Panen Padi di Atap Rumah

Oleh trubusid

Ingkan Harahap menggunting satu per satu batang padi. Ia tak menggunakan ani-ani seperti lazimnya orang menuai padi. Lokasi budidayanya juga bukan di sawah, tetapi di atas loteng rumahnya yang terbuat dari semen.

Loteng rumah seluas sepertiga la-pangan voli itu sebetulnya bagian atap rumahnya yang dicor. Ia memanfaatkannya sebagai tempat menanam padi. Sarjana arsitektur itu menanam bibit padi di dalam polibag berukuran 60 cm x 40 cm. ‘Dari kecil saya ingin merasakan menanam padi hingga menjadi beras. Karena ‘lahan’ kosong yang saya miliki hanya loteng, jadi saya menanam padi di atas loteng,’ ujar alumnus Institut Teknologi Bandung itu.

Impian masa kanak-kanak itu menjadi kenyataan pada 5 April 2008. Setelah 3 bulan merawat Oryza sativa, 3 bulan lampau ia mengetam padi di atas loteng. Perempuan kelahiran Bogor, 27 Maret 1954 itu mewujudkan impian dengan merendam benih selama 2 malam. Ketika benih bertunas, ia menanamnya di pot berdia-meter 25 cm. Ingkan memanfaatkan campuran tanah dan kompos sebagai media semai. Setelah itu ia menutupi benih dengan tanah kira-kira setebal 1 cm.

Tanam langsung

Ingkan menyiraminya setiap pagi dan sore. Ia memindahtanamkan bibit berumur 10 hari setinggi 10 cm ke polibag berukuran 60 cm x 40 cm. Media tanam berupa campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 1:1. Ibu 2 anak itu hanya mengisi polibag hingga ketinggian 30 cm. Ia melipat sisa polibag yang tak terisi media.

Membudidayakan padi di polibag juga dapat menerapkan sistem tanam benih langsung. Artinya, tanpa harus disemaikan dulu, benih dibenamkan ke media tanam. Sebuah polibag cukup satu benih. Setelah itu taburi benih yang dibenamkan separuh kuku dengan kompos halus dan tutup dengan gelas plastik bekas minuman yang dilubangi bagian atasnya. Itu untuk mencegah burung memakan benih.

Supaya drainase bagus, Ingkan membuat 20 lubang di dasar dan dinding polibag. Tujuannya agar air tak menggenangi polibag. Sebuah polibag hanya ditanami satu bibit. Itu mengadopsi sistem penanaman intensif atau SRI System Rice Intensification yang kini populer di kalangan petani padi. Dengan hanya menanam satu bibit, menghindari persaingan untuk memperoleh hara.

Total populasi 98 polibag yang ditanami padi tertata rapi membentuk petakan-petakan ‘sawah’ di lotengnya. Perempuan 54 tahun itu menyirami padi-padi itu setiap pagi dan sore. Selain itu ia juga meletakkan serpihan daun untuk menutupi media agar kelembapan terjaga sekaligus mencegah media cepat kering lantaran tingginya suhu di loteng. Pada siang hari suhu mencapai 31oC.

Sumber hara

Dr Mubiar Purwasasmita yang juga mengembangkan padi di polibag memanfaatkan larutan mikroorganisme sebagai penyedia sumber hara. Tiga hari sekali, peneliti padi SRI ini memberikan larutan itu dengan perbandingan 1:20. Larutan itu membantu perkembangan mikroba dalam media tanam. Mikroba menguraikan mineral dalam tanah menjadi nutrisi yang diperlukan tanaman anggota famili Poaceae itu.

Bahan baku larutan berupa sampah dapur seperti sisa sayuran atau cairan nasi basi. Buah-buahan yang membusuk plus gula pasir juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku. Lima hari fermentasi, larutan sudah dapat dimanfaatkan. Menurut Mubiar Purwasasmita pemanfaatan kompos sebagai media tanam sangat tepat. Sebab, kompos membantu pembentukan tekstur tanah sehingga berfungsi sebagai bioreaktor.

Kompos mampu mengikat air. Mikroorganisme dalam tanah mengubah mineral terlarut dalan air menjadi nutrisi. Tiga bulan setelah penanaman, Ingkan memanen padi di atas loteng. Hasilnya 1,5 kg gabah kering dari 20 polibag. Sebagian gabah hasil panennya dibawa pulang oleh teman dan kerabat yang membantu panen. Menurut Mubiar produktivitas itu tergolong rendah. Idealnya, satu bibit yang ditanam di polibag menghasilkan 3-5 ons gabah kering. Sementara, Ingkan hanya menuai sekitar 1 ons. Perbedaan produksi itu antara lain karena Ingkan tak memberi nutrisi tambahan seperti larutan mikroorganisme sebagai penyedia sumber hara tanaman. (Ari Chaidir)

Trubus-online.com

%d bloggers like this: