Jum’at: Hendaknya Khutbahnya Pendek – Shalatnya Panjang

Oleh: Al Imam Shiddiq Hasan Khan (disempurnakan oleh Asy Syaikh Al Albani)

Dari ‘Ammar bin Yasir beliau berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَ قَصْرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فَقْهَهِ

“Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan pendeknya khutbah merupakan tanda kedalaman fiqihnya.” (HR. Muslim)

Maksudnya, di antara perkara yang bisa diketahui dengannya kefaqihan (kedalaman ilmu agama) seseorang. Setiap perkara yang bisa menjadi petunjuk untuk mengetahui sesuatu yang lain maka ia disebut dengan mainnah (alamat/tanda) baginya.

Pendeknya khutbah menjadi tanda kefaqihannya, karena seorang faqih adalah seorang yang mampu membaca berbagai hakekat makna-makna dan kata-kata yang jawami’ (ringkas, padat, dan mengena). Sehingga ia mampu mengungkapkan dengan banyak ungkapan dan berfaedah. Oleh karena itu kelengkapan riwayat hadits ini adalah,

فَأطِيلُوا الصَّلاَةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ, وَإنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا

“Perpanjanglah shalat, perpendeklah khutbah, dan di antara al-bayan (penerangan) itu adalah sihir.”

Dan yang dimaksud dengan panjangnya shalat adalah yang tidak membuat pelakunya terjatuh dalam larangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dulu melakukan shalat Jum’at dengan membaca surat Al Jumu’ah dan Al Munafiqun. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari Ibnu ‘Abbas dan dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu,

كَانَ  يَقْرَأ فِي الْعِيدَينِ وَ فِي الْجُمُعَةِ بـ( سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأعْلَى) و (هَلْ أتَاكَ حَديثُ الْغَاشيَة)

“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca dalam dua shalat hari raya dan shalat Jum’at: SABBIHISMA RABBIKAL A’LAA dan HAL ATAAKA HADIITSUL GHASYIYAH.”( HR. Muslim dan Abu Daud)

Pembacaan surat ini (dalam shalat) adalah lebih panjang dibandingkan dengan khutbahnya dan bukan panjang yang dilarang. Dari Ummu Hisyam binti Harits bin An Nu’man, ia berkata, “Tidaklah aku mengambil (mempelajari-pen) QAF WAL QUR’ANIL MAJID kecuali dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau membacanya setiap Jum’at di atas mimbar bila sedang berkhutbah kepada manusia.” (HR. Muslim)

Di dalamnya terdapat dalil atas disyariatkannya membaca surat atau sebagiannya dalam khutbah setiap Jum’at. Perlakuan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang terus-menerus terhadap surat ini adalah bentuk pilihan yang dari beliau dengan sesuatu yang lebih baik dalam pemberian nasehat dan peringatan. Di dalamnya juga terdapat dalil pengulangan nasehat dalam khutbah.

Ahkamul Jum’ah, karya Asy Syaikh Al Albani, penerbit Gema Ilmu Jogjakarta
ulamasunnah.wordpress.com

%d bloggers like this: