Pengaruh Penyebaran Kusta

JAKARTA – Buruknya kondisi kesehatan lingkungan banyak ditemui pada warga miskin. Lokasi ini disinyalir menjadi sarang yang nyaman untuk berkembangnya bakteri kusta.

Rasikin tak pernah mengerti mengapa kini tubuhnya dipenuhi bercak berwarna merah. Kemudian pada bercak tersebut juga terasa penebalan. Hingga akhirnya bercak merah tersebut memenuhi seluruh tubuhnya, hingga cuping telinga dan mukanya. Akhirnya, Rasikin mengetahui kalau ia mengidap kusta.

Indonesia dikenal sebagai satu dari tiga yang paling banyak memiliki penderita kusta. Di bawah India yang menjadi penyumbang penderita terbesar dengan 260.063 kasus, kemudian Brasil dengan 49.384 kasus dan Indonesia dengan 16.549 kasus.

Kusta atau lepra sendiri sebenarnya berasal dari bakteri bernama Mycobacterium leprae. Jenis bakteri ini juga dikenal dengan nama Hansen’s bacillus, lantaran ditemukan oleh seorang ahli fisika Norwegia bernama Gerhard Armauer Hansen, pada tahun 1873 lalu.

Secara etiologi, penyakit ini kemudian dikenal menyerang bagian syaraf tepi, dengan kebanyakan tanda inkubasi berada di kulit. Beberapa asumsi kemudian menyebutkan bahwa penyakit ini dapat ditularkan melalui udara. Biasanya terjadi pada udara yang mengandung bakteri leprae, yang dihirup manusia.

Selain itu, penyebaran juga diperkirakan terjadi akibat kontak langsung dengan luka penderita kusta. Namun ini biasanya hanya terjadi pada kusta tipe basah saja.

Penyakit kusta memang dikenal dengan dua macam tipe, yaitu bertipe basah dan kering. Pada tipe basah biasanya cenderung mudah menularkan pada orang lain. Jenis ini biasanya diidentifikasi dengan adanya tanda bercak keputihan atau kemerahan yang tersebar merata di seluruh badan. Sementara tipe kering cenderung tak menular, dengan tanda bercak putih dan mati rasa pada daerah bercak.

Selain proses penularan melalui udara, baru-baru ini diketahui juga bahwa proses penularan penyakit kusta dapat terjadi melalui air. Seperti terjadi pada beberapa kasus di bagian Jawa Barat dan Bekasi beberapa waktu lalu. ”Kemungkinan hal tersebut dikarenakan kurangnya persediaan air bersih,” papar Budi Haryanto, SKM, MSc, Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan FKM UI, Rabu (24/1) pekan ini.

Pencegahan

Oleh karena itu, menurut Budi, memang seharusnya kini masyarakat lebih memerhatikan kondisi kesehatan lingkungan di sekitar hidup mereka. Meskipun memang diakui proses terjadinya penyebaran kusta lebih berpotensi disebabkan kontak dengan penderita kusta, namun bukan hal yang merugikan bila tindakan pencegahan juga dilakukan dengan membersihkan kondisi lingkungan di sekitar mereka.

Caranya dengan tidak memakai air kotor sebagai alat untuk mandi, karena dikhawatirkan membawa bakteri kusta, serta menghindari memakai pakaian-pakaian bekas yang tidak jelas asal-muasalnya.

Sementara itu, menurut dokter spesialis kulit dan kelamin RSUPN Cipto Mangunkusumo, dr Sri Linuwih S Menaldi, kusta sebenarnya merupakan tipe penyakit menular yang daya tularnya sangat rendah. ”Seseorang yang tertular lepra biasanya baru mengetahui telah terinfeksi bakteri lepra setelah 40 hari, dan pada umumnya setelah 3-5 tahun. Terkadang bahkan mencapai waktu bertahun-tahun hanya untuk penampakan penyakitnya,” katanya.

Sulung Prasetyo / sinarharapan.co.id

%d bloggers like this: