Faedah dari Kisah Budak Wanita Pengembala

Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Dari Muawiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallah ‘anhu, dia berkata:

“Dulu budak wanitaku menggembalakan kambing-kambingku di wilayah Uhud dan Juwaniah. Suatu hari dia kembali dalam keadaan serigala telah membawa lari seekor kambing gembalaannya. Aku adalah seorang dari anak-anak Adam yang marah sebagaimana mereka marah. Aku sungguh-sungguh memukul dan mencacinya. Maka aku datangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, perkara tersebut terasa besar bagiku.

Aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku bebaskan dia?’ Rasulullah berkata, ‘Bawa dia ke hadapanku’. Rasulullah kemudian bertanya kepada budak perempuan tersebut, ‘Dimana Allah?’ Dia menjawab, ‘Allah di langit’. Beliau juga bertanya, ‘Siapa aku?’ Budak itu menjawab, ‘Engkau Rasulullah’. Rasulullah bersabda, ‘Bebaskan dia, karena dia adalah seorang wanita yang beriman’.”(HR. Muslim dan Abu Daud).

Faedah-faedah Hadits

1. Para sahabat senantiasa mengembalikan setiap permasalahan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meski perkara tersebut kecil agar mereka mengetahui hukum Allah dalam permasalahan tersebut.

2. Berhukum kepada Allah dan Rasul, sebagai pengamalan firman Allah ta’ala,

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (Surat An-Nisa: 65).

3. Pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas perbuatan sahabat memukul budak wanita, dan perkara ini dianggap besar oleh beliau.

4. Pembebasan itu bagi budak yang mu’min bukan yang kafir, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengujinya. Ketika beliau mengetahui keimanannya, maka beliau memerintahkan untuk membebaskannya. Apabila dia kafir, beliau tidak akan memerintahkan untuk membebaskannya.

5. Wajibnya bertanya tentang tauhid, termasuk tentang ketinggian Allah di atas Arsy-Nya. Mengetahui perkara ini adalah wajib.

6. Disyariatkannya bertanya dimana Allah. Ini adalah sunnah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menanyakannya.

7. Disyariatkannya menjawab bahwa Allah di langit (maksudnya di atas langit), karena taqrir (persetujuan-pent.) Rasulullah ‘alaihi shalatu wasallam terhadap jawaban budak wanita tersebut serta cocoknya jawaban itu dengan Al-Qur’an, dimana Allah ta’ala berfirman,

“Apakah kamu merasa aman terhadap Yang di langit, bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu”(Al-Mulk: 16).
Ibnu ‘Abbas berkata tentang ayat ini, “Dia (Yang di langit – pent.) adalah Allah”. Dan makna di langit adalah di atas langit.

8. Benarnya iman itu dengan syahadat tentang kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

9. Berkeyakinan bahwa Allah berada di langit merupakan bukti benarnya keimanan, dan ini adalah perkara yang wajib bagi setiap mu’min.

10. Bantahan terhadap kesalahan orang yang mengatakan bahwa Allah ada di semua tempat dengan Dzat-Nya, dan yang benar bahwa Allah bersama kita dengan ilmu-Nya tidak dengan Dzat-Nya.

11. Permintaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menghadirkan budak perempuan tersebut dalam rangka mengujinya, membuktikan bahwa Rasulullah tidaklah mengetahui perkara gaib, yaitu keimanan budak perempuan itu. Ini merupakan bantahan terhadap kaum shufi yang mengatakan bahwa Rasulullah mengetahui perkara yang gaib.

Diterjemahkan dari Kaifa Nurabbi Auladana
Ulamasunnah.wordpress.com

Advertisements
%d bloggers like this: