Agar Keindahan Heliamphora Tak Pudar

Oleh trubusid

Keindahan daunnya yang berwarna kuning, jingga, ungu, dan hijau benar-benar memanjakan mata. Pantas bila Robert Schomburgk, pembuat peta yang disewa pemerintah Inggris, takjub saat menyaksikan hamparan heliamphora di rawa-rawa di kaki Gunung Roraima, Guyana. Tak hanya ia yang kepincut si daun terompet. Warga Eropa pun berlomba-lomba membudidayakannya sejak Schomburgk memboyongnya ke Benua Biru pada 1838.

heliamphora

Bagi para pencinta tanaman hias, keindahan heliamphora mengundang kagum. Namun, buat serangga keindahannya justru mengundang maut. Aroma gula nektar yang menguar dari tepi daun benar-benar menggiurkan sehingga mereka tak sanggup menahan hasrat untuk hinggap.

Sayang, begitu menjejakkan kaki, bukan manisnya gula yang didapat. Lapisan lilin di permukaan daun membuat serangga tergelincir akibat licin. Sang serangga pun terjerembap ke dasar daun berbentuk corong. Cairan di dalamnya menjadi pencabut nyawa. Kandungan asam alami cairan itu mengoyak dan mengurai tubuh mereka menjadi nutrisi.

Lembap

Heliamphora terpaksa berbuat ‘kejam’ karena hanya dengan begitulah ia bertahan hidup di alam. Maklum, ia hidup di daerah dingin dan habitat miskin hara. Anggota famili Sarraceniaceae itu tumbuh subur di ketinggian 2.000-3.000 m dpl dengan temperatur 15-28oC. Di habitat aslinya di dataran tinggi Guyana, hujan mengguyur hampir setiap hari. Kelembapan di kawasan bekas jajahan Inggris itu mencapai 80-100%. Itulah sebabnya heliamphora sulit dibudidayakan.

Namun, bagi para pencinta tanaman hias, kesulitan itu justru menjadi tantangan. Asalkan bisa meniru habitat aslinya di alam, heliamphora terhindar dari ancaman kematian. Salah satunya dengan menjaga kelembapan media. Gunakanlah media yang dapat mengikat air.

Meskipun menyukai kondisi lembap, bukan berarti heliamphora betah di media yang tergenang. Ia membutuhkan media yang memiliki drainase baik. Untuk menjaga kelembapan, siram tanaman minimal sekali sehari atau simpan di rumah tanam yang dilengkapi sistem pengabutan sehingga tingkat kelembapannya dapat diatur.

Heliamphora sangat sensitif terhadap kualitas air. Di habitat aslinya di alam, ia memperoleh pasokan air dari mata air pegunungan yang jernih dan air hujan yang tidak mengandung banyak nutrisi dan mineral. Air yang mengandung klorin seperti di rumah-rumah dapat menyebabkan tanaman keracunan. Apalagi bila air yang digunakan tercemar zat-zat kimia berbahaya.

Zat beracun itu merusak sistem perakaran sehingga menyebabkan kematian. Oleh sebab itu, air hujan satu-satunya pilihan untuk menyiram heliamphora di luar habitat. Para pekebun dapat menempatkan beberapa tong atau membuat kolam penampung air hujan di sekitar rumah tanam.

Media asam

Seperti tanaman karnivora lainnya, heliamphora hidup di tanah miskin hara dan asam. Berdasarkan pengalaman, media yang cocok untuk heliamphora adalah campuran humus, sphagnum moss hidup, perlit, dan vermikulit dengan perbandingan seimbang. Perlit adalah batu yang mengandung silika. Perlit yang dihancurkan menjadi butiran-butiran sebesar biji kedelai kerap dijadikan media tanam dalam budidaya hidroponik. Batu itu berperan meningkatkan aerasi dan pengikat air yang baik. Begitu juga dengan vermikulit.

Komposisi seperti itu juga mencegah media menjadi padat bila dibudidayakan dalam pot. Dengan begitu perakaran tetap leluasa tumbuh. Kondisi sebaliknya terjadi bila hanya menggunakan humus. Media lama-kelamaan menjadi padat. Pada kondisi lembap dapat menyebabkan akar busuk.

Para pekebun tak perlu repot-repot memberi pupuk. Seperti tanaman pemangsa serangga lainnya, heliamphora tidak memiliki sistem perakaran yang mampu menyerap air dan mineral pada media yang mengandung nutrisi tinggi. Ia mengandalkan nutrisi dari hewan yang terjebak dalam daun berbentuk corong.

Lantaran hidup di dataran tinggi, heliamphora sangat peka terhadap temperatur. Ia tumbuh subur bila suhu pada siang hari maksimal 20-25oC. Tanaman karnivora rawa itu tidak mengalami dormansi seperti kerabatanya darlingtonia dan sarracenia. Ia tumbuh sepanjang tahun. Tanaman dewasa berbunga setiap interval 6-12 bulan.

Di habitat aslinya di dataran tinggi Guyana, heliamphora hidup di alam terbuka tanpa naungan pepohonan. Karena itulah kerabat sarracenia itu menyukai terpaan sinar matahari langsung. Cahaya yang cukup membuat tanaman itu tampil prima. Daun-daunnya memunculkan warna yang mencorong seperti merah, kuning, dan ungu. Bila kekurangan cahaya, pertumbuhan daunnya memanjang atau meliuk-liuk seperti spiral. Warnanya pun hanya hijau dan pucat.

Terarium

Agar heliamphora tumbuh subur dan penampilannya istimewa, para hobiis di Eropa lebih suka membudidayakannya di dalam terarium dan menempatkannya di ruangan sejuk. Mereka menggunakan lampu neon sebagai sumber cahaya. Para pekebun di negara-negara beriklim sedang membudidayakannya di dalam rumah tanam di antara tanaman karnivora lainnya seperti sarracenia, darlingtonia, drosera, dan pinguicula.

Meskipun hanya ditanam di atas campuran humus dan disiram dengan air hujan, heliamphora tetap rajin berbunga. Beberapa pekebun berhasil memperbanyak dari biji untuk memperoleh tanaman yang adaptif di luar habitat. Sayangnya para pekebun mesti sabar menanti hingga 4 tahun sampai tanaman tumbuh dewasa.

Heliamphora juga dapat diperbanyak secara vegetatif. Tanaman dewasa biasanya menghasilkan anakan sehingga membentuk rumpun. Rumpun dipisah dengan cara memotong bagian perakaran.

Budidaya heliamphora tentunya sangat berarti bagi pelestarian tanaman itu walaupun keberadaannya di alam masih melimpah. Lokasi habitat yang jauh dari jangkauan manusia menyelamatkannya dari kepunahan. Dengan begitu, keindahan heliamphora dapat dinikmati tanpa resah mereka akan punah.

Trubus-online.com

%d bloggers like this: