Alzheimer

Pengertian

Penyakit Alzheimer adalah salah satu bentuk kepikunan akibat degenerasi otak yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk berpikir, daya ingat, dan fungsi berbahasa. Penderita alzheimer, akan kehilangan ingatan secara bertahap, mengalami disorientasi dan perubahan kepribadian. Hal tersebut membuat pasien kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Nama penyakit Alzheimer berasal dari nama Dr.Alois Alzheimer, dokter berkebangsaan Jerman yang pertama kali menemukan penyakit ini pada tahun 1906. Dr. Alzheimer memperhatikan adanya perubahan jaringan otak pada wanita yang meninggal akibat gangguan mental yang belum pernah ditemui sebelumnya. Pada jaringan otak tersebut ditemukan lapisan atau plaque dan serabut saraf yang tidak normal.

Penyakit Alzheimer sukar dideteksi sebab banyak yang beranggapan orang tua yang semula lupa, adalah sesuatu yang lazim karena faktor usia. Padahal itu mungkin tanda-tanda awal seseorang itu mengidap penyakit Alzheimer.

Publikasi mengenai penyakit Alzheimer masih rendah dan banyak orang tidak mengetahui tentang penyakit inisampai dipublikasikan secara terbuka sendiri oleh bekas Presiden Amerika Serikat yang ke-40, Ronald Reagan dalam suratnya tertanggal 5 November 1994. Karena Ronald Reagan adalah salah satu penderita Alzheimer. Setelah didiagnosis menderita penyakit itu hingga kematiannya, Reagan tidak bisa mengenali istrinya sendiri, Nancy.

Diagnosa

Alzheimer dapat diketahui dari beberapa diagnosa berikut ini:

  • Didapatkan gangguan defisit fungsi kognisi > 2
  • Tidak ada gangguan tingkat kesadaran
  • Tidak ada kelainan sistematik atau penyakit otak lainnya
  • ADL terganggu dan perubahan pola tingkah laku
  • Pada gambaran EEG memberikan gambaran normal atau perubahan non spesifik seperti peningkatan aktivitas gelombang lambat
  • Pada pemeriksaan CT Scan didapatkan atropu serebri

Penyakit Alzheimer sangat sukar di diagnosa hanya berasarkan gejala-gejala klinik tanpa dikonfirmasikan pemeriksaan lainnya seperti neuropatologi, neuropsikologis, MRI, SPECT, PET. Sampai saat ini penyebab yang pasti belum diketahui, tetapi faktor genetik sangat menentukan (riwayat keluarga), sedangkan faktor lingkungan hanya sebagai pencetus ekspresi genetik.

Penyebab

Penyakit Alzheimer adalah penyakit genetika, tetapi peran faktor lingkungan(non-genetika) juga ikut terlibat, dimana faktor lingkungan hanya sebagai pencetus faktor genetika.

Ada berbagai faktor yang menjadi penyebab munculnya Alzheimer ini, seperti

Kematian sel otak, kelainan genetik (seperti neurotransmiter, defisit formasi sel-sel filament, presdiposisi heriditer), dan kondisi luar (seperti intoksikasi logam, gangguan fungsi imunitas, infeksi virus, polusi udara/industri, trauma pada kepala yang dialami oleh “petinju”). Misalnya,banyak konsumsi makanan atau minuman yang mengandung logam berat.

Umumnya, penderita Alzheimer berusia di atas 60 tahun. Namun tidak menutup kemungkinan penderita bisa dari berusia di bawah 60 tahun. Penyakit Alzheimer tidak menular namun dapat diturunkan. Jika orangtua memiliki riwayat Alzheimer, risiko menurun pada anaknya cukup besar.

Orang-Orang yang beresiko menderita penyakit Alzheimer adalah orang yang hipertensi yang sudah berusia 40 tahun ke atas, kencing manis atau diabetes, kurang olahraga, tingkat kolesterol tinggi, dan faktor keturunan yang mempunyai keluarga pengidap penyakit ini pada usia 50-an.

Gejala

Alzheimer dapat digolongkan menjadi 3 gejala. Gejala ringan seperti lebih sering bingung dan melupakan informasi yang baru dipelajari ( contoh : lupa meletakkan kunci mobil, lupa nomor telepon atau dosis obat yang biasa dimakan ), tersesat di daerah sekitar yang dikenalnya dengan baik, bermasalah dalam melaksanakan tugas rutin ( contoh : tidak tahu membeli barang ke kedai ), mengalami perubahan dalam kepribadian dan penilaian.

Untuk gejala menengah, penderita kesulitan dalam mengerjakan aktivitas hidup sehari-hari ( contoh : makan, mandi, lupa mencampurkan gula dalam minuman, garam dalam masakan ), cemas, curiga, mengalami gangguan tidur, kesulitan mengenali keluarga dan teman

Sedangkan untuk gejala serius atau akut, penderita sulit atau kehilangan kemampuan berbicara, tidak bisa mengurus diri sendiri ( seperti : tidak mau makan yang mengakibatkan menurunnya berat badan, tidak mampu mengontrol buang air kecil atau BAB), keliru dengan keadaan sekitar rumah dan sangat tergantung pada pengasuh.

Untuk dapat menilai suatu penyakit termasuk penyakit Alzheimer, maka seluruh gejala penyakit ini harus terpenuhi pada penyakit tersebut. Jika hanya sekedar mirip atau ada sedikit kesamaan maka belum dapat dikatakan bahwa penyakit tersebut adalah benar-benar penyakit Alzheimer.

Pada penyakit Alzheimer, lupa yang terjadi benar-benar berhubungan dengan kerusakan pada sistem syaraf otak. Sementara pada amnesia dan delirium, yang terjadi adalah lebih disebabkan karena faktor psikologis, seperti kognitif fisik, ketakutan atau kecemasan yang berlebihan. Namun yang perlu digaris bawahi adalah: baik kognitif fisik, ketakutan/kecemasan yang berlebihan tidak selalu menyebabkan amnesia.

Secara kasat mata, mungkin Alzheimer dan Amnesia nampak sama, namun jika diperhatikan dengan detail maka gejalanya akan nampak berbeda. Yang membedakan secara jelas, adalah: pada Alzheimer, kemunduran fungsi kognitif atau ingatan berlangsung perlahan-lahan semakin memburuk, dan hingga saat ini belum dapat disembuhkan; sementara pada amnesia, ingatan yang ada dapat hilang dalam waktu singkat dan sangat drastis, melupakan masa lalu atau masa sebelum dia mengalami kecelakaan (tidak bertahap), masih dapat disembuhkan.

Pencegahan

Untuk menghindari penyakit ini, berikut adalah tips-tipsnya :

  1. Bergaya hidup sehat, misalnya dengan rutin berolahraga, tidak merokok maupun mengkonsumsi alkohol.
  2. Mengkonsumsi sayur dan buah segar. Hal ini penting karena sayur dan buah segar mengandung antioksidan yang berfungsi untuk mengikat radikal bebas. Radikal bebas ini yang merusak sel-sel tubuh.
  3. Menjaga kebugaran mental atau latihan otak. Cara menjaga kebugaran mental adalah dengan tetap aktif membaca dan memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan.
  4. Jika perlu bermeditasi
  5. Konsumsi nutrien spesifik untuk otak.

Pengobatan

Penanganan terhadap penyakit Alzheimer dapat dilakukan melalui 2 pendekatan: dengan obat-obatan atau tanpa menggunakan obat-obatan. Satu-satunya obat yang dapat digunakan adalah obat-obat yang mengandung acetylcholinestrase (AchE) inhibitor seperti: tacrine, donepezil HCL, rivastigmine, dan galantamine. Obat-obatan yang saat ini dipergunakan di dunia medis adalah donepezil, rivastagmine dan galantamine. Obat-obatan ini berusaha untuk memperbaiki kadar neurotransmiter otak dan memperbaiki fungsi berpikir dan kontrol perilaku. Namun, Pemakaian obat-obatan ini harus merujuk pada anjuran yang dikemukan oleh dokter atau psikiater. Karena pemakaian obat-obatan ini ditentukan oleh dosis, dan waktu pemberian, serta memiliki efek samping.

Penanganan terhadap penyakit Alzheimer tanpa menggunakan obat-obatan, tujuan dari pendekatan ini adalah untuk mengatur tingkah laku dan gejala kognitif pasien. Tujuan sekunder dari pendekatan ini adalah untuk mengurangi beban caregiver (pengasuh atau perawat, biasanya dari pihak keluarga pasien). Penanganan ini sangat bermanfaat ketika pengobatan tidak dapat dilakukan karena pasien tidak mampu mentoleransi efek samping pengobatan atau tidak menyetujui atau mengikuti instruksi pengobatan, atau membantah pengobatan. Pendekatan ini dilakukan dengan menggunakan terapi, seperti: terapi behavioral management techniques, the pleasant event schedule (PES), music therapy, strategi/ modifikasi lingkungan, animal assisted therapy, morning bright light therapy, ECT. Melalui pendekatan ini, penderita Alzheimer menjadi lebih mengenal, dan lebih siap menghadapi penyakitnya, serta lebih dapat me-manage dirinya sendiri

Berikut ini kesaksian yang saya kutip dari Ampuhnya_Musik_Sebagai_Terapi:

Contoh tentang kehebatan musik tampak pada seorang pasien Alzheimer yang sudah tak ada harapan di pusat rehabilitasi New Yorker Beth Abraham. “Pasien ini menderita parkinson hebat, tubuhnya gemetar seperti orang kedinginan. Walau demikian, dia masih berusaha untuk bermain piano. Dia memainkan lagu-lagu dari komponis favoritnya, yakni Frederic Chopin. Kalau sudah demikian, dia bisa duduk berjam-jam di depan piano dan lupa akan penyakitnya. Rupanya, saat dia bermain dan terbuai oleh lagunya itu, tubuhnya bereaksi,” ujar Concetta Tomaino, direktur program terapi musik pada rumah sakit Beth Abraham.

Berdasarkan pengamatan di kliniknya, Concetta Tomaino melihat musik mampu “menggali” ingatan pasien-pasiennya. “Saya pernah mencobanya pada pasien alzheimer yang kemampuan berpikirnya hampir hilang sama sekali. Ketika saya memainkan musik yang dia kenal sewaktu mudanya, tiba-tiba dia jadi ingat akan tempat dan orang-orang yang pernah dia kenal.”

infohidupsehat.com

Advertisements
%d bloggers like this: