Hybrid Experience

Mobil hybrid atau hibrida sudah mendunia sejak beberapa tahun silam. Jadi, mobil bermesin dua atau lebih ini (biasanya ada dua, mesin bensin dan motor elektrik) sudah terbukti mampu menghemat penggunaan bahan bakar, serta memberikan kontribusi dalam penyelamatan lingkungan. Untungnya, tunggangan seperti ini sudah ada di tanah air. Namun, untuk lebih mengenalnya kembali OTOMOTIF akan membahas soal mobil hybrid ini.

Seri Dan Paralel

Sebenarnya, kendaraan hibrida ini sudah ada sejak dulu kala di tanah air. Masih ingat cerita kakek atau nenek soal sepeda motor DKW? Atau di era ’80-an ada motor merek Bhama Peugeot? Nah, selain memiliki mesin berbahan bakar bensin, kendaraan itu pun bisa dikayuh! Nah, melihat definisi itu, keduanya tergolong dalam kendaraan hibrida, karena menggunakan dua sumber tenaga penggerak.

hybrid1

Ada beberapa tipe hybrid. Series Hybrid, Parallel Hybrid dan Series/parallel hybrid. Apa sih bedanya? Pada umumnya mobil hybrid, yang menggunakan dua mesin, yaitu mesin berbahan bakar bensin dan motor elektrik, sistem Series Hybrid menggunakan satu mesin utama sebagai sumber daya penggeraknya. Yaitu mesin berbahan bakar minyak, sedangkan motor elektrik hanya membantu memberikan daya saat berakselerasi saja.

Sementara pada sistem Parallel Hybrid, sumber tenaga utama mobil adalah motor elektriknya saja, mesin bensin hanya berfungsi sebagai pemutar generator pengisi baterai yang jadi penyimpan listrik untuk sumber tenaga penggerak motor elektrik. Sedangkan Series/Parallel Hybrid merupakan gabungan keduanya, yang memungkinkan kedua sumber tadi, baik mesin bensin maupun motor elektrik bisa bekerja secara bergantian, bersamaan atau motor elektriknya saja.

Sistem kerja mesin saat akselerasi

Pada umumnya mobil hybrid saat ini menganut tipe Series/Parallel Hybrid ini. Dengan fleksibilitas dalam cara kerja mesinnya. Saat pertama mobil bergerak, motor elektrik akan menjadi sumber tenaga, lalu ketika sudah melaju, mesin bensin pun menyala, sambil terjadi proses pengisian untuk beterai.

Ketika cruising, misalkan pada kecepatan 80 km/jam, motor elektrik akan sesekali membantu memberikan tambahan tenaga untuk mesin bensin. Efeknya beban mesin bensin pun menjadi lebih ringan, dan konsumsi bahan bakar pun jadi lebih irit. Namun, ketika berakselerasi, keduanya akan memberikan daya dorong, dengan tambahan motor elektrik pun akan berputar maksimum. Efeknya, baterai pun lebih cepat terkuras. Namun tak perlu khawatir, karena proses pengisian pun berlangsung cepat.

Lantas kapan proses pengisian ini bisa terjadi? Pengisian baterai bisa dilakukan saat mobil sedang berjalan. Ada beberapa sumber yang digunakan, yaitu ketika tunggangan sedang melaju tanpa mendapat beban berlebih, maka mesin bensinnya akan mendapat tugas selain menggerakkan mobil, yaitu mengisi baterai. Kemudian, ketika deselerasi yang mengandalkan engine brake, begitu pedal gas tidak ditekan, mesin langsung mengisi baterainya. Terakhir saat terjadi pengereman. Tak mau membuang energi, saat pengereman berlangsung, proses regenerasi isi baterai pun berlangsung.

Sistem kerja mesin dan motor saat saat deselerasi

Ada hal yang kerap menjadi pertanyaan soal mobil hybrid. Kapan mesinnya hidup dan mati lagi? Memang, mesin bensin terhubung dengan motor elektrik yang sudah berputar sejak mobil bergerak. Jadi tak akan terdengar suara motor starter seperti pada mobil konvensional. Tahu-tahu, mesin bensin sudah menyala! Kemudian mesin pun bisa mati lagi dan mobil bergerak hanya dengan motor elektrik.

Apakah tidak tersendat-sendat jalannya? Memang, melihat perpindahan sumber daya yang bisa berlangsung saat mobil sedang berjalan akan mengundang kita berpikir kejadian tak menyenagkan saat perpindahan berlangsung, yaitu laju kendaraan pun tak halus alias tersendat-sendat. Nah, mengantisipasi kondisi itu, transmisi CVT yang memiliki rasio variabel itu menjadi pencegah mobil ndut-ndutan. Mau berpindah berkali-kali pun mobil akan melaju dengan lancar. Teknologi dibuat untuk memudahkan dan menyenangkan penggunanya, bukan?

Dengan Otomotif Hybrid Experience, OTOMOTIF mencoba salah satu mobil hybrid yang ada di tanah air, Toyota Prius. Tunggangan ini akan dicoba jalan dengan berbagai kondisi. Sehingga pembaca akan mendapat pengetahuan soal tunggangan hybrid ini.

Informasi mengenai sistem tenaga yang digunakan dapat dilihat di sini

hybrid2

Secara fisik, sama seperti mobil konvensional. Baik eksterior maupun interiornya, tak jauh berbeda dengan mobil yang sudah beredar sebelumnya. Namun, ada hal yang tak lazim, ketika kendaraan ini siap dijalankan.

Lampu-lampu indikator sudah menyala, termasuk display spidometer digital yang ada pada panel instrumen. Persis di sebelah display itu terdapat tulisan ‘Ready’. Nah, berarti Prius sudah bisa diajak meluncur. Soal suara mesin? Berpikirlah jauh-jauh untuk berharap mesinnya bisa terdengar. Sebab, kala baru meluncur, motor elektrik yang akan menjadi sumber tenaga penggerak.

Injak pedal gas dalam-dalam? Tak ada efek raungan mesin kalau posisi persneling ada di Neutral. Mobil pintar ini akan berpikir “Ngapain sih digas, kan mobilnya sedang tak bergerak!” Hahaha… Masih banyak pengalaman yang bisa dibagi nanti.

Sekilas memang mobil hybrida tak berbeda dibanding mobil biasa. Memiliki empat roda, bermesin penggerak, tetapi memiliki cara kerja berbeda. Seperti Toyota Prius yang diujicoba OTOMOTIF. Pada edisi sebelumnya dijelaskan cara kerja bermacam-macam sistem mobil hybrid yang ada. Nah, kali ini akan dijelaskan apa saja yang ada pada Toyota Prius.

Mesin Dan Motor Elektrik

hybrid3-1

Sumber penggerak pada Toyota Prius ada dua. Internal Combustion Engine (ICE) dan motor elektrik. Keduanya bisa bekerja sendiri-sendiri maupun kerja bareng (series/parallel hybrid). Semuanya tergantung kebutuhan yang sudah dikalkulasi oleh komputer pada mobil.

Mesin dengan pembakaran dalam atau ICE pada Prius, berbahan bakar bensin, memiliki kode yang mirip dengan Toyota Yaris atau pun Vios. Jika pada Yaris, Vios atau juga Toyota Echo menggunakan kode 1NZ-FE, pada Prius 1NZ-FXE. Perbedaannya ada di siklus kerjanya. Prius (1NZ-FXE) menggunakan siklus kerja Atkinson, sementara 1NZ-FE, siklus kerjanya siklus Otto, seperti mesin mobil lain pada umumnya.

Sementara tenaga bantuan ada pada motor elektrik, yang terpasang di antaran mesin bensin dan transmisi. Tugasnya cukup banyak, selain memberi tambahan tenaga buat mesin bensin, bisa juga bersolo karir menjalankan mobil dengan tenaga dari motor elektriknya sendiri. Motor elektrik ini pun berhubungan dengan mesin bensin yang bisa ‘hidup’ sewaktu dibutuhkan, sehingga mirip dengan ‘starter motor’.

Tentu kondisi itu jika ‘isi’ baterainya cukup, bukan? Nah, itu pekerjaan tambahan bagi motor elektrik itu, karena bisa juga berfungsi sebagai ‘generator’ pengisi baterai besar yang lokasinya di bawah jok belakang.

Baterai Raksasa

hybrid3-2

Ada baterai berukuran besar yang terletak di balik jok belakang hatchback ini. Penyimpan arus ini sudah melalui berbagai tipe, hingga mulai produksi 2004 hingga versi sekarang Prius menggunakan baterai Panasonic Metal Case Prismatic module.

Di dalamnya terdapat bahan Ni-MH (Nickel Metal Hydride) khusus untuk HEV (hybrid electric vehicle). Voltase nominal pada baterai raksasa ini adalah 201,6 volts, dengan kapasitas nominal 6,5 Ah.

Dibandingkan dengan baterai pada Prius generasi pertama, yang memiliki voltase nominal 288 volts dengan kapasitas nominal 6 Ah, tentu Prius generasi III ini jauh lebih efisien. Daya spesifiknya 1.300 W/kg, sementara versi sebelumnya hanya 800 W/kg (generasi I) dan 1.000 W/kg (generasi II).

Transmisi

Jika dijalankan, Prius akan terasa seperti menggunakan transmisi CVT, namun sebenarnya ini adalah peranti penting yang tidak ditemukan pada mobil konvensional, yaitu power split device yang menghubungkan mesin (ICE) dengan trasmisi dan motor elektrik berupa gigi planet (planetary gear).

hybrid3-3

Peranti ini bisa membagi tenaga dari mesin bensin dan motor elektrik atau pada saat hanya motor elektrik saja yang bekerja, bahkan ketika terjadi deselerasi, putaran roda pun menggerakkan motor elektrik yang sudah beralih fungsi menjadi generator yang mengisi baterai.

Transmisi yang menggunakan epicyclic gear ini, mampu membagi torsi dari putaran mesin menjadi putaran pada roda. Begitu juga saat motor elektrik berputar, gigi ini pun menyalurkannya pada roda. Tentunya semua komponen itu diatur oleh komputer yang mengkalkulasinya.

Toyota Prius memiliki beberapa perbedaan dibanding mobil konvensional. Tentunya dari ‘isi perut’ yang mengusung dua mesin. Tetapi ada hal lagi yang berbeda dibanding mobil biasa. Seperti beberapa fitur spesial yang hanya akan ditemui pada mobil hybrid buatan Toyota ini.

Layar Sentuh

Beberapa fitur pada Prius, sudah tampak ketika memasuki interiornya. Seperti tombol-tombol di setir yang bisa digunakan untuk mengatur AC, seperti temperatur kabin, kecepatan blower AC yang berhubungan dengan temperatur (AC Auto), kemudian beberapa tombol untuk sistem audio. Namun cukup mencolok adalah layar di tengah dasbor. Tak sekadar monitor yang menginformasikan operasional kerja mesin serta konsumsi bahan bakar saja, layar sentuh ini juga difungsikan sebagai kontrol AC, channel radio serta pada versi lain, menjadi layar monitor yang terhubung dengan kamera di belakang, saat mobil sedang mundur.

hybrid4

Layar sentuh yang multi fungsi

Dengan layar cukup besar, tentunya informasi di dalamnya mudah terbaca oleh seisi kabin. Tak perlu pusing soal tampilan, ada fitur pengubah background, contrast, bahkan bahasa yang diguakan pun bisa diatur. Kalau terasa menyilaukan tingkat sinarnya bisa diatur, jika ingin mematikan tampilan pun bisa.

Hal lain yang tidak umum adalah tuas transmisi. Fungsinya mirip dengan mobil matik pada umumya, yaitu ada D untuk drive, R untuk mundur (reverse) dan N agar posisi gigi netral. Namun pada Prius terdapat lagi pilihan yaitu B, fungsinya membuat efek engine brake lebih kuat lagi. Peranti ini sangat membantu kala mobil digunakan pada jalan menurun curam. Ada lagi yang berbeda, yaitu posisi P alias Park. Tak seperti mobil matik lain yang berada dalam satu kontrol tuas atau tombol dengan D, N dan R. Pada Prius posisi Park ini berada pada tombol terpisah.

Satu hal lagi, meski memiliki baterai raksasa di bawah jok belakang. Tetap sama dengan mobil lain pada umumnya, Prius pun masih menggunakan aki 12 volt biasa. Untuk apa fungsinya? Aki ini dipakai untuk sumber daya bagi beberapa aksesori dan komponen yang ada di mobil. Seperti lampu, blower AC serta aksesori lain di dalam kabin yang menggunakan listrik 12 volt. Soal emisi rendah dan konsumsi bahan bakar yang jauh lebih hemat dibanding mobil konvensional, akan dibahas pada edisi berikutnya.

Penulis : Benny / Foto : Istimewa
otomotifnet.com

%d bloggers like this: