Mengapa Anak Mengalami Kesulitan Belajar Bicara

Dalam periode 24 tahun (Tahun 1971 sampai dengan 1995) Dr. James MacDonnald bekerja di Ohio State University, mendalami masalah Keterlambatan Bicara pada Anak. Sebagai seorang ahli Patologi Bahasa dan Wicara, ia melatih para terapis wicara dan orangtua untuk menjadi ‘rekan’ bicara dari anak-anak. Intinya, ia ingin mengajarkan orang dewasa untuk tidak mendominasi pembicaraan dan menjadikan anak sebagai ‘obyek’ dalam suatu pembicaraan. Sejak pensiun di tahun 1995, Jim mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk memimpin “Communicating Partners Center”. Ia telah membuat banyak tulisan mengenai Keterlambatan Bicara, sekaligus juga membuka forum diskusi “Communicating” di internet.

Di bawah ini adalah salah satu tulisannya yang merupakan analisa / hasil penelitian atas ribuan anak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangan verbal /bicara-nya. Yang penting untuk diingat dalam membaca tulisan-tulisan Jim adalah bahwa komunikasi berarti kemampuan bicara DAN mendengar yang berlangsung DUA ARAH.

Mengapa Anak Mengalami Kesulitan dalam Belajar Berbicara

Ini hanyalah sedikit dari sekian banyak masalah yang kami temui:

Keterbatasan Dalam Pendengaran

Seringkali ditemui kondisi medis sementara maupun kerusakan permanen dalam pendengaran anak

Perkembangan Otot Yang Lambat

Beberapa anak mengalami kesulitan melakukan gerakan mulut/rahang cepat untuk mengkombinasikan dan mengkoordinasikan apa yang ingin mereka katakan dengan suara & bahasa yang harus mulut mereka hasilkan

Kelambanan Dalam Mengerti Bahasa Orang Dewasa

Tidak mudah bagi anak untuk memproses panjang (dan cepat)-nya informasi yang di-‘ekspos’ oleh orang dewasa melalui bahasa ‘rumit’ yang mereka pakai

Sedikitnya Latihan Dalam Berinteraksi Dengan Orang Lain

Anak kurang mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain guna melatih kemampuan komunikasi mereka

Peran yang  Terlalu Pasif dalam Kehidupan Sosial

Kebanyakan anak lebih sering ditempatkan dalam posisi “menerima” dan tidak “memberi” dalam hubungannya dengan orang lain.Hal ini mengakibatkan tidak terbiasanya mereka berpartisipasi secara aktif; hal yang dibutuhkan dalam perkembangan bicara mereka

Cara Komunikasi “Kuno” Sudah Terlalu Nyaman Dipakai

Beberapa anak, khususnya dalam hubungan di dalam keluarganya, terbiasa dengan nyaman berkomunikasi menggunakan gerakan,bahasa tubuh maupun bunyi-bunyian saja. Hal ini boleh jadi merupakan cara komunikasi yang efektif di dalam rumah, namun tidak dalam lingkup masyaarakat, di mana anak butuh menggunakan bahasa secara verbal sampai ke tingkat kata-kata yang rumit

Orang Dewasa Tidak Menganggap Anak Mampu

Banyak orang dewasa tidak melibatkan anak dalam berkomunikasi, karena memiliki pemikiran bahwa anak tersebut belum mampu berpartisipasi aktif ataupun mengerti pembicaraan yang berlangsung.

Orang Dewasa Bicara Atas Nama Mereka

Seringkali orang dewasa bicara atas nama anak, sehingga mereka kelihatan tidak berbicara

Tidak Cukup Waktu Untuk Berbicara

Sering terjadi bahwa dalam suatu proses komunikasi, orang dewasa tidak menunggu cukup lama guna memberi kesempatan pada anak untuk merespon. Kebanyakan anak bersikap pasif dalam berkomunikasi, sepertinya mereka mengerti bahwa mereka tidak akan diberi kesempatan untuk bicara.

Terlalu Banyak Rangsangan

Sekalipun untuk niat dan tujuan yang baik, seringkali anak di’jejali’ dengan terlalu banyak bahasa, sehingga mereka kewalahan. Rasanya seperti anak yang sedang belajar menangkap bola, lalu dilempari beberapa bola sekaligus.

Terlalu Banyak Bahasa “Sekolah”; Kurang Bahasa Yang “Komunikatif”

Kebanyakan anak pada awal usianya diajarkan bahasa yang mencakup ‘warna’, ‘angka’, yang sebetulnya tidak terlalu bermanfaat dalam komunikasi sehari-hari. Anak membutuhkan rangsangan bahasa yang sifatnya praktis; mencakup kosa kata yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, karena mereka akan melatih kemampuan berbahasanya melalui kehidupan sehari-hari.

Terlalu Banyak Bahasa “Pertujukan”; Kurang “Obrolan” Sosial

Kebanyakan anak menggunakan bahasa untuk menunjukkan kemampuannya meniru sesuatu kepada orang dewasa; apakah itu sajak pendek, syair lagu, mengulang cerita yang didongengkan kepada mereka, dll. Hanya sedikit yang mendapatkan kesempatan untuk ‘ngobrol’ dan bertanya jawab secara santai, sehingga terbangun hubungan ‘pertemanan’ dengan orang yang berkomunikasi dengan mereka.

Terlalu Banyak Bermain Sendirian

Tentunya anak belajar banyak melalui permainannya dengan boneka, robot atau mainan lainnya. Namun untuk melatih kemampuan nya berkomunikasi, ia akan membutuhkan juga manusia yang melakukan pembicaraan timbal balik sesuai dengan kemampuan si anak.

sehatgroup.web.id

%d bloggers like this: