Tumbuhan Kurangi Gangguan Darah

Sudah beberapa bulan ini, seorang teman tampak lebih lemah. Ia mengaku lebih cepat lelah, napas pendek, dan beberapa keluhan yang sering diutarakan. Ia malas makan.

Banyak alasan kenapa perempuan kerap merasakan hal itu. Beberapa asumsi mengungkapkan kalau penderita kurang makan ini makin membesar potensinya pada anak perempuan usia remaja.

Hal tersebut dimungkinkan terjadi, karena biasanya remaja putri semakin sadar penampilan. Kemudian dia tidak mau makan, karena takut gemuk atau jerawatan.

Terlepas dari itu semua, karena malas makan, tubuhnya malah kurang asupan gizi dan mineral. Pantas bila kemudian ia merasa cepat lemah. Malas makan juga berpengaruh pada kondisi darah, lantaran tidak adanya pasokan mineral Fe (besi) ke dalam tubuh. Gejala anemia atau kurang darah, ternyata banyak diderita perempuan.

Begitu hasil penelitian Fakultas Kedokteran Udayana Bali beberapa waktu lalu. Sebanyak 46 % dari total ibu hamil di Bali terkena anemia. Secara umum di Indonesia, ada sekitar 20 % perempuan, di mana 50 % di antaranya perempuan hamil dianggap mengidap anemia. Kalangan pria hanya 3 % yang kekurangan zat besi.

Perempuan yang mengalami anemia, apalagi yang sedang hamil, bisa menularkan pada anak yang dilahirkan. “Ibu hamil yang anemia akan melahirkan bayi yang anemia. Bayi anemia akan menjadi balita anemia, dan kemudian menjadi siswa sekolah dasar yang anemia,” papar Dr Adi Sasongko dari Yayasan Kusuma Buana yang dikenal mendalami hal ini.

Anemia menjadi makin menakutkan, ketika terungkap menjadi penyebab utama tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia. “Angka kematian ibu di Indonesia mencapai 307 per 100 ribu kelahiran hidup dan merupakan tertinggi di Asia Tenggara. Salah satu penyebab AKI yang dominan adalah anemia,” kata Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Anak, Maswita Djaja, di Palangkaraya akhir tahun lalu.

Satu-satunya cara yang kemudian dianggap mampu mengurangi prevalensi ini adalah melalui pemberian asupan besi bagi kalangan yang membutuhkan. Pada tumbuhan, elemen mineral yang dibutuhkan tersebut berasal dari kacang-kacangan, sayuran berdaun, tahu, kentang yang tidak dibuang kulitnya, roti yang terbuat dari gandum, dan tumbuhan padi-padian.

Melancarkan Darah

Selain memberikan asupan mineral Fe, tumbuhan juga ternyata berguna untuk melancarkan aliran darah seperti pemaparan yang diberikan Prof Dr Sumali Wiryowidagdo, pada kesempatan berbeda. Menurut ahli dari Pusat Studi Obat Bahan Alam Departemen Farmasi FMIPA UI ini, beberapa tumbuhan terbukti memiliki khasiat untuk sirkulasi darah. “Tumbuhan menjadi berkhasiat bagi darah, karena memiliki senyawa kimia yang bioaktif dan menghasilkan efek farmakologi,” paparnya.

Salah satu tumbuhan tersebut merupakan Crataegus Oxyacantha. Tumbuhan berdaun mirip seledri, dengan biji merah ini, dikenal sebagai obat tradisional dikalangan orang Eropa. Dengan kandungan Flavonoid di dalamnya, Crataegus menghasilkan efek farmakologi sebagai tonikum jantung, selain juga mampu menghasilkan hipotensiva, atau menurunkan tekanan darah.

Tumbuhan lain yang mampu melancarkan darah adalah Mellisa Officinalis. Dengan nama dagang “Lemon Balm”, tumbuhan ini secara tradisional dikenal berguna untuk mengurangi keresahan dan stres, serta membuat tidur lebih nyenyak. Dengan efek relaksasi seperti itu, sirkulasi darah mampu diperbaiki.

Ginko Biloba, jenis lain tumbuhan yang berguna untuk darah. Orang China percaya jenis tumbuhan ini mampu melancarkan aliran darah. Menurut Prof Sumali, hal tersebut terjadi karena adanya fungsi Terpenoids di dalam Ginko Biloba. “Dengan dosis 120-240 miligram per hari, akibat penjedalan darah dapat dikurangi,” urainya.

Bawang putih dan buah noni (Morinda Citrifolia) adalah jenis tumbuhan lain yang berguna untuk darah karena mampu memperbaiki sirkulasi darah sebagai antioksidan.

Sulung Prasetyo / sinarharapan.co.id

%d bloggers like this: