Cara Tepat Rawat Palem Madagaskar

Oleh trubuson

Pachypodium saundersii di salah satu pilar di nurseri Watu Putih, Yogyakarta itu tampak prima. Tak satu pun daunnya menguning karena minim hara. Dari 6 cabang utama, 4 di antaranya memunculkan bunga putih polos dan keunguan. Hampir setiap bulan pachypodium setinggi 60 cm itu semarak bunga. Rahasianya, perawatan tepat.

Aris Budiman, pemilik nurseri, meletakkan Pachypodium saundersii di dalam greenhouse beratap plastik UV. Kelembapan rumah tanam dijaga agar tidak lebih daripada 30%. Kondisi itu meniru habitatnya di alam yang kering. Aris juga menjaga kelembapan media untuk mencegah busuk.

Adeng alias Aris Budiman menggunakan campuran sekam bakar setengah matang dan pasir malang dengan perbandingan 3:1 sebagai media tanam. Penyiraman dilakukan sesuai kondisi media. Bila kering, media disiram hingga basah, tetapi air tidak sampai keluar dari lubang drainase di dasar pot.

Suhu dan pemupukan

Pachypodium saundersii berumur sekitar 4-5 tahun itu memang telah memasuki masa berbunga. Anggota famili Apocynaceae itu mulai berbunga pada umur 1,5-2 tahun. Di tempat Aris, bunga muncul hampir setiap bulan. Namun, ‘Biasanya bunga semarak saat kemarau pada Juni-Juli,’ ujarnya. Di habitatnya di alam, P. saundersii berbunga pada musim panas dan akhir musim gugur.

Menurut Adeng, P. saundersii rajin berbunga bila perbedaan suhu antara siang dan malam mencolok. Temperatur malam hari di nurseri berketinggian 375 m dpl itu mencapai 20oC. Sedangkan pada siang hari, suhu di dalam rumah tanam mencapai 40-45oC. Pantas bila pachypodium yang bersosok mirip adenium arabicum itu kerap memamerkan bunga.

Agar kondisi tanaman prima, Adeng memberikan beragam pupuk. Pascaberbunga, mantan manajer perusahaan elektronik itu memberikan pupuk lambat urai berkadar nitrogen tinggi untuk memacu pertumbuhan vegetatif. Untuk pot berdiameter 12-17 cm, dosis 2 sendok makan. Enam bulan berselang, baru diberi pupuk berkadar fosfor tinggi yang juga lambat urai berdosis sama untuk memacu pertumbuhan generatif.

Setelah itu, pachypodium kembali diberi pupuk seperti pemupukan pertama. Begitu seterusnya. Adeng menghindari penggunaan pupuk kandang. Menurutnya pupuk asal kotoran hewan menyebabkan media menjadi asam yang memicu pembusukan akar.

Bila pupuk kandang tetap diberikan, contohlah Handry Chuhairy-pekebun pachypodium di Tangerang. Pupuk kandang dicampur sekam bakar dan pasir malang dengan perbandingan 1:2:1. ‘Pupuk kandang diperlukan sebagai sumber bahan organik dan unsur-unsur mikro,’ ujarnya. Agar media tidak menjadi asam, pemilik nurseri Hans Garden itu menambahkan dolomit hingga pH mencapai 7,5-8.

Namun, Temi Hernadi, pekebun pachypodium di Bandung, mewanti-wanti. Di dataran rendah, pupuk kandang yang digunakan sebaiknya berasal dari kotoran kambing, bukan sapi. Musababnya, kotoran sapi saat matang hancur seperti tanah sehingga media menjadi padat. Akibatnya, akar sulit berkembang karena tak dapat menembus media.

Sedangkan di dataran tinggi, Temi menyarankan penggunaan kotoran kuda atau ayam, tetapi tanpa gabah. Bila gabah tercampur dalam kotoran, sebaiknya gunakan pupuk matang. Pada pupuk mentah terjadi fermentasi sehingga media menjadi asam. Media asam tempat nyaman bagi pertumbuhan cendawan penyebab penyakit.

Seperti adenium

Menurut Handry, perawatan pachypodium sama dengan adenium. Untuk pemupukan menggunakan pupuk majemuk seperti Growmore, Dekastar, dan Kristalon. Dosis separuh dari anjuran di label kemasan. Artinya, bila dalam kemasan tertera dosis 1 g/l, cukup digunakan 0,5 g/l. Interval pemupukan sekali sepekan.

Handry enggan menggunakan pupuk lambat urai. ‘Pemakaian lebih sering dengan dosis rendah lebih efektif ketimbang dosis tinggi untuk sekali pemberian,’ ujar Handry. Dosis berlebih dikhawatirkan mencemari media sehingga menyebabkan keracunan. Pemupukan dilakukan dengan cara merendam pot dalam larutan pupuk selama 12 jam atau disemprotkan menggunakan sprayer ber-nozle kecil.

Pemupukan mesti disesuaikan kebutuhan tanaman. Itu dapat dikenali dari ciri fisik tanaman. Bila daun menguning dan rontok, itu pertanda kekurangan hara. Batang berwarna hijau menandakan dinding sel batang tipis. Itu akibat pertumbuhan vegetatif yang dipacu dengan pupuk NPK berkadar nitrogen tinggi atau Urea.

Supaya batang jadi vigor dan punya dinding sel tebal, berikan pupuk lengkap yang mengandung kalium dan kalsium. Menurut Ir Edhi Sandra MSi, dosen Institut Pertanian Bogor, kedua unsur itu pembentuk dinding sel sehingga menjadi kaku. Selain itu, tanaman juga menjadi lebih kebal terhadap gempuran penyakit.

Hama dan penyakit

Pachypodium sejatinya lebih tahan terhadap hama dan penyakit ketimbang adenium. Namun, hobiis mesti berhati-hati. Serangan hama tungau merah tetap menjadi ancaman. Red spider itu menyedot cairan daun hingga mengerut, menguning, dan rontok. Hama itu menyerang ketika pergantian kemarau ke musim hujan.

Ancaman lain, kutu putih yang menyebabkan pertumbuhan lamban. Daun yang terserang tampak kurus. Kehadiran mellybugs-sebutan kutu putih-biasanya disertai kerumunan semut. Ia tinggal di sela-sela batang dan daun. Untuk menghalau keduanya, gunakan pestisida berbahan aktif oksitetrasiklin. Pestisida itu termasuk golongan pestisida kontak. Artinya, daya bunuh bahan aktif bila bersentuhan langsung dengan hama. Dosis disesuaikan dengan label pada kemasan. Interval penyemprotan 2-3 kali seminggu hingga kutu benar-benar sirna. Untuk pencegahan, penyemprotan cukup seminggu sekali.

Penyakit pachypodium adalah mellyroot yang disebabkan sejenis bakteri. Ia hidup pada bagian media yang tidak terkena air saat penyiraman dan media yang lama tidak diganti. ‘Media sebaiknya diganti setiap 6 bulan,’ ujar Temi. Bakteri itu menyedot sari-sari makanan. Lama-kelamaan tanaman mati karena kekurangan nutrisi. Untuk mengatasi, bongkar dan buang media. Cuci akar hingga bersih, lalu rendam 5-6 menit dalam larutan pestisida. Setelah itu tanam kembali dalam media baru. Madagascar palm pun tampil prima. (Imam Wiguna/Peliput: Andretha Helmina, Dyah Pertiwi, Evy Syariefa, dan Nesia Artdiyasa)

Trubus-online.com

%d bloggers like this: