Kelemahan Hadits 20 Raka’at

Oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Dalam kitab Fathul Baari IV:205-206, pada keterangan hadits pertama, Ibnu Hajar mengatakan : “Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Abbas, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat (malam) di bulan Ramadhan 20 raka’at dan beriwitir satu raka’at itu, sanadnya lemah. Hadits ini bertentangan dengan hadits ‘Aisyah yang terdapat dalam shahihain. Dalam hal ini ‘Aisyah lebih mengetahui hal ihwal Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada malam harinya bila dibandingkan dengan yang lain”.

Pernyataan yang sama juga diungkapkan oleh Imam Az-Zaila’i dalam kitab Nashbur-Raayah : II :153.

Penulis berpendapat : Hadits ini memang lemah sekali, seperti yang dinyatakan Imam Suyuthi dalam Al-Hawi lil Fatawaa II:73 yang menyebabkan kelemahannya adalah rawi yang bernama ABU SYAIBAH IBRAHIM BIN ‘UTSMAN.

Dalam kitab At-Taqriib Ibnu Hajar menyebut rawi ini sebagai Matrukul Hadits. Penulis telah menelusuri sumber-sumbernya tetapi tidak didapati kecuali melalui jalannya. Ibnu Abi Syaibah mengeluarkan hadits ini dalam Al-Mushannaf II:90/2, Abdun bin Hamid dalam Al-Muntakhab Minal Musnad 34:I/1, Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir III:148 dan Al-Aushath, begitu pula Adz-Dzahabi dalam Al-Muntaqa Minhu III:2 dan Baihaqi dalam Sunannya II:496.

Semua riwayat ini pasti melalui jalan Ibrahim bin ‘Utsman dari Hakim dari Muqsam dari Ibnu Abbas secara marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Thabrani mengatakan bahwa tidak diriwayatkan dari Ibnu Abbas kecuali dengan sanad ini. Baihaqi menegaskan bahwa Abi Syaibah bersendirian (tafarada bihi) dan ia ini lemah. Begitu pula pernyataan Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaid III:172 bahwa dia itu lemah.

Yang sebenarnya ia itu sangat lemah sekali, bahkan Ibnu Hajar mengatakan bahwa ia Matrukul Hadits (ditinggalkan haditsnya), maksudnya haditsnya tidak dipakai.

Ibnu Ma’in menyebutnya Laisa bits-tsiqah = tidak termasuk orang kepercayaan. Jurjani menyebutnya “saaqit” = yang gugur, sedangkan Syu’bah mendustakannya dalam suatu cerita/qishah. Bukhari berkata : Sakatu’anhu (Ulama Hadits mendiamkannya).

Pada halaman 118 kitab Ikhtisar fi ‘Ulumul Hadits, Ibnu Katsir mengatakan : Bahwa siapa saja yang dikatakan Bukhari “Sakatu’anhu” berarti rawi itu berada dikedudukan yang paling rendah dan jelek (menurut pandangannya).

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas penulis beranggapan bahwa haditsnya dapat disejajarkan dengan Hadits Maudlu’, karena isinya bertentangan dengan hadits ‘Aisyah dan Jabir, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Hajar ‘Asqalani dan Zaila’i di atas, dan lebih dari itu Imam Adz-Dzahabi memasukkan hadits ini dalam kitab Manakirnya (kumpulan hadits-hadits Munkar).

Selanjutnya Ibnu Hajar Al-Haitsami dalam kitab “Al-Fatawal Kubra” I:195 menyebut rawi ini Syadidud-dha’fi yaitu sangat lemah sekali, dan bahwasanya ia biasa meriwayatkan hadits-hadits maudlu’, seperti tentang tidak dibinasakannya ummat kecuali pada bulan Maret atau hadits hari Kiamat tidak akan datang kecuali pada bulan Maret dan lain sebagainya. Adapun haditsnya di tentang shalat Tarawih ini termasuk salah satu hadits Munkarnya.

Jadi jelas hadits ini tidak dapat dipakai karena seperti yang dikatakan As-Subki bahwa salah satu syarat bolehnya mengamalkan hadits lemah itu ialah apabila hadits itu tidak terlalu lemah, sedangkan hadits ini seperti dimaklumi adalah sangat lemah.

Dari ucapan As-Subki terdapat isyarat halus bahwa Ibnu Hajar Haitsami tidak akan mengamalkan hadits dua puluh raka’at tersebut.

Imam Suyuthi, setelah menyebutkan hadits riwayat Ibnu Hiban beliau berkata : “Singkatnya dua puluh raka’at itu, tidak pernah dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adapun hadits riwayat Ibnu Hibban tersebut sudah sesuai dengan hadits ‘Aisyah yang menyebutkan bahwa beliau tidak pernah mengerjakan lebih dari 11 raka’at, baik dalam bulan Ramadhan atau lainnya, sebab dalam riwayat Ibnu Hibban tersebut diterangkan bahwa beliau shalat Tarawih delapan raka’at. Kemudian berwitir tiga raka’at, jadi jumlahnya sebelas raka’at”.

Indikasi lain yang menunjukkan Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengerjakan lebih dari sebelas raka’at adalah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (menurut kebiasaannya) apabila mengerjakan sesuatu amalan, maka ia kerjakan dengan tetap, seperti misalnya mengqadha’ dua raka’at ba’diyah Zhuhur setelah shalat Ashar, shalat ini beliau kerjakan dengan tetap, meskipun kejadiannya hanya sekali.

Jadi kalau memang benar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengerjakan 20 raka’at, tentu pekerjaan itu tidak akan beliau tinggalkan sama sekali dan lebih dari itu ‘Aisyah radyiallahu ‘anha pun tidak akan berani membuat pernyataan yang membatas bahwa beliau tidak pernah mengerjakan lebih dari sebelas raka’at seperti disebutkan di atas”.

Berdasarkan ini penulis dapat menyimpulkan bahwa Imam Suyuthi cenderung memilih sebelas raka’at dan sekaligus menolak yang dua puluh raka’at karena kelemahan riwayatnya.

Dikutip dari buku Kelemahan Hadits Tarawih 20 Raka’at
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah
Penterjemah : Luthfie Abdullah Ismail

assunnah.co.id

Advertisements
%d bloggers like this: