Otak Kiri dan Kanan Keong

Tak hanya berbagi gen yang mengatur sisi kiri dan kanan tubuh, siput juga memiliki persamaan lain dengan manusia, yaitu pemisahan tugas antara otak kiri dan kanan. Hal itu terungkap pada pertengahan November lalu oleh seorang mahasiswa tahun ketiga di University of Nottingham, Inggris, yang menunjukkan bahwa keong danau juga memiliki gen yang mengatur bagian kiri dan kanan otaknya untuk melakukan berbagai tugas berbeda, sama halnya dengan manusia.

Hayley Frend, nama mahasiswa tersebut, secara tak sengaja memperoleh temuan itu ketika mempelajari genetika dan kehidupan seksual keong danau Lymnaea stagnalis. Berkat temuan tersebut, studi keong danau yang dilakukan oleh mahasiswa Sekolah Biologi itu dimuat dalam Royal Society Journal Biology Letters.

Temuan Frend telah membuktikan kekeliruan asumsi bahwa manusia adalah satu-satunya organisme yang menggunakan kedua sisi otaknya untuk melakukan tugas berbeda. Berbagai riset memperlihatkan bahwa sejumlah vertebrata, misalnya ikan, bisa memakai otak mereka dengan cara yang sama. Frend juga menunjukkan bahwa perilaku kidal atau kanan tak terbatas pada binatang bertulang belakang saja.

Di bawah bimbingan Dr Angus Davidson, riset Frend menunjukkan bahwa handedness pada siput dalam perilaku berpasangannya sesuai dengan ketidaksimetrisan otak yang telah diprogram sebelumnya oleh gen sang induk.

Umumnya, siput air selalu berada di posisi kanan (dextral) terhadap cangkangnya, tapi terkadang ada individu sinistral. Keong dextral akan berputar berlawanan arah jarum jam, sedangkan keong sinistral berputar searah jarum jam. Konsekuensinya, bayangan cermin keong-keong itu berputar ke arah yang berlawanan dan mereka sering tak bisa kawin karena perbedaan itu.

“Amat mengejutkan bagaimana riset terhadap keong danau bisa membuka pemahaman tentang cara otak kita bekerja,” ujar Davidson. “Berbagai riset baru memperlihatkan bahwa fungsi efektif otak, entah pada manusia, ikan, atau invertebrata, memerlukan pemisahan belahan otak yang masing-masing melakukan fungsi terpisah. Jika spesialisasi ini telah berkembang dan berubah berulang kali, maka jelaslah ini amat penting bagi binatang.”

Sebelum penemuan Frend, para ilmuwan di Yale dan Cornell University menemukan bukti bahwa siput dan kepiting kidal memperoleh keuntungan dari ketidaknormalannya. Mereka memiliki peluang lebih tinggi dalam mempertahankan diri dari serangan. “Kami menyimpulkan satwa kidal memiliki keuntungan kompetitif sepanjang jumlah mereka tetap sedikit,” kata Gregory P. Dietl dari Yale University.

Berkat kidal pula keong bisa melepaskan diri dari hewan pemangsa yang umumnya bertangan kanan. Kepiting, misalnya, biasanya memiliki gigi-gigi khusus pada capit kanannya yang bekerja seperti pembuka kaleng untuk memecah dan mengupas cangkang keong. “Bila bertemu keong kidal, itu seperti memakai pembuka kaleng yang terbalik sehingga kepiting tidak bisa memangsa mereka,” tutur Dietl.

Mereka menghitung frekuensi gagalnya kepiting memangsa siput kidal yang ditunjukkan dengan guratan penyembuhan pada spesimen cangkang keong. Bahkan kepiting kanan kerap membuang siput kidal sebelum memecahkan cangkangnya. SCIENCEDAILY

Keong asal Indonesia

Sebagian besar keong memiliki cangkang yang menggulung ke kanan. Tapi satu keong Indonesia, Amphidromus perversus, ditemukan memiliki dua versi, yaitu bercangkang kiri (sinistral) dan bercangkang kanan (dextral).

Amphidromus perversus adalah spesies siput besar yang memiliki dua bentuk cangkang yang terbuka ke arah kanan (dextral) dan kiri (sinistral). Hingga saat ini, ada empat subspesies yang telah diketahui. Warna dasar cangkang siput jenis ini umumnya putih, kuning, atau jingga dan dapat dibedakan menjadi 12 macam berdasarkan bentuk pola warnanya.

Siput spesies ini dapat ditemukan di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Mereka juga bisa ditemukan di pulau-pulau sekitar kawasan itu.

1. Amphidromus perversus (Linnaeus1758)

Kelompok spesimen siput dextral ini memperlihatkan betapa luasnya ukuran dan bentuk spesimen dewasa yang ditemukan di Bali.

2. Amphidromus perversus form interruptus Muller, 1774

Pola warna gelap berakhir sebelum mencapai sutura di atasnya. Spesimen ini berasal dari Bali.

3. Amphidromus perversus form strigosus von Martens, 1867

Cangkang siput ini berasal dari Pulau Kadatua, sebelah selatan Sulawesi.

4. Amphidromus perversus form niveus P&F. Sarasin, 1899

Cangkang putih bersih. Spesimen ini berasal dari Sulawesi Selatan.

5. Amphidromus perversus form sultanus Lamarck, 1822

Pola warna gelap meliputi seluruh whorl sampai ke puncak sutura. Spesimen ini berasal dari Bali.

6. Amphidromus perversus butoti Laidlaw & Solem, 1961

Endemik di Pulau Kangean dan pulau kecil di sekitarnya. Subspesies ini memperoleh nama dari cangkangnya yang sangat berkilau sehingga hampir menyerupai kaca. Warnanya juga amat vivid. Kemungkinan ada dua koloni berbeda di pulau itu.

7. A. perversus butoti form infraviridis von Martens, 1867

Berasal dari Pulau Kangean. Warna dasar kehijauan pada siput ini dapat disebut butoti (bila tak dapat digolongkan sebagai subspesies). Tapi warna dasar hijau ini juga cocok dalam bentuk “infraviridis”, nama untuk pola itu sebelumnya.

8. A. perversus butoti form melannoma

Dari pulau kecil dekat Kangean. Laidlaw dan Solem menganggap bentuk melannoma ini sebagai subspesies berbeda yang hanya hidup di Kepulauan Riouw. Tapi tak ada nama untuk bentuk pola itu dari daerah tersebut.

9. Amphidromus perversus butoti form perversus Linnaeus, 1758

Berasal dari Pulau Kangean. Bentuk warna perversus mengacu pada spesimen berwarna kuning dari lokasi mana pun. Beberapa ilmuwan mengusulkan agar siput dengan cangkang ini dinamai Amphidromus perversus perversus Linnaeus, 1758.

10. Amphidromus perversus rufocinctus Fruhstorfer, 1905

Cangkang siput ini berasal dari Pulau Bawean, 66 kilometer pantai utara Jawa. Rufocinctus mempunyai arti “sabuk merah”. Sabuk cangkang ini sesungguhnya tidak berwarna merah, tapi cukup jelas terlihat di pinggiran bawah semua spesimen yang ditemukan.

korantempo.com

%d bloggers like this: