurut orang yang tidak membencinya.”

Berikut ini adalah ringkasan dari sebagian jawaban Ibnu Taimiyyah yang tercantum dalam Majmu’ Fatawa (26/252-263), beliau mengatakan (26/264): “Oleh karena itu, para ulama salaf dan para imam melarang perbuatan itu. Sehingga Sa’id bin Manshur meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya dari Thawus –murid Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang paling mulia– bahwa dia mengatakan: ‘Orang yang melakukan umrah dari Tan’im, saya tidak tahu apakah mereka akan diberi pahala atau disiksa.’ Dikatakan kepada beliau: ‘Mengapa mereka disiksa?’ Beliau menjawab: ‘Karena ia meninggalkan thawaf di Ka’bah, lalu keluar sejauh empat mil, lalu datang lagi. Dan (seukuran) dia datang berjalan dari jarak empat mil, (sebenarnya) ia bisa thawaf 200 putaran. Dan setiap putaran di Ka’bah adalah lebih baik dari dia berjalan tanpa mendapat apapun.’ Riwayat ini disetujui oleh Al-Imam Ahmad.

‘Atha` bin As-Sa`ib mengatakan: ‘Kami melakukan umrah setelah haji, maka Sa’id bin Jubair (murid Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma) mencela kami karena perbuatan itu.’ Ada ulama yang lain yang membolehkan, namun mereka sendiri tidak melakukannya…”

Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zadul Ma’ad (1/3421): “Tidak pernah ada satu umrah pun dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara keluar dari Makkah seperti yang dilakukan kebanyakan orang-orang di masa ini. Umrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam semua hanyalah ketika beliau masuk ke Makkah. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tinggal di Makkah selama 13 tahun setelah turunnya wahyu namun selama itu sama sekali tidak pernah dinukilkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam umrah dengan keluar dari Makkah dahulu.

Sehingga umrah yang dilakukan dan disyariatkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah umrah orang yang masuk ke Makkah, bukan orang yang berada di Makkah lalu keluar ke tanah halal untuk melakukan umrah. Tidak ada seorang pun yang melakukan umrah semacam ini selama masa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sendiri, di antara seluruh orang yang bersama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itu karena ‘Aisyah telah meniatkan ihram untuk umrah lalu ia haid. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memasukkan haji pada umrahnya, sehingga ia melaksanakan haji qiran. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan kepadanya bahwa thawaf dan sa’inya antara Shafa dan Marwah telah mewakili haji dan umrahnya. Ia pun bersedih, karena teman-temannya (istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain, pent) kembali dengan haji dan umrah yang terpisah, dengan melakukan haji tamattu’, tidak haid dan tidak melakukan haji qiran. Sementara ia kembali dengan umrah yang terkandung dalam hajinya. Sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan saudara laki-lakinya agar mengumrahkannya dari Tan’im untuk menenangkan kalbunya. Sedangkan saudara laki-lakinya itu tidaklah ikut umrah dari Tan’im dalam masa haji itu. Demikian juga orang lain yang bersama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada yang ikut melakukannya.”

(diterjemahkan dan diringkas dari Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2626, juz 6 bagian pertama, hal. 255-259, oleh Qomar ZA)
asysyariah.com

%d bloggers like this: