Jangan Kau Buang Potensimu Wahai Penuntut Ilmu!

Oleh: Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas bin Abdul Karim

Kita lihat di antara barisan para penuntut ilmu ada orang-orang yang dianugerahi kemampuan yang agung, yang luar biasa, yang membuat mereka pantas mendapat kemuliaan ilmu. Hanya saja cita-cita mereka yang rendah menghancurkan anugerah tersebut, menghilangkan eloknya keunggulan mereka, sehingga engkau dapati mereka merasa cukup dengan ilmu yang sedikit, mereka tidak suka membaca dan menelaah, mereka sering terlalaikan dari menuntut ilmu.

Betapa cepatnya mereka melepaskan potensi ini dan menghilangkan berkah waktu-waktu mereka. Hal itu terjadi karena kufur nikmat. Tentu saja ini menyebabkan nikmat tersebut pergi, sebagaimana syukur nikmat adalah penyeru untuk penambahan nikmat tersebut.
Al-Farra’ rahimahullah berkata,

“Tidaklah aku merasa kasihan pada seseorang seperti rasa kasihanku kepada dua orang: Seorang yang menuntut ilmu, namun dia tidak mempunyai pemahaman, dan seorang yang paham tetapi tidak mencarinya. Dan aku sungguh heran dengan orang yang lapang untuk menuntut ilmu tetapi dia tidak belajar.” (Jami’ Bayanil Ilmi Wa Fadhlihi, 1/103)

Ibnul Jauzi rahimahullah memberi keterangan perkataan Abith Thayyib Al-Mutanabbiy:

Aku tidak melihat aib-aib manusia sebagai aib
Seperti kekurangan orang-orang yang mampu untuk sempurna

Ibnul Jauzi berkata,

“Seharusnya seorang yang berakal berhenti pada puncak yang memungkinkan baginya. Apabila tergambar bagi anak Adam tingginya langit, sungguh aku memandang bahwa keridhaanya dengan bumi termasuk kekurangan yang paling buruk.

Kalau seandainya kenabian diperoleh dengan kesungguh-sungguhan, aku melihat orang yang merasa tidak butuh untuk memperolehnya berada dalam tempat yang rendah. Jalan hidup yang indah menurut ahli hikmah adalah keluarnya jiwa kepada puncak kesempurnaanya yang memungkinkan baginya dalam berilmu dan beramal.”

Beliau juga berkata,

“Secara global, dia tidak meninggalkan keutamaan yang mungkin ia peroleh kecuali dia berusaha memperolehnya. Sesungguhnya rasa puas adalah keadaan orang-orang rendahan.

Maka jadilah seorang lelaki yang kakinya menghujam di bumi
Sedangkan cita-citanya setinggi bintang Tsurayaa

Kalau memungkinkan bagimu untuk melampaui setiap ulama dan orang-orang yang zuhud, maka lakukanlah. Mereka itu laki-laki, engkau juga laki-laki. Dan tidaklah seseorang duduk kecuali karena rendahnya dan hinanya cita-citanya.

Ketahuilah bahwa kamu berada dalam ajang perlombaan, sedangkan waktu-waktu akan habis. Maka, janganlah engkau kekal menuju kemalasan. Tidaklah luput sesuatu kecuali dengan kemalasan. Dan tidaklah dicapai sesuatu kecuali dengan kesungguhan dan tekad.” (Shaidul Khatir hal. 159-161.)

Wahai orang yang melihat pada dirinya ada tanda-tanda keunggulan dan kecerdasan, janganlah engkau mengharapkan satu pengganti dari ilmu. Janganlah engkau tersibukkan dengan selainnya selamanya. Jika engkau enggan, maka semoga Allah memberikan kemuliaan pada dirimu, dan memperbesar pahala muslimin padamu. Betapa sangat kerugianmu dan betapa besar musibahmu.

Tinggalkan darimu mengingat hawa nafsu dan para pencintanya
Bangkitlah ke tempat yang tinggi, di sana ada mutiara
Yang menghibur dengan tempat dakiannya dari setiap yang berharga
Dan dari nikmat dunia, yang hakikat jernihnya adalah keruh
Dan dari teman di sana yang melalaikan teman-teman duduknya
Dan dari taman yang diselubungi cahaya dan bunga-bunga
Bangkitlah menuju ilmu dengan kesungguhan tanpa rasa malas
Seperti bangkitnya seorang hamba kepada kebaikan dengan segera
Bersabarlah dalam memperolehnya dengan kesabaran kemuliaan baginya
Tak akan mencapainya orang yang tidak bersabar

(Qasidah Asy-Syaikh As-Sa’di, sebagaimana dalam Al-Fatawa, 647)

Dan sesungguhnya, termasuk perkara-perkara yang bermanfaat yang dapat membantu tingginya cita-cita yaitu melihat jalan hidup para salaf radhiyallahu ‘anhum. Sesungguhnya keadaan mereka adalah puncak kesempurnaan secara ilmu dan amal. Jika seorang penuntut ilmu melihatnya dan menganggap rendah diri dan sedikit ilmu, maka dia akan berusaha untuk mengejar mereka dan meniru mereka. Dan barangsiapa meniru suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.

Ibnul Jauzi berkata,

“Demi Allah, ingatlah wajib atas kalian untuk memperhatikan jalan hidup salaf serta menelaah tulisan-tulisan mereka dan kabar-kabar mereka. Sungguh memperbanyak dalam menelaah kitab-kitab mereka adalah seperti melihat mereka.”

Beliau juga berkata,

“Hendaklah dia memperbanyak menelaah (kehidupan salaf –ed.), sungguh ia akan melihat ilmu-ilmu salaf, dan tingginya cita-cita mereka yang menajamkan pikirannya, dan menggerakkan tekadnya untuk bersungguh-sungguh.” (Shayyidul Khatir, 440)

(Sumber: Awaiqut Thalab karya Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas bin Abdul Karim, halaman 46-48).
Ulamasunnah.wordpress.com

%d bloggers like this: