Tata Krama Berjualan Tanaman Hias

Dunia usaha mengenal etika dan punya mekanisme yang harus dipatuhi semua pihak. Kita tidak perlu belajar etiket di John Robert Power atau membaca buku-buku Dale Carnegie untuk berbisnis tanaman hias. Namun, kalau kita mau menjadi pebisnis tanaman hias bermartabat, dan dihormati, seyogyanya memang harus tahu tatakrama yang berlaku di dunia tanaman hias seperti berikut ini.

Beli Putus, Jangan Konsinyasi

Jangan pernah berniat untuk membeli secara konsinyasi atau titip jual tanaman hias. Tanaman hias adalah komoditas dengan karakter khusus. Belilah secara putus, soal pembayaran tunai atau berhutang itu soal lain. Tidak lazim Anda mengembalikan ke pemiliknya kalau tanaman tersebut tidak laku.

Jangan Bagi Kartu Nama di Tempat Orang

Jangan suka membagi kartu nama di gerai orang lain. Mungkin si empunya gerai tidak menegur Anda terang-terangan, tapi dia pasti mencap Anda sebagai pedagang tanaman bokek yang kampungan.

Jangan Berdagang di Tempat Orang

Jangan suka berjual beli di gerai orang lain. Ini sangat menyebalkan.

Jangan Membujuk Pelanggan Orang

Jangan mengajak atau membujuk pembeli yang sedang berada di gerai orang untuk datang ke gerai Anda kalau Anda tidak mau dianggap pedagang kutukupret.

Jangan Menjelek-jelekkan Pesaing

Jangan suka menjelek-jelekkan reputasi rekan atau kolega Anda. Kalau barang Anda dibilang mahal, dan kolega Anda dibilang murah, santai saja. Bilang saja, mungkin dia beli lebih murah, sedangkan Anda kulakan dengan harga mahal. Rezeki tak akan lari ke mana-mana.

Jangan Jual Lebih Murah ke Konsumen

Kalau Anda mau menjadi pedagang tanaman hias yang jempolan, Anda akan membedakan harga untuk pedagang (yang membeli dari Anda untuk dijual lagi) dengan mereka yang hanya membeli satuan atau eceran. Tidak etis, kalau menjual barang yang sama dengan harga sama, padahal yang satu pedagang yang satu pengecer. Pedagang yang membeli tanaman Anda bisa diibaratkan kaki Anda. Kalau Anda menjual dengan harga sama ke pengecer, itu sama saja dengan menebas kaki Anda sendiri alias ‘bunuh diri’ namanya.

(Dikutip dari buku “JURUS SUKSES BISNIS TANAMAN HIAS”, Kurniawan Junaedhie, PT Pustaka Agro Media, Jakarta, 2007)
toekangkeboen.com

Advertisements
%d bloggers like this: