Lempeng Petunjuk Pemupukan

Oleh trubusid

Akom Kartim berjalan di atas pematang. Petani di Desa Cariumulya, Kecamatan Telagasari, Kabupaten Karawang, itu mengarahkan pandangan ke segenap penjuru sawah seluas 1 ha. Ia mendekati sekelompok tanaman. Setelah mengamati sejenak, Kartim yakin benar, padi berumur 26 hari itu kekurangan nitrogen.

Keyakinan Kartim muncul setelah ia mencocokkan warna daun padi dengan sebuah lempeng tipis yang disebut bagan warna daun (BWD). Tebalnya hanya 3 mm. Panjang lempeng itu 15 cm; lebar 8 cm. Lempeng berbahan baku plastik itu terdiri atas 4 warna dengan batas tegas yang merupakan gradasi warna hijau. Dari hijau muda hingga hijau tua. Semua warna di lempengan menunjukkan tanaman kekurangan unsur nitrogen.

Jika warna daun padi sama dengan salah satu warna di lempengan, artinya tanaman perlu dipupuk. Lempengan itu juga dilengkapi dengan dosis anjuran. Oleh karena itu Kartim tinggal melihat dosis anjuran setelah mencocokkan warna daun dengan warna lempengan. Dengan begitu pemupukan pun lebih efektif.

Dosis tepat

Petani berusia 45 tahun itu, biasanya 2 kali memupuk ketika padi berumur 14 hari dan 30-35 hari setelah tanam. Sebelum menebar pupuk, Kartim mengambil sampel daun secara acak dari tanaman subur hingga paling tidak subur. Ia lalu mencocokkan warna-warna daun itu dengan bagan warna daun, dan dosis pun diketahui.

Sejak menggunakan alat itu pada 2006, Kartim mampu menghemat 25% penggunaan pupuk. Sekarang ia rata-rata menebar 75 kg Urea-sumber nitrogen-pada pemupukan pertama dan 75 kg pada pemupukan kedua. Bandingkan ketika belum menggunakan bagan warna daun, Kartim menghabiskan total 200 kg Urea. Artinya, ia menghemat 50 kg Urea senilai Rp65.000.

Toh, meski jumlah pupuk berkurang, produksi padi tetap 5 ton per ha. Produksi itu relatif sama dengan sebelumnya. Menurut Dr Ir Kasdi Subagiono MSc, ahli tanah sekaligus kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat, banyak pupuk yang terbuang akibat penguapan dan hanyut terbawa air. Itu mengakibatkan biaya produksi tinggi, tetapi tak mengatrol produktivitas. Sebab, tanaman tak optimal menyerap pupuk. Oleh karena itu idealnya petani memupuk dengan dosis tepat.

Namun, petani padi kerap terjebak pada istilah pemupukan berimbang. Mereka menerjemahkan berimbang itu dengan pupuk lengkap dan beragam. Padahal, berimbang itu pemupukan sesuai kebutuhan tanaman. ‘Pemupukan dengan Urea sebanyak-banyaknya tidak serta-merta meningkatkan hasil,’ ujar Kasdi. Begitu juga bila pemupukan kurang, produksi padi anjlok.

Sebab, kekurangan unsur nitrogen menyebabkan padi tumbuh kerdil. Nitrogen bahan pembentuk protein. Menurut Ir Yos Sutiyoso ahli budidaya tanaman di Jakarta, jika ketersediaan nitrogen minim, maka sel pembentuk organ tanaman pun tak terbentuk. Selain itu kekurangan nitrogen menyebabkan tanaman pucat akibat minimnya zat hijau daun alias klorosis. Pigmen lain seperti xantofil dan antosianin juga pudar. Sebaliknya, kelebihan nitrogen berdampak buruk bagi padi lantaran memicu sel raksasa.

Sel raksasa itu diibaratkan sebuah balon. Ketika kita terus meniupnya, dinding sel menipis meski tanaman tampak membesar. Akibat dinding sel tipis, tanaman mudah sakit terinfeksi cendawan dan perubahan cuaca. Itu karena jumlah klorofil pada setiap sel tanaman terbatas sehingga proses fotosintesis berantakan. Jika begitu produksi padi pun anjlok.

Murah meriah

Menurut Mahyudin Syam periset International Rice Research Institute (IRRI) bagan warna daun membantu petani mengidentifikasi kebutuhan pupuk pada padi. Penggunaan bagan ketika fase vegetatif atau fase anakan aktif-umur 21-28 hari-dan primordia; 35-50 hari. Petani menggunakan bagan itu untuk mengecek kondisi tanaman, terutama pada umur 21 hari hingga 35 hari. Pengecekan setiap 7-10 hari.

Alat sederhana itu buatan IRRI. Sebelum dirilis pada 2000, petani memanfaatkan klorofilmeter untuk mengetahui kondisi tanaman. Klorofil merupakan bagian tanaman yang berfungsi melakukan fotosintesis. Untuk mengetahui kandungan klorofil, daun dijepitkan pada bagian ujung alat yang berfungsi mengeluarkan gelombang cahaya. Apabila nilai yang tertera di alat itu di bawah 35, artinya tanaman membutuhkan tambahan nitrogen.

Alat mutakhir asal Jepang itu memang lebih akurat. Sayang, harganya relatif mahal, Rp1-juta per unit. Sedangkan harga bagan warna daun yang dapat dimanfaatkan puluhan tahun hanya Rp10.000 per unit. Meski murah, bagan warna daun terbukti membantu petani saat menentukan dosis pupuk. (Niken Anggrek Wulan)

Trubus-online.com

Advertisements
%d bloggers like this: