Bagaimana Cara Menguatkan Iman?

Oleh: Asy Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin

Soal:

“Bagaimana seseorang mampu menjadikan imannya kuat padahal ia tidak terpengaruh oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya kecuali sedikit?”

Pertanyaan ini dijawab oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:

Ringkas kata, di sini nampak bahwa orang yang mengatakan perkataan ini beriman kepada hari akhir dan membenarkannya, padahal dalam hatinya ada sedikit sifat keras kepala. Pada zaman kita sekarang orang yang mempunyai sifat keras kepala seperti ini sangat banyak. Yang menjadi sebabnya adalah sikap menjauhkan diri dari memperhambakan dan merendahkan diri secara sempurna kepada Allah.

Sekiranya manusia mau memperhatikan Al-Qur’an dan merenungkannya, niscaya hatinya akan lembut dan khusyu’ karena Allah berfirman (yang artinya):

“Sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah di sebabkan takut kepada Allah…”(QS. Al-Hasyr (59): 21).

Di antara sebab-sebab manusia menjadi bersifat keras kepala adalah karena glamornya kehidupan dunia masa kini dan terfitnah oleh keglamoran ini serta banyaknya kesulitan-kesulitan hidup di dunia. Oleh karena itu, Anda menemukan orang-orang kecil yang tidak memiliki akses kepadanya, mereka justru menjadi orang yang khusyu’ dan lebih banyak menangis daripada orang-orang yang terpandang. Hal ini dapat kita saksikan dan kalian pun dapat menyaksikan orang seperti ini sekarang di lantai-lantai Masjidil Haram.

Anda dapat menemukan remaja-remaja berumur 18 tahun dan yang sebaya dengannya menangis ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang berisikan ancaman dan kabar gembira.

Tangis mereka labih keras daripada tangis orang-orang dewasa, karena hati mereka lebih lembut. Hal ini disebabkan mereka belum banyak tergantung kepada dunia dan belum pula terjepit oleh berbagai berbagai kesulitan yang besar atau yang kecil. Oleh karena itu, kita melihat mereka jauh lebih khusyu’ dan hatinya lebih lembut dari pada mereka yang memperoleh akses dunia dan mendapatkan kesempatan mengolah dunia, sehingga hati mereka galau dan pikiran mereka bercabang-cabang ke sana ke mari.

Maka dari itu, nasehat kepada saudara adalah hendaknya hatinya dan pikirannya terfokus pada agama saja, (memiliki)k einginan kuat untuk membaca Al-Qur’an dengan penuh renungan dan perlahan- lahan. Hendaknya ia juga berkemauan keras untuk menelaah hadits-hadits yang membuat kabar gembira dan ancaman agar hatinya menjadi lunak.

Maroji’:

Di jawab oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam kitab Majmu’ Duruus wa Fataawa Al-Haraam Al-Makii, juz 3, hal. 380.

Sumber: BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya
darussalaf

%d bloggers like this: