Adakah Reformasi Syariat di Dalam Islam?

Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Soal: Apakah dalam Islam terdapat tajdid tasyri’ (reformasi syariat)?

Jawaban:
Jika ada orang yang berkata bahwa dalam Islam terdapat tajdid tasyri’, maka yang ada justru sebaliknya; Islam telah sempurna dan masa tasyri’ (pembuatan syari’at –ed) telah terhenti dengan wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ya, kejadian dan realita baru terus bermunculan dan pada setiap waktu dan tempat realita selalu terjadi berbeda-beda. Perubahan-perubahan itu seharusnya ditimbang dengan syari’at dan dihukumi sesuai Al Quran dan As Sunnah.

Dengan demikian, hukum tersebut tetap merupakan syari’at yang ada pada awal Islam dan tidak disebut syari’at baru; karena hal yang demikian berarti menganiaya Islam dan bertentangan dengan kenyataan yang terjadi.

Karena itu, tidak boleh juga menyebut istilah “perubahan dalam pensyari’atan’” sebab istilah itu mengandung arti perusakan batas kehormatan dan wibawa syari’at. Mengadakan perubahan pada syari’at tidak sejalan dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Yang demikian tidak diridhai oleh seorang pun orang yang berilmu dan beriman.

Kemudian, jika menghukumi sesuatu yang terjadi bukan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, maka syari’at itu adalah batil; bukan termasuk ke dalam bagian syari’at Islam.

Apa yang telah saya sebutkan tidak bertabrakan dengan ketetapan Umar radhiyallahu ‘anhu tentang hukum thalaq tiga, yang sebelumnya dimasa dua tahun dalam masa kepemimpinan Umar, dan masa Rasulullah dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, terhukumi dengan satu thalaq, karena masalah ini termasuk ke dalam kriteria Ta’zir (hukum yang bersifat peringatan) maka ada perubahan yang sesuai dengan keadaan seseorang sebagai bentuk komitmen yang harus dijalaninya. Karena itu Umar berkata, “Saya melihat orang-orang telah tergesa-gesa dalam perkara yang sebelumnya mereka tenang, maka kami tetapkan hal itu atas mereka” (HR. Muslim 1472/15, dari Ibnu Abbas) maka Umar menetapkan hal itu (tentang thalaq tiga) bagi mereka. Bab al-ta’zir cakupannya luas dalam syari’at, karena yang dimaksud adalah pelurusan dan pengajaran.

“Al-Manahi Al-Lafzhiyyah, Beragam Ungkapan dalam Timbangan Syariat” karya Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin soal ke-40, Penerjemah: Abu Zaid Resa Gunarsa, Muroja’ah: Al Ustadz Ali Basuki, Penerbit: Penerbit Al Ilmu Jogjakarta
ulamasunnah.wordpress.com

%d bloggers like this: