Mengenal Dynamometer

Inertia Dynamometer Lebih Familier

Telinga kita sudah begitu familier dengan perangkat yang satu ini. Bahkan banyak dari kita yang menjadikan dynamometer sebagai salah satu alat yang super sakti untuk mengetahui performa mobil atau sepeda motor. Bila pengertian Anda selama ini seperti itu berarti sudah benar.

Dynamometer adalah alat yang diciptakan untuk menghitung torsi dan power mesin maksimal yang didapatkan pada putaran mesin (rpm) tertentu . Makanya banyak yang berpatokan pada dynamometer saat sedang melakukan modifikasi pada mesin khususnya yang mengacu pada peningkatan performa.

Berdasarkan pada prisnip kerjanya, Dynamometer dibagi menjadi dua. Brake based dynamometer dan inertia dynamometer.

“Yang membedakan keduanya adalah pada media yang digunakan untuk menyamakan/mengkalibrasi putaran roller dynamometer dengan putaran mesin yang sesungguhnya,” jelas Onggo pemilik sekaligus operator dynamometer dari Mototech, Yogyakarta.

Agar sama, putaran roller yang nantinya di kalkulasi ke dalam software dyno ini harus distandarisasi dengan diberi beban tambahan. Pada brake based dynamometer beban tersebut didapat dari penambahan beban gesek. Ada yang menggunakan air, angin, elektrik dan banyak lagi media yang di pakai untuk menambah gesekan.

Sedang pada inertia dynamometer tentunya memanfaatkan gaya inersia. Roller diberi beban bukan dengan menambah gaya gesek namun dengan menambah bobot roller itu sendiri. “Pada inertia dynamometer, gaya inersia dari roller ini sekaligus menjadi patokan kalibrasi antara satu dynamometer dengan dynamometer lainnya,” ungkap Robert Chong, mekanik tim balap Suzuki AHRS.

Dari kedua jenis dynamometer ini sebagian besar mekanik menganggap inertia dynamometer memiliki akurasi yang lebih baik ketimbang brake based dynamometer. “Brake based dynamometer rawan terjadi keausan alat. Sebagai alat ukur akurasinya memiliki kemungkinan untuk berubah-ubah,” jelas Onggo lagi. Maka tak heran jika di Indonesia banyak yang memilih menggunakan inertia dynamometer. Contohnya seperti yang digunakan Mototech dan AHRS yang sama-sama percaya produk Sport Devices tipe SP1.

Apa Saja Perangkat Dynamometer?

Sebelum mengenal perangkat dynamometer satu persatu. Kita harus tahu bahwa ada dua jenis dynamometer. Yaitu engine dynamometer dan chassis dynamometer. Keduanya dibedakan oleh cara melakukan pengukuran.

dyno2-1

engine dynamometer

dyno2-2

chassis dynamometer

Pada engine dynamometer hanya mesin saja yang diukur. Sebelum diukur, mesin harus dilepas dari chassis atau rangka kendaraan. Sedang pada chassis dynamometer kendaraan langsung diukur melalui penyalur daya terakhir yaitu roda. “Pada chasis dynamometer biasanya ada tenaga yang hilang pada penyalur daya seperti pada gear box, rantai gear, roda,” jelas Robert Chong.

Meski begitu tak banyak yang memiliki engine dynamometer. Chassis dynamometer masih menjadi pilihan dengan pertimbangan lebih praktis tanpa perlu mencopot mesin. Karena di Indonesia banyak yang menggunakan inertia dynamometer.

dyno2-5

Roller dynamometer

dyno2-6

Sensor suhu di leher knalpot

Maka diambil contoh produk Sport Devices tipe SP1 milik AHRS dan Mototech yang dilengkapi chassis untuk satu roda atau untuk sepeda motor. Yang pertama harus ada adalah meja yang mampu mengikat sepeda motor atau mobil dengan kuat. Meski roda berputar pada roler, namun tanpa pengikat yang kuat dikhawatirkan bila ban terlepas dari roller speda motor akan terlempar.

Selain itu adalah roller yang berada di meja. Bobot roller sudah memiliki standar baku seperti yang telah diterangkan di atas. Putaran dari roller ini lalu dikirimkan sekaligus dikonfersikan menuju konsol dynamometer.

dyno2-4

Konsol pengkonversi

dyno2-3

Output di PC

“Dalam konsol ini juga menerima berbagai macam data dari sensor suhu dari knalpot, bak mesin dan suhu udara sekitar,” tambah Robert. Selain itu terdapat pula sensor putaran mesin dan lain sebagainya. Data dari konsol tersebut lalu ditampilkan melalui software yang bisa dibuka dengan perangkat personal computer (PC). Di dalam software yang didapat satu paket dengan konsol ini bisa membaca berbagai macam data.

Apa Saja Data Hasil Test Dynamometer?

Minimal ada tujuh item data yang bisa didapat dari dynamometer. Mulai dari putaran roller, putaran mesin, power, torsi, suhu, perbandingan campuran bensin dan udara/AFR (air fuel ratio), dan lamda. Untuk lebih jelasnya mari kita jabarkan satu persatu.

dyno3-1

dyno3-2

1. Putaran Roller
Pasti awalnya berfikir buat apa data putaran roller? Karena yang dicari adalah putaran mesin bukan roller? “Putaran roller dan putaran mesin harus sama, kalau tidak berarti ada yang tidak beres,” buka Robert. Misal bila mesin terlalu bertenaga putaran mesin bisa lebih kencang dari putaran roller karena terjadi selip.

2. Putaran Mesin
Kalau data ini jelas digunakan sebagai patokan melihat karakter mesin. Misalnya untuk dibandingkan dengan data lain, seperti saat melihat karakter power atau torsi tertinggi pada rpm tertentu? “Saat riset kita bisa dengan cepat mengetahui karakter mesin buatan kita, bila ada yang kurang cocok bisa langsung direvisi tanpa harus repot-repot menyuruh joki untuk mencoba,” tambah pria asal Batam ini.

3. Power dan Torsi
Data ini semua pasti tahu. Karena kebanyakan tes dyno dilakukan untuk mendapatkan data tentang tenaga dan torsi kendaraan.

4. Suhu
Sensor suhu biasanya di tempatkan pada knalpot atau kepala silinder. Tujuannya sebagai acuan menentukan suhu aman dan ideal mesin. “Mesin bebek biasanya bekerja maksimal pada 130-140 Celcius. Jika motor lebih dari itu pasti tenaga drop dan riskan meleduk,” lanjut Robert yang tinggi kurus. Dengan data ini akhirnya bisa selalu mengontrol agar korekan kita tida melalui batas maksimal suhu ideal.

5. AFR
Data ini lebih difungsikan dan biasa dimanfaatkan untuk membantu setting sistem pengkabutan bahan bakar.

6. Lamda
Sedang data yang terakhir ini sebelas dua belas dengan bisa kita temui pada uji emisi. Dengan sensor di knalpot bisa diketahui kadar CO, HO, dan NOX pada gas buang.

Penulis/Foto : Popo
otomotifnet.com

%d bloggers like this: