Si Hitam Berproduksi Menjulang

Oleh trubusid

Sang penghulu akhirnya menjodohkan pendatang legal dari Taiwan itu dengan wilis, kawi, dan bromo. Maka lahirlah detam yang produktivitasnya menjulang hingga 3,45 ton per ha. Itulah varietas kedelai hitam unggul, 300% lebih tinggi ketimbang rata-rata produksi kedelai hitam nasional.

Sang penghulu itu adalah Muhamad Muchlish Adi, Gatut Wahyu, Arifin, dan Suyatmo. Mereka mendatangkan induk betina dari Taiwan yang bersosok besar. Sedangkan induk jantan berupa 3 varietas kedelai lokal yakni wilis, kawi, dan bromo. Dari persilangan itu muncullah detam-1 dan detam-2. Nama varietas anyar itu singkatan dari kedelai hitam. Kedua pendatang baru itu boleh dibilang unggul lantaran produktivitas tinggi hingga 3,45 ton per ha. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat saja, produktivitas Glycine max itu rata-rata 3 ton per hektar.

Ukuran biji keduanya juga relatif besar, rata-rata 15 gram per 100 biji. Artinya, rendemen pun membumbung. Untuk menghasilkan 74 cc kecap, produsen Cuma memerlukan 100 gram detam-2 sebagai bahan baku. Itu berarti 20 gram lebih rendah jika menggunakan varietas lain. Keistimewaan lain, kandungan protein detam-2 amat tinggi, 45,58%. Kadar protein kedelai impor pun paling pol cuma 40%.

‘Semakin tinggi protein biji kedelai, kadar protein kecap yang dihasilkan juga semakin tinggi,’ kata Muchlish Adie. Kelebihan lain, detam-2 tahan kekeringan dan pengisap polong. Di luar 2 varietas itu, Muchlish juga menyimpan khilau, kedelai hitam berkotiledon alias lembaga berwarna hijau yang belum dirilis. Yang unik, menjelang matang polong daun gugur. Menurut Muchlish, selama ini belum ditemukan tipe varietas seperti itu di Indonesia.

Menurut Akil Dermawi, ketua Induk Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Inkopti) kedelai hitam baru seperti khilau, bisa dijadikan alternatif bahan baku selain kedelai kuning. Ditemukannya kedelai hitam berkotiledon hijau, memperkaya variasi warna makanan. Produsen tahu, misalnya, dapat menghasilkan tahu hijau walau tanpa penambahan bahan kimia. Sejak 2002 negara-negara sentra produksi kedelai seperti China, Jepang, Korea, dan Taiwan menghasilkan kedelai berkotiledon hijau. Di Jepang ada tohoku 141 yang dilepas pada 2002.

Ganti nama

Trio kedelai top itu dirilis pada 28 Maret 2008. Sebelum dilepas, detam-1 semula bernama khibar, akronim dari kedelai hitam berbiji besar. Sedangkan khipro – ke delai hitam berprotein tinggi – berganti nama men jadi detam-2. Penampilan detam-1 dan detam-2 relatif sama: tinggi 57 – 58 cm, bentuk daun lonjong, kulit polong cokelat tua, dan berbiji hitam. Muchlish Adie mulai meriset detam sejak 1998 yang menghasilkan 3 galur detam.

Ketiga galur itu lantas diuji multilokasi di 18 daerah sentra kedelai seperti Pasuruan (Jawa Timur), Sleman (Yogyakarta), Majalengka (Jawa Barat), Lombok Barat (Nusa Tenggara Barat), dan Jembrana (Bali). Hasilnya, produktivitas mencapai 3,45 ton per ha. Itu amat menggembirakan ketika popularitas kedelai hitam di tanahair tak setenar kedelai kuning. Buktinya selama 80 tahun, Indonesia baru merilis 5 varietas kedelai hitam. Otau dirilis pada 1918, No. 27 (1919), merapi (1938), cikuray (1992), dan mallika (2007).

Menurut Prof Dr Achmad Baihaki, ahli kedelai dari Universitas Padjadjaran, tingginya produktivitas detam antara lain karena faktor lingkungan. Kedelai yang produktivitasnya tinggi itu karena memang sesuai dengan lingkungan makro, seperti iklim, ketinggian tempat, jenis tanah, dan curah hujan, serta lingkungan mikro seperti teknologi budidaya, pemupukan, dan jarak tanam. Itulah sebabnya, sebuah varietas kedelai unggul di suatu daerah belum tentu unggul jika dikembangkan di daerah lain yang lingkungannya berbeda.

Oleh karena itu, ‘Sebaiknya kita memang perlu mengembangkan varietas unggul lokal,’ ujar doktor pemuliaan alumnus University of Minnesota, Amerika Serikat itu. Ir Suyono, peneliti kedelai dari Universitas Negeri Jember, sepakat. ‘Kadang hasil yang diperoleh pekebun tidak seperti yang diklaim oleh instansi pelepas benih,’ kata alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Ragam tipe tanah di Indonesia menjadi salah satu penyebabnya. Di Pulau Jawa saja sedikitnya ada 3 tipe tanah yang berbeda.

‘Oleh karena itu, uji multilokasi harus dilakukan di semua tipe tanah,’ katanya. Untuk menyiasati perbedaan lingkungan itulah maka sebaiknya pekebun mengintensifk an pola budidaya. Menurut Muchlish hal itu bukan hanya pemupukan serta pengendalian hama dan penyakit penyiangan pun penting. Penyiangan 2 kali selama musim tanam. Selain terjadinya persaingan hama dengan tanaman utama, gulma juga sumber inang hama dan penyakit.

Gepak

Selain kedelai hitam, Balitkabi juga merilis kedelai kuning varietas lokal yang diberi nama gepak kuning dan hijau. Sebetulnya gepak bukanlah varietas baru. Pekebun di Ponorogo sejak 50 tahun lalu sudah membudidayakannya. Karena popularitasnya sangat mencorong, maka pada 2000 mulai dilakukan pemurnian terhadap kedua varietas lokal tersebut.

Hasil seleksi itu lalu dikebunkan di Kecamatan Babadan, Balong, Sampung, Ngabel, dan Siman, Kabupaten Ponorogo. Saat ini luas pertanaman kedelai gepak ijo dan kuning mencapai 17.000 hektar hanya di Ponorogo. Selain itu, ia juga dibudidayakan pekebun di Madiun, Trenggalek, Pacitan, bahkan hingga Ngawi dan Wonogiri. Popularitasnya mengalahkan kepopuleran varietas lokal lain seperti lung ijo yang bersifat indeterminit alias merambat. (Lani Marliani/Peliput: A. Arie Raharjo)

Trubus-online.com

%d bloggers like this: