“Obat Ajaib” itu Bernama Enzim

Anda sering merasa sebah, kembung, mual, atau nyeri perut? Belum tentu itu gejala maag. Bisa jadi, Anda sedang kekurangan enzim.

Selama hampir 20 tahun, Brad (57 tahun) tergantung pada obat untuk mengatasi diare akibat kejang usus yang sering dideritanya. Sayangnya, obat tersebut tidak dapat mengatasi gejala lain yang menyertai diarenya tersebut. Antara lain lemas, sakit kepala, kembung, dan kadang-kadang nyeri perut. Gejala-gejala itu kerap dirasakan Brad dua jam setelah makan.

Pada suatu hari, Brad menemui Dr Lita Lee, PhD, dokter ahli nutrisi dari Amerika yang memperdalam terapi enzim. Setelah diperiksa di laboratorium, urine Brad menunjukkan tingkat keasaman yang tinggi, kekurangan vitamin C, kalsium, magnesium, kelebihan lemak dan protein, serta terdapat indikasi metabolisme gula yang buruk.

Menurut Dr Lee, kejang usus yang dialami Brad merupakan bentuk gangguan pencernaan yang disebabkan kurangnya enzim lipase. Untuk mengatasinya, Dr Lee memberi Brad suplemen enzim. Ternyata dalam waktu kurang dari satu bulan semua keluhan Brad Hilang. Hingga satu setengah tahun kemudian, gejala-gejala itu tidak pernah kambuh lagi. Berkat suplemen enzim lipase tersebut, kini Brad terbebas dari obat (The Enzyme Cure, 1998: 142).

Jika masih banyak orang yang belum menyadari gejala kekurangan enzim, itu bisa dimaklumi. Gejala kekurangan enzim pada umumnya memang mirip dengan gejala sakit maag dan gangguan pencernaan lainnya. Padahal kekurangan enzim tidak boleh terjadi. Tubuh kita memerlukan enzim untuk terus bertahan hidup, melakukan aktivitas, dan bertahan terhadap serangan penyakit.

Sang inti kehidupan

Enzim merupakan semacam protein yang terdapat di dalam sel makhluk hidup. Enzim bertugas mempercepat reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh dengan cara mengurai zat-zat makanan yang masuk menjadi bentuk yang lebih sederhana. Semua proses kimia yang terjadi di tubuh kita seperti proses metabolisme, proses tumbuh dan berkembang, terjadi karena peran enzim. Oleh sebab itu, rasanya tidak berlebihan kalau enzim kerap disebut inti kehidupan.

Di dalam tubuh kita terdapat ribuan jenis enzim yang dapat digolongkan menjadi dua, yaitu enzim metabolisme dan pencernaan. Enzim metabolisme ini terdapat di seluruh tubuh dan bertanggungjawab terhadap kelancaran semua proses kimiawi yang terjadi, seperti siklus menstruasi, fungsi reproduksi, kemampuan berpikir, dan sistem kekebalan tubuh.

Sedangkan enzim pencernaan terdapat di sepanjang saluran pencernaan, yaitu di kelenjar air liur, usus halus, usus besar, lambung, dan pankreas. Enzim pencernaan ini ibarat “tentara garis depan” yang ikut menentukan kualitas kerja enzim metabolisme. Ia mulai bekerja saat kita mengunyah makanan, ketika makanan dicerna di lambung, masuk ke usus, hingga dibuang melalui anus. Meskipun demikian, sebagian besar enzim pencernaan diproduksi oleh pankreas. Itulah sebabnya, enzim pencernaan juga disebut enzim pankreas.

MenurutDr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, ahli gastroenterologi dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, enzim pencernaan yang paling berperan adalah amilase, lipase, dan protease. Amilase bertugas merombak karbohidrat menjadi glukosa, lipase mengurai lemak menjadi asam lemak, dan protease memecah protein menjadi asam amino.

“Zat-zat makanan yang sudah diurai oleh enzim itulah yang akan diserap oleh dinding-dinding usus untuk disalurkan ke seluruh tubuh,” kata Dr Ari dalam seminar mengenai peran enzim yang diselenggarakan oleh PT Medifarma Laboratories, awal bulan April yang lalu.

Rahasia sehat dan awet muda

Sebagai “tentara”, enzim pencernaan bekerjasama dengan enzim metabolisme. Kerjasama tersebut menghasilkan manfaat yang luar biasa bagi tubuh kita. Mengutip pernyataan pada situs The Natural Pharmacy, manfaat enzim di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Menyeimbangkan hormon
    Enzim metabolisme berperan dalam menguatkan fungsi sistem endokrin. Secara tidak langsung, cara kerjanya ikut menyeimbangkan hormon.
  2. Membersihkan darah
    Beberapa bentuk jamur, parasit, dan bakteri terdiri dari protein. Virus juga memiliki selubung protein sebagai pelindung. Enzim protease bertugas merombak protein. Jika protein tersebut dianggap merugikan, enzim akan merusak dan membuangnya dari aliran darah.
  3. Menstabilkan kadar lemak dalam darah
    Enzim lipase mencerna lemak sehingga berperan menstabilkan kadar kolesterol dan trigliserida. Selain itu, lipase juga membuang lemak yang tidak diperlukan oleh tubuh, sehingga mengurangi beban empedu, liver, dan pankreas. Jika lipase berfungsi optimal, kita akan terhindar dari obesitas.
  4. Menstabilkan emosi
    Enzim berperan dalam mengurai dan menyalurkan zat-zat makanan berupa glukosa dan asam-asam amino kepada neurotransmitter di dalam otak. Kecukupan asupan zat makanan tersebut direspon oleh hipotalamus, pusat kenikmatan di dalam otak. Jika hipotalamus menilai asupannya cukup, maka ia akan memberi sinyal. Tubuh kita merasa nyaman dan selera makan distabilkan.
  5. Membuat awet muda
    Jumlah enzim yang cukup akan melancarkan proses regenerasi sel, sehingga menunda kerutan pada kulit. Enzim juga meningkatkan suplai darah dan memberi nutrisi pada kulit, serta membuang zat sampah yang dapat membuat kulit kusam atau berjerawat.

Jumlahnya terbatas

Untuk mendapat manfat-manfaat enzim, tentu perlu sejumlah usaha. Secara alamiah, enzim-enzim di dalam tubuh kita sudah mempunyai “jatah” jumlah dan masa hidup yang terbatas (enzyme potential). Selain ditentukan oleh faktor genetika dan kesehatan pankreas, persediaan enzim semakin menipis seiring bertambahnya usia.

Proses menipisnya enzim ini ditandai dengan gangguan pada sistem metabolisme, berkurangnya fungsi organ, hingga penuaan pada sel yang ditandai dengan kulit keriput, rambut beruban, menopause, dan lain sebagainya. Beberapa peneliti mengatakan, saat persediaan dan masa hidup enzim di dalam tubuh kita telah habis, itulah saatnya kita akan mati.

Oleh sebab itu, kita harus menghemat enzim yang ada. Kita perlu memasok enzim dari sumber lainnya, yaitu makanan (plant / food enzyme).

Pentingnya pasokan enzim

Menurut Andang Gunawan, ND, ahli terapi nutrisi dari Jakarta, makanan yang banyak mengandung enzim adalah buah dan sayur-sayuran segar. Enzim yang terkandung dalam buah dan sayuran segar mempunyai karakter dan struktur yang sama dengan sel-sel enzim yang ada di tubuh. Jika terdapat molekul atom yang hilang atau rusak dari sel enzim di dalam tubuh, sel enzim dari makanan akan melepaskan jenis atom serupa dan menggantikan fungsinya.

Yang dimaksud dengan buah dan sayuran segar adalah buah dan sayuran yang tidak dimasak atau diproses (mentah). Hal ini disebabkan, enzim sangat peka terhadap suhu. Jika dimasak dengan suhu di atas 42° C, enzim akan rusak.

“Padahal,” Andang mengatakan, “makanan tanpa enzim akan diperlakukan oleh tubuh sebagai musuh. Untuk menghadapi musuh, tubuh membentuk pertahanan berupa “pasukan” sel darah putih. Beberapa penelitian telah menemukan, bahwa saat mengkonsumsi makanan tanpa enzim, sel-sel darah putih dalam tubuh meningkat. Jika terbentuk terus menerus, jumlahnya bisa melebihi normal (menyebabkan leukositosis) dan berbalik menyerang sistem pertahanan tubuh itu sendiri.”

Karena makanan yang kita konsumsi tidak semuanya berupa makanan segar, makanan tanpa enzim akan memaksa tubuh menggunakan enzim yang ada. Tujuannya supaya makanan tersebut dapat dicerna dengan baik. “Terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang enzimnya sudah rusak juga membuat organ pembuat enzim bekerja lebih keras. Beban organ pembuat enzim menjadi berlebihan. Dan ini dapat menyebabkan kelelahan dan peradangan, terutama pada pankreas,” lanjut Andang.

Kerja organ yang berlebihan juga terjadi jika kita makan dengan terburu-buru apalagi dalam jumlah yang berlebihan. Menurut Dr Ari, setiap makanan yang kita suapkan ke dalam mulut, sebaiknya dikunyah paling sedikit 32 kali sebelum ditelan. “Tujuannya supaya proses pencernaan makanan sudah terjadi di dalam mulut. Sehingga ketika disalurkan ke lambung dan usus, zat-zat makanan yang berada di dalamnya sudah terurai dan siap diserap oleh tubuh,” tutur Dr Ari.

Rentan kekurangan

Saat kita makan tergesa-gesa, makanan belum cukup halus dan kelenjar liur belum mencerna dengan baik. Lambung, usus, dan pankreas pun mendapat limpahan tugas dari mulut, dan bekerja lebih berat karenanya. “Penderitaan” organ pencernaan tersebut menjadi lebih parah jika makanan yang kita konsumsi jumlahnya melebihi kapasitas lambung.

Kemajuan zaman juga membawa perubahan pola makan dan gaya hidup. “Saat ini, tanpa disadari banyak orang yang makan dengan terburu-buru karena padatnya aktivitas,” tutur Dr Ari. Ritme kerja yang menuntut serba cepat dan perkembangan tren juga sering menjadikan fast food dan makanan yang sudah diproses menjadi pilihan karena lebih praktis. Pola makan tersebut membuat tubuh rentan kekurangan enzim.

Kenali gejala

Sayangnya, kekurangan enzim sering tidak disadari. “Banyak orang mengira itu gangguan maag karena gejalanya memang hampir sama. Penderitanya antara lain merasa kembung, mual, dan timbul gas yang berlebihan di perut sehingga sering bersendawa atau buang angin,” demikian penjelasan Dr Ari.

Pada beberapa kasus, gejala kekurangan enzim bisa berupa nyeri perut dan diare. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Simadibrata M. dkk di RSCM pada tahun 2002, ditemukan bahwa sebagian besar kasus diare kronik non-infeksi disebabkan oleh gangguan pencernaan (sebanyak 62,6 persen). “Penyebab utama gangguan pencernaan tersebut adalah kekurangan enzim,” tutur Dr Ari.

Membedakan gejala gangguan enzim dengan maag, sebenarnya cukup mudah. Amati saja kapan gejala itu timbul. “Gejala kekurangan enzim biasanya timbul beberapa saat setelah makan, dan tidak hilang meskipun sudah diberi obat maag,” kata Dr Ari.

Untuk memastikan diagnosanya memang perlu bantuan dokter. Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan, antara lain makanan apa yang sering dikonsumsi, kapan gejala itu timbul, seperti apa keluhan yang dialami, dan lain sebagainya. Selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan menekan bagian perut, untuk mengetahui seberapa banyak pembentukan gas di dalam perut. Jika perlu, dokter akan menyarankan pemeriksaan laboratorium untuk memeriksa kadar enzim di dalam darah serta keadaan feses. “Kekurangan enzim umumnya ditandai dengan adanya lemak, protein, atau karbohidrat di dalam feses,” lanjut Dr Ari.

Cukupi sedini mungkin

Kekurangan enzim ini sebaiknya segera ditangani. Jika tubuh kekurangan enzim, maka makanan yang kita konsumsi tidak bisa terurai dengan baik. “Ditemukannya karbohidrat, protein, atau lemak di dalam feses merupakan tanda terjadinya gangguan pencernaan dan penyerapan makanan. Gangguan penyerapan ini dapat menyebabkan kekurangan gizi yang menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh,” Dr Ari menjelaskan.

Lebih lanjut Andang menjelaskan bahwa zat-zat makanan yang tidak terurai sempurna akan menumpuk di usus besar. Lama-kelamaan sisa zat makanan tersebut akan membusuk, dan menjadi tempat yang subur bagi berkembangnya bakteri, jamur, dan virus. Tumpukan sisa makanan juga dapat menjadi zat yang bersifat racun.

Dalam jumlah tertentu, selain melumpuhkan sistem kekebalan, zat-zat tersebut mengganggu sistem kerja organ-organ di dalam tubuh. Kerja organ yang tidak optimal akan mengundang datangnya berbagai macam penyakit. Mulai dari alergi yang berupa gangguan kulit, sakit kepala, insomnia, gangguan menstruasi, radang usus buntu, jantung koroner, kanker, dan gangguan emosi.

Oleh sebab itu, dianjurkan untuk memperbanyak sayur dan buah-buahan segar, mengurangi konsumsi daging merah dan makanan berlemak, mengunyah makanan hingga lembut, serta makan dalam porsi yang cukup.

“Bahkan bila perlu, kita juga bisa menambahkan suplemen enzim untuk mengimbangi makanan yang kita konsumsi setiap hari,” Andang menganjurkan. Tidak perlu menunggu timbul gejala seperti Brad untuk memulai. Segera perbaiki pola makan dan konsumsi suplemen enzim, sehingga tubuh kita mempunyai persediaan enzim yang lebih banyak. Dengan begitu, kita akan tetap sehat, awet muda, dan… panjang umur!

Majalah Nirmala / cybermed.cbn.net.id

%d bloggers like this: