Menanam Gandum di Kebun Kita

Oleh trubusid

Lebaran kali ini ketika orang mudik atau mengunjungi kerabat, Yuli Sungkowo justru sibuk memanen gandum di lahan 12 ha. Yang sudah-sudah ia memetik 4-5 ton biji gandum per ha. Pekebun di Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, itu bakal mengantongi omzet Rp192-juta per 12 ha.

Yuli Sungkowo, pekebun gandum sejak 2000, menjual biji gandum ke restoran, industri penganan, dan pekebun jamur dengan harga Rp4.000 per kg. Selain itu ia juga memasok benih kepada para pekebun dengan harga Rp7.500/kg. Dengan harga minimal Rp4.000/kg, total omzetnya Rp192-juta. Biaya produksi sejak tanam hingga penggilingan menjadi biji gandum Rp5-juta per ha sehingga laba bersihnya Rp132-juta per 12 ha.

Memasarkan gandum relatif mudah. Jika ada hambatan, ‘Saya tinggal telepon pabrik terigu, pasti gandum saya diambil,’ katanya. Tahun ini Yuli Sungkowo menuai 45 ha gandum yang akan dipanen hingga November 2008. Pekebun gandum seperti Yuli Sungkowo kini terdapat di berbagai daerah. Menurut Ir Risda Yulita MM, kepala Subdirektorat Serealia lain, sejak 2004 gandum dibudidayakan di 8 provinsi.

Selain Jawa Timur, anggota famili Poaceae itu juga dibudidayakan di Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, Bandung (Jawa Barat), Kepahiang (Bengkulu), Gowa (Sulawesi Selatan), dan Soe (Nusa Tenggara Timur). Itu seiring dengan gerakan pengembangan gandum yang dirintis Direktorat Budidaya Serealia. ‘Potensi beberapa daerah untuk pengembangan gandum cukup besar untuk mengurangi ketergantungan gandum impor,’ ujar Ir Siwi Purwanto, direktur Direktorat Budidaya Serealia.

Potensi besar

Menurut Jusuf Sutanto dari Indofood Sukses Makmur, gandum produksi lokal cukup berkualitas. Oleh karena itu bisa saja ia menampung produksi para pekebun. ‘Kalau produknya bagus, tak ada campuran plastik, apa yang mesti ditolak?’ kata Jusuf. Yang menggembirakan, produktivitas gandum Triticum aestivum yang ditanam para pekebun itu menjulang: 4-5 ton per ha.

Bandingkan dengan India yang lebih dulu menanam kerabat jagung itu. Para pekebun di negeri Anak Benua itu Cuma memetik 2-2,5 ton gandum per ha. Itu mematahkan mitos bahwa gandum tak dapat dibudidayakan di negeri ini. Menurut Prof Dr Tati Nurmala, ahli gandum dari Universitas Padjadjaran, produktivitas tinggi lantaran pengaruh pengembunan sehingga awn atau ekor biji mampu menangkapnya untuk kebutuhan tanaman.

Produksi melambung itu juga ditunjang dengan potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan gandum. Menurut Risda luas lahan yang sesuai untuk penanaman gandum di Indonesia minimal 2.068.692 ha tersebar di 16 provinsi. Penanaman gandum tak akan bersaing dengan sayuran seperti dilakukan para pekebun di Bromo, Jawa Timur. Mereka membudidayakan gandum sebagai tanaman penyela atau pergiliran untuk memutus siklus hidup hama dan penyakit sayuran, terutama kentang.

Toh, kita masih mempunyai 706.500 ha lahan potensial untuk pengembangan gandum. Di Indonesia gandum cocok dikebunkan di dataran tinggi beriklim kering. Namun, di beberapa daerah seperti Soe dan Merauke, gandum sangat adaptif ditanam di dataran rendah. Musababnya, adanya dukungan iklim mikro yang kondusif berupa embusan angin muson dari Australia.

Menurut riset Pusat Penelitian Tanah luas lahan kering dataran tinggi mencapai 25,38-juta ha tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Dari luasan itu hanya 15% atau 3.750.000 ha yang cocok untuk pengembangan gandum. Diperlukan 1-juta-1,5-juta ha untuk menutup impor gandum. Saat ini di terdapat 8 pabrik terigu berkapasitas 6.619.500 ton per tahun.

Namun, menurut Siwi Purwanto pengembangan gandum lokal bukan untuk menggantikan impor. ‘Pengembangan gandum ini hanya untuk mengurangi volume impor. Kita sudah sangat tergantung pada gandum impor. Jika ini diteruskan akan bermasalah,’ kata Siwi. Berapa besar volume impor yang harus dikurangi, menurut Siwi sebanyak-banyaknya. Setiap tahun Indonesia menanam rata-rata 400 ha. Jika produksi rata-rata 3 ton per ha, mengurangi 1.200 ton jatah impor setahun.

Meluas

Singkat kata produktivitas gandum relatif tinggi, tersedia lahan, pasar pun terbuka. Itu jelas kabar gembira bagi pengembangan gandum di Indonesia. Harap mafhum impor gandum Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Badan Pusat Statistik mencatat Indonesia mengimpor 4.519.000 ton gandum senilai US$655.954.000 pada 2005. Setahun kemudian angka itu melambung menjadi 4.640.000 ton (US$676.420.000). Pada 2007 Indonesia mengimpor 4.770.000 ton (US$697.524.000)

Apalagi belakangan harga gandum di pasaran dunia meroket menjadi US$575 per ton-sebelumnya US$410. Keruan saja devisa yang tersedot ke mancanegara kian besar. Dalam kondisi begini, pengembangan gandum sangat tepat. ‘Secara budidaya tak ada masalah, dengan harga gandum di pasar internasional yang tinggi, saat tepat mengembangkan gandum,’ ujar Jusuf.

Indonesia mengenal gandum pada 1967 ketika musim kering yang panjang. Ketika itu Amerika Serikat memberikan 100.000 ton beras dan terigu. Pada 1972 Indonesia ‘baru’ mengimpor 3,3-juta ton. Kebijakan itu juga dibarengi dengan subsidi impor dan subsidi kepada produsen mi instan.

Gandum-yang sohor sebagai terigu-lazim diolah sebagai makanan selingan seperti mi basah (40%), roti (25%), 20% mi instan, dan penganan serta biskuit (15%). Bukan hanya masyarakat perkotaan yang mengkonsumsi olahan gandum, tetapi juga hingga ke pelosok. Itulah sebabnya konsumsi gandum yang mengandung 70% karbohidrat dan 13% protein itu terus meningkat. Konsumsi rata-rata per kapita per tahun saat ini mencapai 17,1 kg.

Itu berarti meningkat 2,1 kg per kapita per tahun pada 2005. Pada 1968 ketika Indonesia pertama kali mengimpor terigu, konsumsi hanya 3,4 kg per kapita per tahun. ‘Kebutuhan gandum yang sangat besar sehingga pengembangan gandum di Indonesia berpeluang ekonomi tinggi,’ ujar Risda. Gandum memang multiguna. Selain sebagai bahan baku beragam penganan, hasil sampingan berupa gabah, dedak, dan bungkil merupakan pakan ternak.

Jerami gandum potensial sebagai bahan baku kertas atau bioetanol yang belakangan ini menjadi buah bibir. Selain itu masa produksi gandum di Indonesia lebih singkat, hanya 3-4 bulan. Bandingkan dengan masa panen gandum di negeri lintang tinggi, gandum di panen pada umur 6 bulan. Dengan kondisi itulah Direktorat Budidaya Serealia menetapkan program pengembangan gandum.

Program jangka pendek pada 2008 untuk meningkatkan produksi. Sedangkan program jangka menengah pada 2015 berupa diversifikasi pangan; program jangka panjang pada 2025, terbentuknya desa industri berbasis gandum lokal.

Gandum yang berhasil dibudidayakan di Indonesia kini menjadi komoditas strategis untuk meraih ketahanan pangan. Sebab, gandum mampu mendorong perubahan bentuk pangan dari butiran beras ke bentuk tepung. Dampaknya variasi bentuk pangan nonberas lebih banyak. Ketahanan pangan bukan hanya urusan produksi dan konsumsi, tetapi juga budaya, termasuk budaya konsumsi gandum lokal. (Sardi Duryatmo)

Trubus-online.com

%d bloggers like this: